Peringati Hari AIDS, Tak ada Pria Hidung Belang Ditangkap
Tanggal: Wednesday, 28 November 2012
Topik: Narkoba


Berita Satu, 28 November 2012

Kaburnya harga produksi vagina dalam isu AIDS.

Penderita AIDS meningkat tiap tahunnya. Data yang dilansir Kementerian Kesehatan 2011 menyebutkan dengan total populasi penduduk 240 juta, diperkirakan prevalensi HIV 0,24 persen. Paling tidak ada 186.000 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Jumlah ini bisa membengkak hingga 200.000 orang.

Menurut Ayu Oktariani, 26 tahun yang menderita HIV lantaran tertular dari suami yang sudah meninggal, pemerintah sebaiknya melebarkan fokus perhatian penanggulangan HIV/AIDS. “Fokus pemerintah saat ini masih berusaha menanggulangi AIDS di populasi kunci, seperti pekerja seks, waria dan pecandu,” jelas Ayu.

“Tetapi lupa dengan masyarakat umum, seperti remaja, ibu rumah tangga, ibu-ibu PKK. Pada level keluarga, pemerintah juga harus sosialisasi. Ada ratusan ibu rumah tangga yang akhirnya terancam karena selama ini masyarakat menganggap sepele, dengan berpikir bahwa ibu rumah tangga aman karena hanya tinggal di rumah. Kita tidak tahu jika ternyata pasangannya melakukan apa di luar,” kata Ayu yang ditemui Beritasatu.com beberapa waktu lalu.

Masyarakat terlanjur mencemooh penyakit itu. Akibatnya tiada kewaspadaan. Inang Winarso, Assistant Deputi Komisi Penganggulangan AIDS Pengembangan Wilayah Jawa dan Bali mengatakan betapa susahnya mengajak masyarakat terlibat dalam proses penanggulangan bahaya AIDS. Winarso pernah mengorganisir masyarakat untuk diberi penyuluhan. Yang dialaminya justru mendapatkan reaksi negatif dari masyarakat karena wanita pekerja seks dinilai sebagai perempuan tidak baik. Masyarakat masih belum bisa menerima bahwa wanita pekerja seks adalah korban dari struktur budaya patriarki.

“Saya sudah berkeliling ke banyak tempat lokalisasi, dari Papua sampai Batam,” jelas Winarso. “Tidak ada satu pun wanita pekerja seks yang bercita-cita jadi pelacur. Saya kemudian mengambil kesimpulan bahwa mereka itu korban. Wanita penjaja seks itu korban dari sistem ekonomi yang tidak adil, sistem budaya patriarki dan tidak sedikit dari mereka yang korban ‘human trafficking," terang Winarso.

Masyarakat kita masih belum bisa melihat adanya faktor struktural dan ekonomi dibalik lahirnya wanita pekerja seks. Para pekerja seks justru sebagai target utama untuk disalahkan. Jika anda cari kata “Satpol PP dan Seks” melalui internet, berita yang akan anda temukan adalah razia pekerja seks. Hampir tidak ada berita tentang penangkapan para pelanggan.

Absurditas Harga Produksi Vagina

Ini merupakan bukti bahwa sanksi sosial jauh lebih berat dijatuhkan kepada wanita pekerja seks dibandingkan kepada pria pembeli layanan seks. Itupun masih ada denda atas tindak pidana ringan yang dijatuhkan kepada wanita pekerja seks. “Itu murni karena struktur budaya arogansi lai-laki,” ujar Winarso. “Jadi begitu dia berpenis apapun jabatannya, apapun kondisi keuangannya, hasrat untuk menguasai perempuan muncul. Itu konstruksi budaya yang paling mengerikan," kata Winarso.

Winarso mengusulkan kita harus melawan laki-laki yang suka membeli seks. "Kita dorong polisi, Satpol PP menangkap pembelinya," ujarnya.

Apalagi aturannya sudah cukup jelas. Pada Pasal 289 KUHP Kejahatan Terhadap Kesusilaan menyatakan: Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Namun, walaupun dengan adanya hukum yang mengatur pelanggaran-pelanggaran kesusilaan masih banyak pria yang tidak jera.

“Saya tanya praktis saja harga produksi vagina berapa. 200 ribu, 300 ribu atau berapa. Memang segitu ongkos produksinya. Bagaimana mungkin alat reproduksi perempuan dihargai seperti itu. Sedangkan tarif wanita pekerja seks ada yang mulai dari Rp10.000 di pinggir rel kereta api sampai jutaan. Tapi apakah 10 juta itu harga yang wajar untuk sebuah vagina. Tidak pernah ada yang bisa jawab kok,” kata Winarso

Terlebih lagi dengan rendahnya rasa hormat terhadap perempuan, tak jarang laki-laki yang membeli seks dan menolak menggunakan kondom. Padahal menurut beberapa penelitian di Amerika Serikat, kepuasan seksual lebih kepada psikologi bukan biologi.

Howard P. Greenwald dari the University of Southern California, Los Angeles, dan Ruth McCorkle dari Yale University di New Haven, Connecticut mengatakan bahwa psikologi berperan lebih besar dari hormon dalam kepuasan seksual.

Ketika ditanya hukuman apa yang harus dijatuhkan untuk para pria pembeli seks, Inang menjawab, “Pidana kurungan untuk laki-laki dan diberi sanksi sosial juga. Kalau bisa diumumkan ke publik. Ini lho laki-laki yang membeli seks. Diumumkan saja ke publik agar membeli layanan seks tidak menjadi hal yang wajar,” katanya

Selain itu Inang juga mengharapkan dukungan dari pemuka agama untuk mendorong program ini dengan memberi himbauan kepada para laki-laki. Selebihnya edukasi mengenai HIV/AIDS yang lebih luas dan dalam harus terus diberikan kepada masyarakat. Hal ini agar masyarakat lebih bisa menerima Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di dalam lingkungan. Ini juga penting agar tidak ada lagi kekerasan atau kesenjangan terhadap ODHA.

Pengeluaran Kartu Sehat oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo juga diharapkan mampu mempermudah akses pencegahan HIV/AIDS. Masyarakat dapat memeriksakan diri sedini mungkin. “Dukungan pemerintah sudah cukup, tinggal kita mendorong perempuan untuk periksa,” jelas Inang. “Jangan sampai akses kesehatan dijadikan komoditas bagi pemerintah daerah, semua seharusnya gratis,”.

Sumber: http://www.beritasatu.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7121