Sembilan Tahun, Istri dan Dua Anaknya Bebas HIV/Aids
Tanggal: Saturday, 01 December 2012
Topik: HIV/AIDS


Radar Jogja, 30 November 2012

Menjadi orang dengan Human Immunodeficiency Virus Infection/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/Aids) atau ODHA tidak membuat Ian Mikael terpuruk. Lelaki 36 tahun itu justru semangat memberikan motivasi kepada orang lain yang baru dinyatakan mengidap HIV/Aids. Heditia Damanik, Jogja

Wajah Ian terlihat segar. Mengenakan kemeja hitam, dia santai bercerita soal penyakit yang dideritanya. Tidak ada kesan depresi atau stres dari raut ayah dua anak itu. ”Saya divonis HIV/Aids sejak 2003,” katanya salam sebuah acara menjelang peringatan Hari Aids 1 Desember di Gazebo Garden Resto Purawisata, Jogja, (27/11). Ian mengaku tidak tahu kapan mulai menderita penyakit yang belum bisa disembuhkan tersebut. Namun, dia menyatakan sudah ”berkenalan” dengan narkoba jenis putaw dengan jarum suntik pada 1998. Dia juga melakukan hubungan seks dengan pasangannya. Tapi, dia tidak yakin penularan HIV/Aids yang dialaminya lewat kontak seksual itu. ”Saya tidak gonta-ganti pasangan,” jelas lelaki asal Jakarta tersebut. Pertama kali tahu mengidap HIV/Aids, dia merasa down. Jatuh. Hancur. Dia sempat berpikir akan segera menemui ajal. Tapi, ternyata masa-masa suram itu tidak berlangsung lama. Tak sampai setahun. Ian banyak bertemu anggota komunitas peduli ODHA. ”Begitu tahu, saya langsung kasih tahu Ibu. Saya nggak mau merasa sendiri. Awalnya, Ibu terkejut. Tapi, akhirnya beliau mau menerima,” sambungnya. Begitu divonis menderita HIV/Aids, Ian langsung melakukan terapi. Dia meminum obat antirectoviral (ARV) yang bisa didapat gratis dari salah satu rumah sakit di Jogjakarta. Hingga saat ini dia rutin meminum obat itu setiap 12 jam. Dia minum pukul 08.00 dan 20.00. Kata dia, ARV untuk meningkatkan sel darah putih atau CD4. Sebab, pengidap HIV/Aids kekurangan sel darah putih. Ini menjadikan imunitas tubuhnya menurun sehingga mereka rentan sakit. ”Puji Tuhan. Saya sehat sampai sekarang. Dan, tidak mati mendadak seperti yang saya pikirkan dulu,” tuturnya lantas tersenyum. Dia pun memulai hidup baru. Dia tidak lagi mengonsumsi narkoba. Dia memulai hidup dengan positif.

Dia bergabung dengan LSM Victory Plus yang mendampingi ODHA. Di lembaga ini, dia menjadi konsultan yang bertugas memberikan pendampingan bagi para pengidap HIV/Aids. Khususnya, mereka yang baru saja divonis mengidap HIV/Aids. ”Biasanya, yang paling down adalah saat mereka baru tahu. Saya selalu bilang mereka tidak sendiri. Walaupun keluarga tidak merima tapi banyak sesama yang peduli,” terangnya.Mengidap HIV/Aids ternyata tidak membuat Ian mengalami kesulitan untuk menemukan pujaan hatinya. Dia bertemu perempuan yang kini menjadi istrinya. Dia mengaku sebelum menikah membicaraan keadaannya dengan sang calon istri. Sang calon istri pun menerima kenyataan tersebut. Kini, dia dan istrinya dikarunia dua anak. Anak pertama adalah laki-laki yang sekarang berusia lima tahun. Anak kedua yakni perempuan yang kini berusia 1,5 tahun. ”Mereka bertiga (istri dan dua anak) negatif (HIV/Aids). Sejak anak-anak masih dalam kandungan, saya selalu periksakan istri saya,” kata dia.Dia punya pengalaman tersendiri mengenai hubungannya dengan sang istri. Dia berpendapat sang istri tetap negatif HIV/Aids sangat mungkin dikarenakan dia menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual. Ian menyatakan, sebenarnya risiko penularan melalui hubungan seksual relatif rendah. Kisarannya hanya 0,5 persen. Dia juga mengaku melakukan hubungan seksual saat sel darah putihnya tinggi. ”Saya berhubungan selalu dengan kondom untuk mencegah penularan ke istri,” jelas dia. Ian mengaku tidak mengalami pengucilan di masyarakat. Dia pun tak segan membuka keadaannya sebagai ODHA di lingkungannya. Terutama keluarga, teman terdekat, dan komunitasnya yang tahu. Di sisi lain, Ian menilai pengetahuan masyarakat soal HIV/Aids masih relatif rendah. ”Masyarakat masih menganggap ini (HIV/Aids) adalah penyakit jorok. Padahal kan tidak. Selain itu, ada juga yang menganggap HIV/Aids langsung menular dengan bersentuhan,” katanya.Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids (KPA) DIJ Riswanto menyatakan, pihaknya sedang merencang program sosioalisasi yang lebih massif. Saat ini pohaknya sedang menyusun kurikulum untuk sosialisasi HIV/Aids di sekolah. ”Tahun depan akan disosialisasi ke sekolah-sekolah. Biar dengan adanya kurikulum itu guru-guru lebih mudah untuk mengajarkan hal ini kepada murid-murid,” tandasnya. (*/amd)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7131