Pemkab Indramayu Sediakan Empat Puskesmas Untuk Tangani HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 03 December 2012
Topik: HIV/AIDS


PRLM, 01 Desember 2012

INDRAMAYU - Pemkab Indramayu menyediakan layanan di Empat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk menangani persoalan HIV/AIDS mulai dari tingkat bawah. Penanganan khusus sejak dini dinilai perlu untuk mencegah makin meluasnya penyebaran.

"Mereka bukan hanya sakit, tapi punya masalah yang kompleks di sekitarnya, maka perlu penanganan khusus juga," kata Kepala Puskesmas Jatibarang Indramau, Titin Ning, ditemui Jumat (30/11).

Selain Puskesmas Jatibarang, pintu layanan HIV/AIDS untuk kawasan Indramayu juga tersedia di Puskesmas Margadadi, Puskesmas Karangampel dan Puskesmas Kandanghaur.

Sementara tes medis serta penanganan lebih lanjut dilakukan di RSUD Indramayu dan RS Bhayangkara Patrol.

Titin mengatakan, dalam satu bulan, datang sedikitnya 50 hingga 60 pasien terkait dengan infeksi menular seksual (IMS). Infeksi ini menjadi salah satu titik rawan terjadinya HIV/AIDS.

Sebagian besar mereka berada dalam usia produktif. Setelah melakukan tes lebih lanjut, dua orang dinyatakan positif HIV/AIDS.

Dia menambahkan, pasien yang datang tidak hanya dari kawasan Jatibarang. Justru banyak yang datang dari wilayah lain agar konsultasi dan penanganan yang dilakukan lebih nyaman, karena jauh dari orang yang mengenali mereka.

Hanya saja, dia mengatakan, IMS memiliki karakter khusus dalam penanganannya. Maka puskesmas tersebut menyediakan tim khusus untuk menangani penyakit IMS dengan kunjungan rumah.

Ketika ada satu pasien datang ke puskesmas untuk berkonsultasi, tim tersebut menambil langkah lanjutan dengan mendatangi rumahnya.

Dengan penyakit yang bersifat menular, maka dirunut pula mata rantainya agar pengobatan bisa dilakukan secara menyeluruh.

Di sisi lain, tim ini juga melakukan pendekatan kepada lingkungan terdekat tempat pasien berdomisili. Pemerintah desa ikut dilibatkan untuk mencegah makin terpojoknya penderita IMS atau HIV/AIDS di tengah stigma negatif masyarakat.

"Akan semakin sulit jika mereka dikucilkan oleh masyarakat, maka kami juga melakukan pendekatan kepada lingkungan sekitar," ujarnya.

Hal senada dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Indramayu, Dedi Rohendi. Stigma yang tumbuh di masyarakat menjadi salah satu tantangan dalam menangani HIV/AIDS.

Rasa malu atau anggapan bahwa penderitanya adalah aib ikut mempersulit petugas medis dalam penanganan. Maka pendekatan oleh petugas di lapangan ikut menentukan keberhasilan.

Pada dasarnya, niat dari penderita untuk memeriksakan diri jadi titik awal tertanganinya penyakit ini. Kemudian petugas medis melakukan tindak lanjut atas laporan tersebut.

"Pertama mengobati yang sudah kena. Kedua mengeliminasi agar tidak menular ke yang lain," tuturnya.

Dia mengatakan, hingga Oktober 2012, angka kasus HIV/AIDS di Indramayu mencapai 885 kasus. Angka tersebut kumulatif, terhitung sejak pendataan dimulai, tahun 1993.

Dari angka tersebut, penderita HIV sebanyak 339 orang dan AIDS 546 orang. Sebanyak 119 di antaranya telah meninggal dunia.

Sementara dari aspek gender, 618 penderita adalah perempuan dan 267 laki-laki. Penularan terbesar terjadi lewat hubungan seksual. (A-179/A-89)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7173