Indonesia Waspada HIV-AIDS
Tanggal: Thursday, 25 October 2012
Topik: HIV/AIDS


FAJAR, 24 Oktober 2012

JAKARTA--Indonesia tergolong dalam epidemi rendah dalam penyebaran HIV-AIDS. Meskipun rendah, namun Indonesia satu-satunya di regional ASEAN yang mengalami peningkatan prevalensi HIV-AIDS secara cepat.

Hal tersebut dapat terlihat dari penularan yang terjadi sejak pertama kali kasus AIDS ditemukan tahun 1987 sampai Juni 2012, kasus AIDS tersebar di 378 (76 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Wilayah pertama kali ditemukan adanya kasus AIDS ada Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adanya kasus AIDS adalah Sulawesi Barat (2011).

"Terjadi pergeseran cara penularan, lima sampai enam tahun lalu didominasi pengguna Jarum Suntik (penasun), kini hubungan seks menempati urutan pertama penularan HIV/AIDS," kata Menkes di Jakarta, Selasa, 23 Oktober. Menurut Menkes berdasarkan laporan Triwulan, 2012, faktor risiko penularan tertinggi kasus AIDS adalah melalui perilaku seks (heteroseksual) meningkat sebanyak 71 persen. Sedangkan pengguna napza suntik 18,7 persen, dan kemudian LSL 3,9 persen (Lelaki Seks Lelaki)

Sementara itu untuk kasus HIV, sejak tahun 2005 sampai Juni 2012, terdapat kasus HIV sebanyak 86,762 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV. Diketahui faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah karena hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (50 persen), sedangkan penggunaan jarum suntik tidak steril penasun (14 persen), dan LSL (Lelaki Seks Lelaki, 7 persen).

Pada umumnya kota-kota besar yang memiliki jumlah kasus tertinggi adalah DKI Jakarta (20.775), diikuti Jawa Timur (11.282), dan Papua (8.611) "Sekarang diantara pekerja seks yang melakukan seks bebas ini karena tidak mau menggunakan kondom. Setiap tempat pasti sudah ada yang berisiko. Ini yang membuat penyebaran HIV/AIDS di Indonesia sangat cepat," katanya.

Menurut Menkes, sekitar 6-8 juta laki-laki di seluruh Indonesia dengan sengaja membeli seks dan menolak menggunakan kondom. Maka itu, lanjut Menkes dalam upaya pencegahan pihaknya terus melakukan pencegahan baik melalui promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

"Sementara itu, peran tokoh agama perlu juga untuk mengatasi penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia dan di dunia. Salah satunya dengan memberikan pelayanan-pelayanan mengenai pendidikan kesehatan reproduksi," kata Menkes.

Dalam kesempatan yang sama, Executive Director UNAIDS, Michel Sidibe mengatakan pengendalian HIV/AIDS merupakan program yang cukup kompleks dan melibatkan berbagai bidang dan sektor, terkait dengan latar belakang penularan, upaya, pencegahan dan pengobatan.

Joint United Programme on HIV/AIDS atau UNAIDS, merupakan program bersama PBB dalam penanggulangan HIV/AIDS. Dalam mencegah epidemi HIV/AIDS menjadi wabah, UNAIDS maupun co-sponsornya memberikan, kontribusi sebesar 10 persen (USD 20 juta) selama lima tahun terakhir (2006-2010) dari dana international untuk merespon HIV di Indonesia.

"Dalam upaya pencegahan kami melihat sudah ada progres kemajuan yang sangat besar dalam 10 tahun belakangan ini. Sehingga saat ini sudah ada 8 juta orang yang positif, telah mendapatkan akses pengobatan," kata Sidibe.

Menurut dia ada tiga hal upaya UNAIDS dalam melakukan pencegahan HIV/AIDS yakni dengan merangkul orang-orang rentan terhadap inveksi ini.

Kemudian, pihaknya memberikan tes dengan gratis,"Sudah tidak melakukan tes darah. Pengobatan Cibifor ternyata lebih mudah dan tidak mahal. Kemudian memberikan obat yang murah di produksi di dalam negeri. Kemudian peraturan perundangan yang mempermudah akses pengobatan," katanya.(idr/fmc)





[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7006