Perilaku Seksual Remaja Kian Mengkhawatirkan
Tanggal: Monday, 05 November 2012
Topik: Narkoba


Suara Karya, 05 November 2012

Perilaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja cenderung meningkat. Berbagai penelitian mengungkap betapa kian mengkhawatirkannya fenomena perilaku seksual remaja Indonesia ini.

Penelitian Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2007 lalu menemukan, perilaku seks bebas bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan remaja Indonesia. Satu persen remaja perempuan dan enam persen remaja pria mengaku telah menjalani perilaku seks bebas. Ditelusuri lebih jauh lagi, remaja yang mengetahui teman mereka melakukan seks bebas di luar nikah jumlahnya sangat besar, mencapai 26 persen.

Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (KSPK BKKBN) Sudibyo Alimoeso dalam sambutannya pada acara "GenRe Goes to School" di Sekolah Menengah Atas (SMA) Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis, mengemukakan, meningkatnya perilaku seksual pranikah di kalangan remaja diperkuat oleh data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2009 dari penelitian di empat kota. Sebanyak 35,9% remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

"Bahkan, 6,9% responden telah melakukan hubungan seksual pranikah. Keempat kota itu adalah Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya," katanya.

Dalam kunjungannya ke SMA Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya bersama anggota Komisi IX DPR Siti Mufattalah dan psikolog Yunike, Sudibyo Alimoeso juga mengungkapkan, berdasarkan penelitian Australian National University dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia pada 2010 di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, dengan sampel 3.006 responden usia kurang dari 17 sampai 24 tahun, 20,9% remaja hamil dan melahirkan sebelum menikah.

Terungkap pula, 38,7% remaja hamil sebelum menikah dan melahirkan setelah menikah. Dari data itu terdapat proporsi relatif tinggi pada remaja yang menikah karena hamil yang tidak diinginkan.

Menurut Sudibyo, remaja selalu menyimpan rasa penasaran dan mencoba segala sesuatu yang menantang. Para remaja itu "haus" akan aktivitas pembangkit adrenalin.

Di usia penuh gejolak, remaja bisa menjadi peluang besar untuk meraih masa depan cemerlang suatu bangsa atau sebaliknya, penyebab kehancuran. Indonesia dengan jumlah populasi generasi muda yang besar menghadapi dua sisi berlawanan itu.

Dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, jumlah remaja terbilang besar, mencapai 63,4 juta atau sekitar 26,7 persen dari total penduduk. Sudibyo Alimoeso menyebutkan, ada tiga masalah yang paling menonjol pada remaja Indonesia, yakni seksualitas, penyalahgunaan narkotika, dan HIV/AIDS. Tiga masalah itu berhubungan satu sama lain.

Pendekatan

Menurut Sudibyo, program GenRe atau Generasi Berencana dalam berbagai kampanye menekankan bahwa merencanakan pendidikan, keluargam dan kesehatan akan lebih bermanfaat bagi mereka ketimbang harus menikah dalam usia muda. "BKKBN ingin menjadikan GenRe sebagai sebuah gaya hidup, bukan sebagai kewajiban untuk menekan angka kelahiran," kata Sudibyo.

Meski begitu, sosialisasi diakui tidak semulus yang diharapkan. Agama dan budaya kerap menjadi batu sandungan. Masih banyak yang berpikir kampanye GenRe berarti mendorong hubungan seks bebas. "Karena itu, pendekatannya adalah untuk kesehatan, bukan pengendalian penduduk. Kami bekerja sama dengan semua pihak, termasuk DPR untuk menyosialisasikan program GenRe ini," kata Sudibyo.

Selain itu, BKKBN juga mengembangkan Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Kesehatan Reproduksi Remaja untuk sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa. "Di seluruh Indonesia jumlah PIK ini sudah mencapai 16 ribu," katanya.

Anggota Komisi IX DPR Siti Mufattalah juga menyatakan keprihatinannya soal seks bebas di kalangan remaja. Ia mengatakan, maraknya perilaku seksual tidak sehat di kalangan remaja berasal dari banyak faktor. Mulai dari informasi soal seksualitas yang makin mudah diakses, kurangnya perhatian pemerintah dalam hal konten seks pada anak dan remaja hingga minimnya edukasi seks di lingkungan keluarga.

Sebagai lingkungan yang pertama kali dikenal anak, keluarga bisa menjadi sumber pendidikan seks yang mendasar. Seperti halnya minuman alkohol atau narkoba, tanpa pendidikan seks yang tepat, remaja merasakan seks sebagai sesuatu yang nikmat dan bisa kecanduan. "Karena itu, DPR khususnya Komisi IX sangat mendukung BKKBN dalam mengampanyekan program GenRe, baik di sekolah, kampus, maupun pusat perbelanjaan," kata Siti.

Psikolog Yunike mengingatkan, mengandalkan keluarga saja untuk menepis perilaku seks bebas, tidak akan banyak berarti. Pendidikan di sekolah, pemuka agama, masyarakat, dan pemerintah punya peran yang sama untuk memberikan pendidikan seks. "Pemerintah lewat kekuatan menekan harus menertibkan standar untuk membatasi tayangan yang belum pantas ditonton remaja," katanya. (Singgih BS)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7040