Perempuan dan Anak Paling Rentan
Tanggal: Monday, 03 December 2012
Topik: Narkoba


FAJAR, 01 Desember 2012

MAKASSAR -- Perempuan dan anak paling rentan terkena penyebaran virus HIV/AIDS. Kelompok ini paling mudah tertular tanpa mendapat perlindungan.

Kepala Biro Napza & HIV-AIDS Sulsel, Sri Endang Sukarsih mengatakan, rawannya anak dan perempuan tertular HIV/AIDS menjadi tema peringatan Hari AIDS tahun ini. Tema ini diangkat agar masyarakat prihatin dan kalangan perempuan dapat mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk melindungi dirinya.

“Salah satu penularan yang banyak membuat perempuan terkena HIV/AIDS adalah hubungan seksual. Perempuan tidak memiliki kemampuan melindungi diri dengan menolak berhubungan tanpa pengaman. Perempuan lebih sedikit menggunakan pengaman. Kondisi ini terjadi pada istri sah maupun pada pekerja seks komersial,” tutur Endang, Jumat, 30 Desember.

Penularan HIV/AIDS juga dapat melalui darah, cairan tubuh seperti air susu ibu dan cairan saat mengandung. Nah, dari perantaraan cairan tubuh inilah, anak dapat tertular terkena penyakit AIDS. Dari akumulasi penderita HIV/AIDS di Sulsel hingga Juni 2012 sebanyak 5.658 orang, 70 persen di antaranya laki-laki, 20 persen perempuan dan 10 persen transgender. Jumlah ini meningkat dibanding tahun lalu yang tercatat 4.988 orang.

Dari jumlah tersebut, 90 persen di antaranya berada di Kota Makassar. Penyebaran tertinggi di Makassar disebabkan faktor jumlah penduduk yang tinggi serta interaksi sosial yang juga lebih tinggi di kota metropolitan yang rawan mengakibatkan mudahnya penularan HIV/AIDS.

Sampai sejauh ini, upaya pencegahan penularan masih dilakukan dengan komunikasi ,informasi, dan edukasi. Program ini, kata Endang, dilakukan melalui sosialisasi, diskusi, dan workshop untuk meningkatkan pemahaman dan bahaya penularan penyakit.

Bila dikatakan angkanya terus meningkat, tuturnya, juga dipengaruhi fenomena gunung es. Selama ini, banyak yang tidak terungkap dan menganggap sebagai aib, sehingga harus ditutupi.

Mirip Jakarta 98

Pengelola Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) kota Makassar, Tengku Rodham mengakui jika kasus HIV/AIDS di kota ini terus mengalami peningkatan. Hingga Oktober 2012, KPA Makassar mencatat jumlah penderita HIV/AIDS mencapai 4.866 kasus.

Dari jumlah ini, 90 persen penderita HIV/AIDS se Sulsel, berada di kota Makassar. “Meningkat rata-rata 25 sampai 30 kasus setiap tahun,” ujar Rodham di ruang kerjanya, Jumat, 30 November.

Rodham mengungkapkan, berdasarkan temuan lapangan, penularan HIV/AIDS di Makassar lebih besar disebabkan melalui transfusi seksual. “Kalau tahun-tahun sebelumnya penularannya lebih disebabkan oleh penggunakan jarum suntik oleh pecandu narkoba, sekarang mulai bergeser ke hubungan seksual,” tuturnya.

Hal ini, jelas dia, disebabkan karena meningkatnya perilaku seks bebas. “Sekarang juga di Makassar sudah ada yang namanya seks lelaki dengan lelaki. Panti pijat lelaki sudah ada di Makassar, di mana pekerjanya merupakan para laki-laki yang siap melayani kaum lelaki yang ingin berhubungan seksual. Fenomena Makassar ini persis sama dengan Jakarta tahun 1998 lalu, di mana komunitas pekerja seksual mulai berkembang pesat,” ungkapnya.

Dia menambahkan, jumlah Wanita Pekerja Seksual (WPS) di Makassar saat ini mencapai 3.083. WPS ini, katanya, terbagi dalam dua kategori, yakni WPS langsung seperti yang ada di Jalan Nusantara, dan WPS tidak langsung yang beroperasi di jalan-jalan dan rumah kos. Sementara waria pekerja seksual tercatat 895 orang dan gay 589 orang. Untuk mencegah meningkatnya penderita HIV/AIDS ini, KPA, kata Rodham, terus meningkatkan proses edukasi terhadap masyarakat melalui sosialisasi dan penyebaran brosur. (rif-kas/min)

Sumber: http://www.fajar.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7169