559 Orang Terinfeksi Virus HIV-AIDS
Tanggal: Tuesday, 20 November 2012
Topik: HIV/AIDS


PRLM, 19 November 2012

CIKARANG - Sejak Maret 2012, jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV-AIDS) di Kabupaten Bekasi mencapai 559 kasus. Dari jumlah tersebut, 9 di antaranya merupakan masih berusia bayi di bawah lima tahun (balita) dinyatakan positif terinfeksi virus tersebut.

Namun, dari jumlah balita yang positif terinfeksi virus tersebut, diakui pengelola Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bekasi, baru sebagian kecil dari jumlah yang ada. Saat ini, Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bekasi berupaya menangani balita yang terinfeksi tersebut dengan berbagai macam metoda.

“Dari jumlah penderita AIDS di Kabupaten Bekasi, tidak hanya orang dewasa melainkan ada pula yang masih berumur balita berjumlah sembilan anak. Kami berupaya untuk menangani balita yang kami tangani saat ini bekerjasama dengan dokter ahli di RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Kabupaten Bekasi untuk mendapatkan penanganan intensif,” ungkap pengelola Komisi Penganggulangan Aids Kabupaten Bekasi, Ade Bawono saat dikonfirmasi mengenai jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten Bekasi, Senin (19/11).

Dalam kesempatan itu, Ade menjelaskan, untuk sembilan balita yang pihaknya tangani saat ini, kesemuanya sedang menjalani pengobatan di RSUD Kabupaten Bekasi melalui teknik pengobatan metadon. Dia pun menambahkan, kemungkinan jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten Bekasi akan terus bertambah, untuk berbagai usia.

“Penularan HIV sendiri disebabkan oleh kenakalan para suami yang sering melakukan hubungan seks dengan PSK (penjaja seks komersial), sehingga tertular kepada istri dan anaknya. Selain itu, ada juga yang tertular dari jarum suntik bagi pemakai narkoba,” tuturnya.

Selain melakukan penanganan kepada balita yang sudah terinfeksi HIV-AIDS, dikatakan Ade, untuk mencegah penularan HIV-AIDS kepada bayi melalui air susu ibu (ASI), dilakukan program pemberian susu bagi bayi dari orang dengan HIV-AIDS (ADHA).

“Kami juga menangani bayi dengan obat berupa puyer dan sirup yang diberikan oleh rumah sakit pemerintah. Obat HIV ini diharapkan bisa menyembuhkan dan penanganan bagi si penderita,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Bekasi mengaku, telah melakukan sosialisasi terkait pembinaan para bidan untuk mendeteksi secara dini apabila ada pasien terindikasi HIV-AIDS. Selain itu pula, sosialisasi kepada warga pun kerap dilakukan oleh Komisi Penanggulangan Aids Kabupaten Bekasi mengenai penyakit tersebut.

“Penanganan ini dikhususkan kepada ibu hamil yang memiliki latar belakang risiko tinggi terinfeksi HIV. Tahun lalu saja ada beberapa ibu hamil meninggal akibat penyakit HIV ini,” katanya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, diketahui bahwa wilayah Kabupaten Bekasi merupakan penyumbang terbanyak kedua di Jawa Barat tentang penyebaran virus ini. Salah satu faktornya yakni seks bebas.

Sementara itu, berdasarkan data yang diperoleh dari Klinik Pelangi pada RSUD Kabupaten Bekasi, sejak berdiri 2010 lalu, klinik tersebut telah menangani 150 kasus HIV-AIDS. Informasi yang disampaikan Konselor Klinik Pelangi RSUD Kabupaten Bekasi, dr. Jaka Satria menjelaskan, dari jumlah kasus sebanyak 150 orang itu, di antaranya 70 orang telah meninggal dan 80 orang sedang menjalani pengobatan secara rutin.

“Para pengidap HIV-AIDS yang kami tangani ini, sebagian besar penyebabnya ditimbulkan karena hubungan seks yang heterogen. Sementara untuk pecandu narkotika jenis jarum suntik, hanya sekitar 10 hingga 15 orang,” ujar Jaka. (A-198/A-147)***

Sumber
: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7081