KISAH SUAMI PENGIDAP HIV/AIDS: Demi Cinta, Kekhawatiran Orang Lain Tak Dihirauka
Tanggal: Thursday, 22 November 2012
Topik: HIV/AIDS


SoloPos, 22 November 2012

Rumah bermodel joglo itu terlihat kosong saat Solopos.com tiba, suatu siang. Saat itu, Solopos.com diantar kepala desa (kades) setempat untuk menemui Joko (bukan nama sebenarnya) yang rumahnya berada di kawasan Wonogiri Utara.

Saat itu, Joko menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami masuk ke rumahnya. Tapi, kades yang mengantar Solopos.com harus kembali ke kantornya karena ada acara. Alhasil, Solopos.com hanya mengobrol berdua dengan Joko di dalam rumah. Di dalam rumah itu tak banyak perabotan. Hanya ada tiga lemari pakaian, satu set kursi tamu yang terdiri atas lima kursi dan satu meja. Juga satu televisi dan tikar yang digelar di lantai untuk bersantai. Di dinding, ada beberapa foto yang dipajang. Salah satunya, ada foto anak perempuan.

Joko mengatakan foto itu adalah foto anaknya, Mawar (bukan nama sebenarnya) yang berusia lima tahun. Mawar merupakan buah cinta dari Joko dan Melati (bukan nama sebenarnya). Melati adalah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang baru meninggal pada Senin (12/11/2012), setelah dirawat dua pekan di RSUD dr Moewardi dan tiga pekan di rumahnya. Selama perbincangan Joko sesekali menundukkan kepalanya untuk menutupi raut kesedihan di wajahnya. Memang, duka masih menyelimutinya karena belum genap dua pekan, ia kehilangan istrinya.

“Sementara ini, saya belum berjualan bubur lagi. Usaha tambal ban di rumah juga masih saya tutup. Kondisi saya masih seperti ini [berduka]. Saya mau bersih-bersih dulu dan membuang semua barang-barang milik Melati, kecuali surat-surat penting. Bukannya apa-apa, kata orang Jawa biar tidak ingat terus dan ia [Melati] bisa tenang di sana,” tuturnya.

Ia bercerita, beberapa hari sebelum dibawa ke rumah sakit, Melati mengeluh pusing, lemas dan mata berkunang-kunang. Melati pun tidak bisa naik sepeda untuk mengantar anaknya seperti yang ia lakukan sehari-hari. Menurut Joko, di akhir hidupnya, Melati juga enggan meminum obat karena merasa jika minum obat malah membuat badannya sakit.

Ia mengenang kembali pertemuan dengan Melati yang dikenalnya pada 2006. Joko bertemu kali pertama dengan melati saat ia bekerja menjadi petugas cleaning service RSUD dr Moewardi Solo. Saat itu ia kerap berbincang dengan Melati yang dirawat karena melahirkan anaknya dari suaminya terdahulu yang telah meninggal karena terjangkit HIV/AIDS. Joko sempat ditegur temannya sesama petugas kebersihan karena sering berbincang dengan Melati yang juga tertular HIV/AIDS. Singkat cerita, hubungan keduanya semakin dekat karena Melati sering memeriksakan diri ke rumah sakit. Dan bayinya juga meninggal setelah sembilan hari dilahirkan ke dunia. Padahal, saat itu Joko sudah menikah selama 10 tahun dengan istri pertamanya. Tapi, ia belum dikaruniai seorang anak.

Joko dan istrinya akhirnya bercerai dan Joko pun menikahi Melati. Ia tidak takut tertular penyakit yang diderita Melati. Mereka pun dikaruniai seorang anak perempuan. “Saya tidak takut tertular, walaupun saya sudah diperingatkan banyak orang. Yang penting saya suka dengan dia [Melati] dan ingin menikahinya. Saya pasrah pada Allah,” ungkap pria asal Sragen ini.

Setelah menikah, banyak orang yang membantu kehidupan ekonomi keluarga Joko. Salah satunya sebuah yayasan di Semarang yang merupakan kumpulan ODHA. Yayasan itu memberi mereka modal usaha. Sehingga Joko bisa berjualan bubur dan Melati bisa membuka warung kelontong kecil-kecilan di rumahnya.

Melati memulai hidupnya dengan lembaran baru dengan penyakit yang diidapnya. Ia harus mengonsumsi dua macam obat yang diminum dua kali dalam sehari yakni setiap pukul 07.00 WIB dan pukul 19.00 WIB. Obat itu untuk mengendalikan virus yang ada ada di tubuhnya. Dalam satu bulan sekali, ia harus memeriksakan dirinya ke RSUD dr Moewardi. Sebab, menurut Joko, rumah sakit di Wonogiri tidak ada yang mampu menangani penyakit istrinya.

Ia pun tidak pernah menyerah untuk tetap memberi semangat istrinya dalam bertahan hidup. “Saya terus menyemangati istri saya. Dia [Melati] pernah bilang, kalau tubuhnya sehat, ia ingin bekerja seperti perempuan lainnya. Sebab, saya tidak pernah membebaninya pekerjaan rumah tangga. Dia lebih banyak menonton televisi sambil menjaga warung [toko kelontong],” imbuhnya.

Selain itu, Melati juga menjadi sangat sensitif karena penyakitnya. Sehingga Joko harus bersabar menghadapi sikap istrinya yang pencemburu. Bahkan, anaknya juga dijauhi tetangganya. “Saya kadang sakit hati. Saat anak saya bermain dengan teman-teman sebayanya, orangtua mereka langsung mengajak anaknya pulang. Terang saja anak saya bingung. Saya hanya bisa mengelus dada,” tuturnya.

Joko saat ini sudah merelakan Melati. Menurutnya, Tuhan lebih sayang dengan Melati dan tidak ingin memberikan penderitaan yang lebih lama lagi.

Sumber: http://www.solopos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7096