25 PSK Terdeteksi HIV/AIDS Lokalisasi di Tiga Kecamatan di Kukar
Tanggal: Thursday, 29 November 2012
Topik: HIV/AIDS


Kaltim Post, 29 November 2012

TENGGARONG - Dua puluh lima Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi di tiga kecamatan di Kutai Kartanegara (Kukar) terdeteksi HIV/AIDS. Ini setelah pemeriksaan dilakukan Dinas Sosial (Dinsos) kerja sama Dinas Kesehatan (Diskes) Kukar. Bahkan seorang PSK disebutkan telah meninggal setelah dipulangkan kembali ke kampung halamannya.

Di Kukar sendiri, data dari Dissos tercatat ada 14 lokalisasi yang tersebar di 12 Kecamatan. Jumlah PSK-nya mencapai 1.100 orang. Namun, saat pendataan dilakukan usai Idulfitri lalu, angka tersebut turun drastis hingga tinggal 800 orang.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Kesetiakawanan (Resos) Dinsos Kukar Supriyanto mengatakan, saat ini 25 PSK yang disembunyikan identitasnya itu sedang menjalani program khusus bersama Biro Konsultasi di sebuah rumah sakit swasta di Samarinda. Selain melakukan konsultasi secara khusus, 25 PSK tersebut juga menjalani pengobatan di rumah sakit itu.

“Dari hasil pendataan, dari semua lokasi terdapat 25 PSK yang positif terjangkit HIV/AIDS. Ada yang masih tinggal di lokalisasi, sambil melakukan konsultasi kesehatan dengan pihak rumah sakit,” terang Supriyanto.

Yang mengejutkan, rupanya tak ada jaminan jika 25 penderita HIV/AIDS tersebut tidak lagi melakukan praktik prostitusi yang dikhawatirkan menularkan virus kepada orang lain. Apalagi, kata dia, tak banyak yang mengetahui identitas si penderita HIV/AIDS tersebut. Namun, menurutnya, pihaknya sudah mengimbau kepada 25 orang tersebut agar tidak lagi melakukan praktik (berhubungan badan,Red) seperti biasanya. Dinsos hanya bisa memberi imbauan.

“Waktu itu pernah ada kabar jika ada seorang anak dan ibu menderita HIV/AIDS. Setelah diselidiki, ternyata suaminya sering ke lokalisasi dan menggunakan jasa PSK,” ujarnya.

Sebagian besar penderita HIV/ AIDS tersebut juga berasal dari luar daerah. Ini sesuai dengan kecenderungan angka PSK di Kukar yang 80 persen berasal dari luar Kalimantan. Sedangkan 20 persennya, dari Kalimantan.

Pencegahan yang dilakukan Dinsos masih seputar pembekalan serta sosialisasi pencegahan. Termasuk dengan melakukan cek kesehatan setiap enam bulan sekali bekerja sama dengan Diskes. Sedangkan upaya pemulangan sejumlah PSK yang telah direhabilitasi, ternyata juga kerap tak membuahkan hasil untuk menekan jumlah PSK di kabupaten ini.

Sebab, keberadaan lokasi yang menyediakan jasa wisma lokalisasi terus tumbuh seiring keberadaan perusahaan di daerah pinggiran.

“Sepertinya ini sudah terorganisasi, dari wisma yang satu dengan yang lainya juga saling kenal. Bahkan pencari perempuannya juga kadang sama. Jadi mesti telah dipulangkan sebagian, nantinya tetap saja ada lagi perempuan baru lainnya yang datang,” ucapnya.

Supriyanto mengatakan, sejauh ini Kaltim memang dianggap salah satu daerah yang potensial untuk disingahi perempuan yang berminat menjadi PSK.

Selain lantaran menjamurnya perusahaan, posisi Kaltim yang secara geografis berdekatan dengan Malaysia juga membuat mereka tergiur untuk datang ke Kalimantan. Apalagi setelah diiming-imingi harga pemakaian jasa yang lebih mahal dibanding di tempat asal mereka.

“Kalau sudah tanggal muda atau musim gajian, pasti wisma-wisma itu pada penuh oleh perempuan baru. Tapi kadang kalau sudah datang tanggal tua, ya mereka pada hilang lagi,” ucapnya. (*/qi/far/k2)

Sumber: http://www.kaltimpost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7126