Data HIV/AIDS Jawa Barat Belum Akurat
Tanggal: Thursday, 25 October 2012
Topik: HIV/AIDS


PRLM, 25 Oktober 2012

NGAMPRAH - Data penderita HIV/AIDS di Jawa Barat masih belum akurat. Hal itu tercermin pada perbedaan data yang dimiliki Dinas Kesehatan Prov Jabar dengan Komisi Penaggulangan AIDS Jabar hingga akhir Juni 2012. Dinkes Jabar menyebutkan terdapat 4.646 pengidap HIV dan 9.548 yang telah divonis menderita AIDS. Sedangkan data yang dimiliki KPA Jabar 10.385 terindikasi HIV/AIDS.

Perbedaan tersebut menurut Arry Lesmana Putra, Sekretaris Harian KPA Jabar dikarenakan perbedaan metodologi perhitungan orang yang terindikasi menghidap HIV/AIDS.

“KPA berpedoman kepada data yang dimiliki Kementerian Kesehatan RI, yang melakukan pendataan berdasarkan pelaporan surveyland aids dan test konseling sukarela,” kata Arry yang ditemui usai menjadi pembicara dalam acara Seminar Orientasi Pencegahan dan Penaggulangan HIV/AIDS di Kantor Pemkab Bandung Barat, Rabu (24/10). surveyland aids merupakan metode data yang diambil dari 22 Rumah Sakit yang ada di Jabar, sedangkan test konseling sukarela diperoleh dari 56 layanan kesehatan seperi klinik, puskesmas juga rumah sakit.

Data Dinkes Provinsi hanya merujuk pada rumah sakit-rumah sakit yang ada di tiap kabupaten/kota sehingga jumlahnya menurut Arry mengalami pembengkakan hingga 2000 orang. “Bisa saja pasien tersebut berobat di salah satu ruamh sakit kemudian pindah ke rumah sakit lain,” kata dia.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Jawa Barat Yuzar I.B. Ismoetoto tidak mempersoalkan perbedaan jumlah tersebut. Menurutnya penanganan pasien secara intensif dan berkala jauh lebih penting bila dibandingkan merinci jumlah pengidap HIV/AIDS. “Kemungkinan lain, bisa saja orang tersebut tidak mau mengungkapkan penyakit yang dideritanya,” tuturnya.

Meski begitu KPA maupun Dinkes memiliki kesamaan data terkait jumlah pengidap HIV/AIDS yang didominasi oleh kaum pria yang mencapai 74-76 %. Penggunaan Jarum suntik masih menjadi penyebab utama penularan HIV/AIDS di Jabar. “Sedangkan di Papua hubungan seksual merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang menghidap HIV AIDS, dengan perbandingan antara laki-laki dan perempuan hampir sama,” ujarnya.

Bila tidak melakukan pencegahan jumlah wanita di Jabar yang menghidap HIV/AIDS bisa menyamai lak-laki. Hal itu terjadi karena laki-laki pengidap HIV/AIDS melakukan hubungan sex dengan wanita yang tidak mengidap penyakit tersebut. “untuk mencegahnya sebelum melangsungkan pernikahan calon pasangan suami-isteri harus mau melakukan test kesehatan seperti pemeriksaan terhadap darah dan risiko terhidap penyakit HIV/AIDS,” kata Yuzar.

Sementara itu rumah sakit umum di Jawa Barat masih enggan membuka layanan terkait masalah HIV/AIDS. Pasien di daerah masihharus di rujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. “Padahal bila manajemen rumah sakit di daerah mau, mereka sudah bisa memberikan pelayanan tersebut,karena segala obat dan peralatannya sudah di biayai dari APBN,” kata Nirmala Kusumah Kepala Klinik teratai RSHS Bandung. Dia khawatir bila pasien dari daerah terus bertambah pelayanan di RSHS kurang optimal.

Terkait perbedaan data pengidap HIV/AIDS, Nirmala membenarkan masalah tersebut. Dia mencontohkan data dari Dinas Kesehatan Kab. Bandung Barat hanya menyebutkan 22 orang warga KBB yang terinfeksi penyakit tersebut. Sedangkan berdasarkan pemeriksaan di Klinik Teratai sudah ada 44 orang warga KBB yang dinyatakan positif HIV/AIDS. “Diperkirakan jumlahnya lebih dari 44 orang karena bisa jadi mereka melakukan pemeriksaan di luar Klinik Teratai,” ujar dia. (A-205/A-26)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7012