Kemal menyampaikannya dalam jumpa pers dalam jumpa pers Kampanye HIV/AIDS dalam rangka Hari AIDS Sedunia "Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Di kesempatan yang sama, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh menjelaskan, mereka telah berusaha menjangkau hot spot dengan berbagai teknik. Namun Kemenkes tetap harus bekerja sama dengan pemerintahan daerah atau kota setempat atau antara kementerian.

"Misalnya bersama dengan Pemda dan Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia melakukan upaya penyuluhan pendidikan, salah satunya dengan memakai kondom," jelasnya.

"Kita juga menyosialisasikan bahaya HIV AIDS, cara penularannya, dan bagaimana kalau bertemu orang yang ber-HIV/AIDS agar bisa bersama-sama membantunya bersama petugas kesehatan," ujarnya

Subuh mencontohnya beberapa tempat yang kerap menjadi tempat nongkrong kaum pria, seperti pelabuhan dan klub malam. Di sana, sejumlah pria terkadang terlibat transaksi seksual dengan penjaja seks. Celakanya jika pria enggan menggunakan kondom saat membeli seks, mereka bisa membawa risiko itu ke rumah, yakni kepada istri dan anak-anaknya.

"Itu masalah kejujuran. Kalau pria jajan tanpa menggunakan kondom, apa mereka mau jujur dengan istrinya," ujarnya.

Untuk itu ibu rumah tangga, lanjut Subuh, perlu dibekali dengan pengetahuan soal bahaya seks berisiko dengan memberikan penyuluhan di berbagai organisasi seperti PKK. Dan upaya itu telah membuahkan hasil. Angka kematian akibat HIV/AIDS sudah menurun.

"Akibat upaya yang kita lakukan serta dukungan dari semua pihak, data dari 2000-2011 terlihat ada penurunan angka kematian dari 40 persen menjadi 2,4 persen," ujarnya.

Kementerian Kesehatan melaporkan, sejak 1987 hingga Juni 2012, sekitar 3.733 kasus ibu rumah tangga yang tertular dari pasangan tetapnya yang berisiko tinggi. Kondisi tersebut juga menempatkan anak-anak pada posisi rentan tertular HIV dari ibu yang terinfeksi HIV saat kehamilan, persalinan, dan menyusui. ">


Tempat Nongkrong Pria Hidung Belang Jadi Sasaran Kampanye AIDS
Tanggal: Wednesday, 14 November 2012
Topik: Narkoba


Liputan6.com, 13 November 2012

Jakarta: Melindungi ibu rumah tangga dan anak-anak dari tertularnya infeksi HIV/AIDS dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya mendatangi tempat-tempat nongkrong pria yang membuat mereka rawan bertransaksi seksual. Tempat-tempat yang disebut hot spot inilah yang menjadi sasaran strategi untuk melindungi pria dengan kampanye HIV/AIDS.

"60-70 persen laki-laki punya pasangan tetap. Lalu kenapa penularan bisa terjadi secara seksual? Pertama, terjadi transaksi seksual seks yang tidak aman, tidak pakai alat pencegahan, Kedua, tingkat penyakit yang diderita cukup tinggi seperti infeksi menular seksual sekitar 30 persen," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kemal N Siregar.

Kemal menyampaikannya dalam jumpa pers dalam jumpa pers Kampanye HIV/AIDS dalam rangka Hari AIDS Sedunia "Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Di kesempatan yang sama, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh menjelaskan, mereka telah berusaha menjangkau hot spot dengan berbagai teknik. Namun Kemenkes tetap harus bekerja sama dengan pemerintahan daerah atau kota setempat atau antara kementerian.

"Misalnya bersama dengan Pemda dan Komisi Penanggulangan AIDS Indonesia melakukan upaya penyuluhan pendidikan, salah satunya dengan memakai kondom," jelasnya.

"Kita juga menyosialisasikan bahaya HIV AIDS, cara penularannya, dan bagaimana kalau bertemu orang yang ber-HIV/AIDS agar bisa bersama-sama membantunya bersama petugas kesehatan," ujarnya

Subuh mencontohnya beberapa tempat yang kerap menjadi tempat nongkrong kaum pria, seperti pelabuhan dan klub malam. Di sana, sejumlah pria terkadang terlibat transaksi seksual dengan penjaja seks. Celakanya jika pria enggan menggunakan kondom saat membeli seks, mereka bisa membawa risiko itu ke rumah, yakni kepada istri dan anak-anaknya.

"Itu masalah kejujuran. Kalau pria jajan tanpa menggunakan kondom, apa mereka mau jujur dengan istrinya," ujarnya.

Untuk itu ibu rumah tangga, lanjut Subuh, perlu dibekali dengan pengetahuan soal bahaya seks berisiko dengan memberikan penyuluhan di berbagai organisasi seperti PKK. Dan upaya itu telah membuahkan hasil. Angka kematian akibat HIV/AIDS sudah menurun.

"Akibat upaya yang kita lakukan serta dukungan dari semua pihak, data dari 2000-2011 terlihat ada penurunan angka kematian dari 40 persen menjadi 2,4 persen," ujarnya.

Kementerian Kesehatan melaporkan, sejak 1987 hingga Juni 2012, sekitar 3.733 kasus ibu rumah tangga yang tertular dari pasangan tetapnya yang berisiko tinggi. Kondisi tersebut juga menempatkan anak-anak pada posisi rentan tertular HIV dari ibu yang terinfeksi HIV saat kehamilan, persalinan, dan menyusui.

Seperti diketahui, HIV atau Human Immunodeficiency Syndrome adalah mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Sementara AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul karena turunnya kekebalan tubuh akibat infeksi HIV. (MEL)

Sumber: http://health.liputan6.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7063