Jakbar Rawan Penyebaran HIV/AIDS
Tanggal: Saturday, 01 December 2012
Topik: HIV/AIDS


BERITAJAKARTA.COM, 30 November 2012

Banyaknya tempat hiburan malam di Jakarta Barat yang jumlahnya mencapai 313 tempat hiburan, membuat Jakarta Barat sangat rentan dengan penyebaran virus HIV/AIDS. Lewat program Getting to Zero, termasuk dengan mengintensifkan pemeriksaan kesehatan kepada para pekerja hiburan malam, ditargetkan pada tahun 2015 tidak ada lagi yang menderita HIV/AIDS.

"Jakarta Barat merupakan target monitoring program pencegahan virus itu. Sebab, Jakarta Barat masuk dalam tiga wilayah di Indonesia yang menjadi target monitoring dan evaluasi pelaksanaan Getting to Zero 2012-2015. Jumlah tempat hiburan malam di DKI Jakarta sendiri mencapai 1.218 tempat, dan Jakarta Barat menduduki posisi teratas dengan jumlah terbanyak 313 tempat hiburan," ujar Rohana Manggala, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta, Jumat (30/11).

Rohana menyebut, angka AIDS di DKI sejak bulan Januari hingga September 2012 berjumlah 649. Sedangkan khusus Jakarta Barat ada 86 orang atau sekitar 13 persen dari keseluruhan orang dengan AIDS di DKI Jakarta pada tahun 2012. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Kementerian Kesehatan RI pada Juni 2012, DKI merupakan peringkat pertama pengidap penyakit AIDS menyusul Papua dan Jawa Timur.

Sedangkan tempat hiburan yang diduga jadi tempat prostitusi yakni griya pijat sebanyak 241, karaoke 221, diskotek 75 dan SPA 2 tempat. Sementara tidak bisa dipungkiri, pajak terbesar di DKI berasal dari tempat hiburan malam dengan kontribusi sebesar Rp 2,5 triliun per tahun. Hingga akhir tahun 2012, Pemprov DKI baru mendapatkan 82 persen dari total tersebut.

Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Jakarta Barat, Sukarno mengatakan, pemeriksaan para karyawan tempat hiburan malam sangat perlu dilakukan, lantaran Jakarta Barat menjadi target monitoring dan evaluasi pelaksanaan Getting to Zero 2012-2015 di Indonesia, dan menurutnya pencegahan HIV/AIDS harus dari tempat hiburan malam. “Kami mengadakan kesepakatan bersama dengan pengelola hiburan malam untuk melakukan pemeriksaan rutin minimal tiga bulan sekali. Dengan adanya program itu, saya berharap di 2015, tempat hiburan malam di Jakarta Barat bersih dari AIDS,” jelas Sukarno.

Ketua Asosiasi Hiburan Malam, Adrian Maelite mengatakan, untuk mendukung hal tersebut, pihaknya akan mewajibkan seluruh pengelola hiburan malam untuk memeriksakan para karyawannya. Bahkan, jika ada perusahaan yang membandel, pihaknya akan memberikan rekomendasi ke pemerintah, agar tempat hiburan malam tersebut dicabut izinnya.

“Harus ada dokter yang menjemput, atau petugas puskesmas yang datang memeriksakan. Tapi kita tetap sarankan agar mereka periksa sendiri,” ucapnya.

Jika rencana tersebut berjalan, bukan tidak mungkin potensi pendapatan hiburan malam akan meroket. Sebab, hiburan malam yang aman dan nyaman akan mengundang banyak peminat. Saat ini tenaga kerja yang berkecimpung di hiburan malam ada 670 ribu di DKI. Dari jumlah itu, 70 persen berada di Jakarta Barat. “Jumlah pajak terbanyak juga dari hiburan malam, jadi kalau program tersebut berjalan baik dan lancar bukan tidak mungkin menggali potensi pendapatan lebih banyak buat DKI,” tandasnya.

Sumber: http://www.beritajakarta.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7130