Indonesia Taraf Epidemi HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 03 December 2012
Topik: HIV/AIDS


JPNN.com, 01 Desember 2012

JAKARTA - Dengan prevalensi lebih dari lima persen dalam populasi resiko tinggi, Indonesia masuk dalam taraf epidemi terkonsentrasi HIV/AIDS. Kondisi itu tentu saja mengkhawatirkan. Perkembangan HIV/AIDS di Indonesia sejak kasus pertama pada 1987 hingga akhir September 2012 terus berkembang di 33 propinsi, pada 34 kabupaten/kota dari 504 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

"Pada 2012, pola penularan tertinggi yaitu, melalui transmisi seksual sebesar 81,8 persen. Sedangkan pada penularan akibat penggunaan alat suntik tidak steril hanya 12,4 persen. Itu berarti, kesadaran untuk tidak bertukar jarum suntik para pengguna narkotika mulai meningkat," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi dalam rangka Hari Aids Sedunia 2012 di Jakarta, Jumat (30/11).

Tapi, lanjutnya, bukan berarti jumlah penderita HIV/AIDS menjadi berkurang. "Malahan, peningkatan tujuh kali lipat justru terjadi pada kelompok pria potensial berdasarkan data prevalensi HIV menurut kelompok responden," jelasnya. Data jumlah kasus AIDS tahun ini dilihat sampai dengan September 2012 sudah sebanyak 15.372 kasus dan diperkirakan akan bertambah hingga akhir tahun ini.

"Kondisi ini memang mengkhawatirkan. Tapi kami berupaya melakukan berbagai program yang komprehensif untuk bisa menekan jumlah kasus baru HIV/AIDS, semoga bisa tercapai pada 2015," yakinnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nafsiah juga menjamin ketersediaan obat antiretroviral atau ARV untuk pasien HIV/AIDS. Antiretroviral (ARV) adalah obat yang tidak menyembuhkan penderita AIDS melainkan hanya menekan dan mengendalikan jumlah virus HIV dalam tubuh penderita. "Untuk stok ARV, kita sudah hitung dan cukup untuk bisa mengcover seluruh pasien ODHA yang membutuhkan ARV," urainya.

Pengadaan obat ARV, kata dia, masih dipusatkan di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan sampai saat ini disubsidi penuh oleh pemerintah. Distribusinya juga masih dipusatkan dan dikirimkan langsung ke layanan yang membutuhkan sesuai dengan permintaan. ”Jumlah Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang sudah mendapatkan pengobatan ARV hingga September 2012 sebanyak 28.383 jiwa. Dengan perincian, 27.155 orang dewasa (96 persen) dan 1.228 orang anak (empat persen),” jelasnya.

Sementara itu, jumlah kasus HIV/AIDS yang diidap kaum perempuan pada tahun ini sangat memprihatinkan. Ini disebabkan perempuan yang tidak berperilaku seksual beresiko tinggi tertular dari pasangan tetap atau suami yang berperilaku seksual beresiko tinggi.

"Situasi ini menempatkan anak pada posisi rentan terkena HIV/AIDS dari orang tuanya dalam proses persalinan, menyusui, dan melalui media lain seperti transfusi darah," ujar Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menneg PP-PA) Linda Amalia Sari saat penutupan roadshow kampanye HIV/AIDS di lima mall di Jakarta, Jakarta, Jumat (30/11).

Oleh sebab itu, lanjutnya, saat ini program-program ditunjukkan khususnya untuk menyasar pada penguatan hak reproduksi dan penguatan posisi tawar perempuan. "Perempuan berhak mendapatkan informasi dan pelayanan yang kuat berkaitan dengan kesehatan, organ reproduksi," tegas Linda.

Menurut dia, kerentanan perempuan terhadap HIV lebih banyak disebabkan ketimpangan gender. Itu diakibatkan ketidakmampuan perempuan untuk mengontrol perilaku seksual atau menyuntik narkoba dari suami. "Mereka juga kurang akses untuk mendapatkan pelayanan pengobatan HIV/AIDS," lontar dia.

Di samping itu, masih tingginya stigma dan diskriminasi masyarakat yang terkena HIV/AIDS, khususnya perempuan menambah beban yang berlipat. Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin dalam hitungan beberapa tahun ke depan akan banyak anak bangsa yang hidup dengan HIV atau yang terburuk Indonesia kehilangan generasi. " Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) perempuan lebih tinggi mengalami diskriminasi dan stigma daripada ODHA laki-laki," kata Linda. (sic/fdi)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7168