Berdamai dengan ODHA
Tanggal: Wednesday, 28 November 2012
Topik: Narkoba


Bali Post, 25 November 2012

AIDS, singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan dari gejala atau infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Kasus HIV ada di Indonesia sejak tahun 1987 dan gencar disosialisasikan. Namun, pemahaman dan penerimaan terhadap orang dengan HIV/AIDS kerap tertutup kabut stigma. Orang menarik cerita ke belakang, apa yang dilakukan pada masa lalu sampai seseorang terinfeksi HIV. Padahal, lebih baik memberi kesempatan orang yang bersangkutan memeriksakan diri, berobat dan hidup bertanggung jawab untuk tidak menularkan kepada orang lain.

Setiap 1 Desember tiap tahunnya semua lapisan masyarakat berlomba– lomba merayakan dengan caranya masing–masing. Perayaan berhenti pada peringatan semata, menyisakan pekerjaan berat bahwa stigma dan diskrimasi masih ada bagi ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Stigma tak mudah dihilangkan, bahkan oleh pengobatan antiretroviral yang menjadi rujukan sebagai pengubah perjalanan HIV/AIDS.

Stigma menimbulkan terjadinya diskriminasi yang berujung pada ketidaksetaraan dalam kehidupan sosial, ODHA enggan membuka diri pada lingkungan sekitarnya termasuk menyurutkan niat untuk mengakses layanan kesehatan, memunculkan pelanggaran HAM bagi ODHA. Telah dijelaskan dalam banyak sumber, penularan HIV/AIDS tidaklah sesederhana demam atau flu. HIV terdapat dalam sebagian cairan tubuh yaitu darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. Sehingga penularannya hanya dapat melalui senggama yang membiarkan darah, air mani atau cairan vagina dari orang HIV- positif masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi, sejauh ini penggunaan kondom masih diyakini bermanfaat untuk menghindari. Pemakaian jarum suntik yang bekas pakai orang lain yang mengandung darah orang terinfeksi HIV, menerima transfusi darah yang terinfeksi HIV, dari ibu HIV-positif ke bayi dalam kandungan waktu melahirkan dan jika menyusui sendiri.

Minimnya wawasan tentang HIV membuat masyarakat umum acuh terhadap fakta– fakta mengenai kehidupan berdampingan dengan ODHA. HIV tidak akan menular jika kita bersalaman, berpelukan, berciuman, batuk, bersin, memakai secara bersamaan peralatan rumah tangga seperti alat makan, telepon, kamar mandi, WC, kamar tidur. Berada dalam satu lingkungan yang sama dengan ODHA dan melakukan aktivitas bersama–sama tidak akan membuat kita tertular. HIV tidak menular sesederhana atau semudah bersin. Jadi kita tidak mesti ketakutan berlebihan.

Menular

HIV tidak dapat menular melalui udara. Virus ini cepat mati jika berada di luar tubuh. Virus ini tidak dapat diserap oleh kulit yang tidak luka. HIV tabu diperbincangkan karena kesalahan persepsi yang berulang–ulang. Ini karena kebanyakan kasus HIV diasosiasikan dengan seks, penggunaan narkoba dan kematian, banyak orang menjadi tak peduli, menyangkal dan takut berlebihan terhadap penyakit ini. Dan ini terjadi di seluruh lapisan masyarakan awam. Menganggap ODHA sebagai manusia normal merupakan hal penting dalam menjaga keberlangsungan psikologis dan kualitas peningkatan hidup ODHA.

Penerimaan positif minimal dari orang atau lingkungan terdekat adalah kebutuhan mendasar dari setiap ODHA. Pada beberapa Negara telah ditetapkan Undang–undang untuk melindungi hak dan kebebasan ODHA dan untuk melindungi mereka dari diskriminasi. Karena sesungguhnya hak ODHA sama saja dengan manusia lain hanya saja kekurangpahaman dan kesalahan persepsi masyarakat, hak ODHA seringkali diabaikan.

Apa yang membedakan kita, orang yang tidak terinfeksi dengan ODHA? Secara kasat mata tak ada. Perbedaannya hanya bisa dideteksi jika dilakukan tes darah dan itu pun harus dilakukan dengan sukarela dan wajib dijaga konfidensialitasnya. Didahului dengan dilakukannya Voluntary Counseling and Testing (VCT). Perbedaan HIV dengan penyakit menular lainnya adalah virusnya belum ditemukan obatnya. Sementara ini HIV hanya terkendali dengan obat antiretroviral. Obat antiretroviral mencegah replikasi virus hingga tidak terdeteksi dalam darah. Perjalanan penyakit terhambat dan angka kematian menurun. Bahkan, dengan kontrol ketat dokter, pasangan dengan HIV yang mendambakan keturunan bisa melahirkan anak sehat. Namun, obat antiretroviral tidak menyembuhkan dan pengidap tetap bisa menularkan HIV.

Kita berperang melawan virusnya, bukan orangnya. Jangan biarkan stigma dan diskriminasi membuat ODHA mati sebelum mati.

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7105