PEMBERDAYAAN Pemerintah Gandeng Ulama Sosialisasikan HIV
Tanggal: Thursday, 25 October 2012
Topik: HIV/AIDS


Suara Karya, 25 Oktober 2012

JAKARTA: Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan angka penderita HIV-AIDS di Indonesia. Kali ini, pembekalan seputar HIV-AIDS akan disampaikan lewat jalur agama. Para tokoh agama diminta untuk menyisipkan materi HIV-AIDS dalam setiap ceramahnya.

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar usai penandatanganan naskah kerja sama Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Agama dan badan dunia untuk HIV-AIDS (UNAIDS), di Jakarta, Selasa (23/10) mengatakan, pihaknya menyambut serius ajakan Kemenkes untuk terlibat dalam eliminasi kasus HIV-AIDS di Indonesia.

"Selama ini, materi ceramah sulit tidak pernah menyinggung soal HIV-AIDS, karena para tokoh agama kita tidak faham soal penyakit tersebut. Padahal jika melihat faktor penyebab HIV-AIDS yang terkait gaya hidup, keterlibatan ulama ini sangatlah tepat," ujar Nasaruddin menegaskan.

Ditambahkan, keterlibatan para tokoh agama sangat penting, untuk mengajak umat agar menjauhi perilaku berisiko agar tidak tertular HIV-AIDS. S

elain itu, para tokoh agama juga diminta memberi tahu umat, agar tidak memberi stigma yang berlebihan terhadap penderita HIV-AIDS.

"Bicara soal seks di kalangan masyarakat Indonesia agak sensitif. Seks ditanggapi sebagai birahi. Sehingga konotasinya jadi negatif. Padahal lewat pendidikan seks yang benar, anak bisa belajar mana yang baik mana yang tidak baik. Yang ada sekarang anak belajar lewat internet," ujarnya.

Menkes Nafsiah Mboi menjelaskan, dilibatkannya tokoh agama soal HIV-AIDS karena fakta menunjukkan faktor penularan HIV-AIDS terbanyak akibat hubungan seks yang tidak aman. Jumlahnya mencapai 71 persen dari total penularan HIV di Indonesia.

"Mengadaptasi pendidikan reproduksi di masyarakat Indonesia hingga saat bukan perkara mudah. Ketika saya melemparkan wacana kampanye penggunaan kondom di kelompok berisiko, langsung menimbulkan kontra di masyarakat," tuturnya.

Padahal, lanjut Nafsiah, ada sekitar 8 juta orang Indonesia yang berperilaku berisiko, baik karena berkunjung ke prostitusi atau terkena virus dari pasangannya yang tidak setia.

"Negara seperti Filipina, Thailand, China dan Myanmar, berhasil menurunkan prevalensi HIV-nya, karena kewajiban memakai kondom pada setiap hubungan berisiko. Di Indonesia belum bisa seperti itu," ucap Nafsiah yang pada saat itu didampingi Executive Director UNAIDS, Michel Sidibe.

Nafsiah memaparkan kasus HIV-AIDS di Indonesia yang terus meningkat sejak tahun 1987 ketika kasus HIV pertama kali ditemukan di Bali. Hingga Juni 2012, kasus AIDS sudah ada di 378 kabupaten atau 76 persen dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.

"Terjadi pergeseran cara penularan, lima sampai enam tahun lalu masih didominasi oleh pengguna jarum suntik. Saat ini, hubungan seks menempati urutan pertama penularan HIV/AIDS. Karena itu pentingnya tokoh agama dilibatkan untuk menekan kasus ini agar tidak terus meningkat," kata Menkes Nafsiah Mboi.

Ditambahkan, faktor risiko penularan tertinggi kasus AIDS adalah melalui perilaku seks (heteroseksual) meningkat sebanyak 71 persen. Sedangkan pengguna napza suntik 18,7 persen, dan kemudian LSL 3,9 persen (Lelaki Seks Lelaki). (Tri Wahyuni)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7010