Ibu dan Anak Kian Rentan Terkena AIDS
Tanggal: Wednesday, 28 November 2012
Topik: Narkoba


Berita Satu, 28 November 2012

Ibu dan anak kian rentan terkena AIDS. Saat ini, 82,6 persen kasus HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan heteroseksual. Rantai penularan dari ayah, ibu ke anak.

Ayu Oktariani masih ingin terus bangkit. Semangatnya untuk melanjutkan hidup belum pudar. Tahun 2009 adalah tahun yang tak pernah ia lupakan. Ia divonis positif menderita HIV. Ibu berusia 26 tahun ini sempat menyangkal. Vonis penyakit mematikan ini sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri.

Butuh waktu enam bulan untuk meyakinkan dirinya sendiri, agar bisa keluar dari lingkaran ketakutan. Dari semua jenis ketakutan, sanksi sosial adalah ketakutan tertinggi. Betapa ngerinya dicap masyarakat sebagai manusia tak bermoral.

Ayu berkisah awal kedatangan penyakit yang mematikan itu tanpa ba bi bu alias tanpa intro. Tidak ada gejala penurunan kesehatan yang dirasakan, ia melakukan tes HIV/AIDS karena almarhum suaminya terlebih dahulu didiagnosa terkena AIDS. Sayangnya, diagnosa tersebut sudah terlambat. Penyakit AIDS telah merampas hak hidup suaminya. Persis seminggu setelah dinyatakan menyandang AIDS.

Ayu tidaklah sendirian. Di Indonesia, perempuan bernasib naas seperti ini jumlahnya ada ratusan ibu rumah tangga yang terinfeksi virus HIV. Dari laporan Kementerian Kesehatan periode Januari-Juni 2012 menunjukan bahwa kasus HIV/AIDS paling banyak menyerang ibu rumah tangga. Bahkan jumlah ibu rumah tangga dengan HIV/AIDS mencapai 276 kasus, dibandingkan dengan pekerja seks yang hanya mencapai 36 kasus.

Lalu, bagaimana ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya mengurus rumah dan anak-anak bisa terinfeksi HIV/AIDS. Jawabnya karena penularan terbesar terjadi di tempat tidur, melalui suami yang merupakan pria risiko tinggi (pria risti). Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa adanya perkembangan prevalensi HIV dari tahun 2007-2011 sebanyak 7 kali lipat dalam kategori pria risti.

Angka ini merupakan perkembangan prevalensi tertinggi jika dibandingkan dengan kategori populasi kunci lainnya seperti wanita penjaja seks (WPS) yang angkanya relatif tetap, lelaki seks dengan lelaki (LSL) dengan kenaikan dua kali lipat dan pengguna napza suntik (penasun) dengan penurunan angka prevalensi.

Hancurkan Budaya Patriarki

Tahun ini adalah peringatan ke-25 Hari HIV/AIDS di Indonesia. Tantangan mengendalikan epidemi HIV/AIDS kian tahun kian berat. Saat ini, 82,6 persen kasus HIV/AIDS ditularkan melalui hubungan heteroseksual, yang dampaknya meningkatkan penularan dari ibu ke anak.

“Penularan HIV/AIDS melalui heteroseksual banyak terjadi melalui pria pembeli layanan seks ke istri mereka, yang kalau tidak dikendalikan bisa dipastikan penularan ibu ke anak,” jelas Inang Winarso, Assistant Deputi Komisi Penganggulangan Aids Pengembangan Wilayah Jawa dan Bali kepada Beritasatu.com di Jakarta, beberapa saat lalu .

“Penularan HIV/AIDS dikalangan homoseks dan pengguna narkoba merupakan penularan dalam generasi yang sama. Sementara penularan dari ibu ke anak merupakan penularan antar generasi. Ini sangat mengerikan karena kita bisa kehilangan sebuah generasi karena penularan ini,” kata Winarso.

Oleh karena itu, menurut Winarso, fokus pengendalian epidemi HIV/AIDS harus diganti. Bukan hanya sekedar kampanye pemakaian kondom tetapi juga dekonstruksi budaya patriarki di Indonesia.

Sumber: http://www.beritasatu.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7122