Pahlawan Muda untuk Bumi yang Lestari
Tanggal: Monday, 19 November 2012
Topik: Narkoba


okezone kampus, 19 November 2012

SELAMA lebih dari satu dekade, Millennium Development Goals (MDGs) telah mendominasi paradigma pembangunan global hingga 2015. Pada September 2010, High Level Plenary Meeting of the General Assembly sepakat untuk mempercepat target pencapaian MDGs 2015 ini. Prof. Dr. Surna Tjahja Djajadiningrat, Guru Besar Manajemen Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), menyampaikan bahwa pada prinsipnya pembangunan berkelanjutan bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah Okezone Kampus, 18 November 2012

proses yang terus berjalan. Millenium Development Goals (MDGs) telah memasuki tahun ke-11 dan Indonesia memiliki sisa empat tahun menjelang 2015 untuk merealisasikan delapan poin MDGs menuju tujuan akhir pembangunan nasional, yakni 1) eradicate extreme poverty and hunger, 2) achieve universal primary education, 3) promote gender equality and empower women, 4) reduce child mortality, 4) improve maternal health, 5) combat HIV/AIDS, 6) malaria and other diseases, 7) ensure environmental sustainability, and 8) global partnership for development. Banyak hal yang perlu dikejar untuk mewujudkan MDGs 2015. Masih banyaknya kasus buruknya sistem sanitasi, tingginya emisi gas buang, tingginya angka kematian ibu hamil dan bayi, meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS, dan lain sebagainya.

Indonesia saat ini tengah mengalami ecological deficit, yaitu adanya ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi sumberdaya hayati. Selain itu emisi gas buang Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan kurangnya regulasi dan landasan hukum untuk mengembangkan berbagai insentif terkait lingkungan.

Salah satu program yang dimotori oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam pencapaian MDGs adalah Youth for Climate Camp 2012 ”Mewarisi Semangat Kepahlawanan di Tengah Iklim yang Berubah”. Kegiatan yang dilangsungkan pada 9-11 November 2012 lalu ini diselenggarakan atas dasar untuk menciptakan komitmen pemuda dalam mengatasi dampak perubahan iklim dengan semangat kepahlawanan, mengedepankan peran kepemudaan dalam menciptakan komitmen untuk mengatasi dampak perubahan iklim melalui potensi keberagaman budaya, agama, dan kepercayaan yang ada di Indonesia, membekali potensi kelompok pemuda menjadi sumber daya yang memiliki kemampuan dalam menyikapi isu perubahan iklim di tingkat nasional dan global, dan membentuk kreativitas kelompok pemuda dalam menyuarakan perubahan ikim melalui potensi yang dimiliki serta mengembangkannya menjadi sarana komunikasi perubahan iklim yang interaktif.

Dewan Nasional Perubahan Iklim menilai peran pemuda dalam menanggapi dampak perubahan iklim adalah modal penting yang harus terus dipupuk. Mengapa pemuda? Populasi pemuda saat ini sekira 18 persen dari total populasi dunia. Berdasarkan definisi PBB, pemuda adalah individu yang berusia antara 15-24 tahun. Dengan arus globalisasi yang berlangsung cepat di dunia saat ini, pemuda secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh budaya modern yang diperoleh melalui akses ke media massa dan informasi yang tersedia di internet. Hal ini memberikan value added tersendiri jika pemuda dapat mendayagunakan era globalisasi untuk kepentingan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Kegiatan yang berlangsung di Sawangan Golf, Depok ini mengikutsertakan 213 pemuda yang tersebar dari 56 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta di Indonesia. Hal yang menarik adalah adanya peserta dari bangku SMP dan SMA yang turut serta dalam kegiatan ini. Anak-anak tersebut merupakan didikan Algore yang tergabung dalam Inconvenient Youth yang kerap mengisi materi di konferensi-konferensi lingkungan tingkat internasional. Tidak melulu mendengarkan pemaparan dari pakar lingkungan, dalam Focus Group Discussion para peserta YFCC 2012 juga diajak untuk bersama-sama menyusun action plan yang diharapkan dapat mereka realisasikan secara berkesinambungan sesuai dengan minat studi masing-masing. Pun di hari terakhir para peserta dilatih untuk membuat lubang resapan biopori di kawasan Sawangan Golf, Depok.

“Saya jadi paham dan sadar bahwa climate change itu merupakan permasalahan global yang seharusnya menjadi perhatian setiap individu. Solusi untuk climate change ini pun harus terintegrasi dengan berbagai lini. Intinya, setiap individu berkewajiban untuk berkontribusi mewujudkan stabilitas iklim dunia yang lebih baik”, tutur Teuku Ar Rizqi Aulia, mahasiswa S-1 Teknik Elektro 2010, Universitas Indonesia.

Lintang Nur Ramadhanni, peserta YFCC 2012 dari jurusan S-1 Akuntansi, Universitas Airlangga, mengutarakan bahwa kegiatan semacam ini perlu untuk diadakan secara berkesinambungan karena akan menyadarkan anak muda tentang isu perubahan iklim. Di acara ini seluruh pemuda berkumpul dan diharapkan setelahnya harus dibuat sebuah langkah nyata dan konkret untuk mencegah dampak yang meluas mengenai perubahan iklim.

Lalu apakah kegiatan ini hanya berujung pada seremonial saja dan tidak ada tindak lanjut nyata baik dari peserta maupun panitia? Pasalnya beragam konferensi lingkungan telah diselenggarakan namun hasilnya sebatas pada kesepakatan hitam di atas putih saja. Belum ada langkah konkret yang sustainable untuk mengurangi dampak perubahan iklim di bumi ini. Maka dari itu, diharapkan kegiatan semacam ini dapat benar-benar memberikan esensi yang dalam bagi para peserta untuk merealisasikan project terkait perubahan iklim. “Kami peserta YFCC dari Universitas Indonesia sudah membuat action plan agar ilmu yang kami dapatkan tersebut dapat tersampaikan ke banyak individu. Untuk sementara kami berencana roadshow ke setiap fakultas terkait climate change ini,” imbuh Teuku Ar Rizqi Aulia.

Bumi kita saat ini tengah dilanda krisis. Planet ini butuh pahlawan-pahlawan muda yang berdedikasi tinggi untuk menyelamatkannya dari kelangkaan sumberdaya. Untuk itulah peran pemuda sebagai iron stock harus dioptimalkan sehingga dapat terciptanya alam yang lestari. Bumi telah berubah, yuk kita juga berubah!

Berita kiriman: Rida Nurafiati Mahasiswi S-1 Akuntansi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ketua Koalisi Pemuda Hijau Indonesia (KOPHI) Yogyakarta (//rfa)

Sumber: http://kampus.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7079