Penderita AIDS Terbanyak di Cirebon Untuk Provinsi Jawa Barat
Tanggal: Tuesday, 04 December 2012
Topik: Narkoba


JPNN.com, 02 Desember 2012

KEJAKSAN - Dalam hitungan prevalensi (jumlah kasus dibagi jumlah penduduk dikali 100 persen), Kota Cirebon menempati ranking pertama se-Jawa Barat (Jabar) jumlah penderita HIV AIDS.

“Karena jumlah penduduk lebih sedikit dibanding ketiga kota lainnya. Jadi, Kota Cirebon menempati urutan tertinggi dalam hitungan prevalensi,” kata pengelola program dan monev Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Cirebon, Retnoningsih SKM, Sabtu (1/12).

Dijelaskan, secara umum Kota Cirebon menduduki ranking keempat penderita AIDS tertinggi se-Jabar. Jika dinomorurutkan, posisi pertama Kota Bandung, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon dan Kota Cirebon. Di Kota Cirebon sejak 2004-2012, tercatat 511 orang positif terkena HIV AIDS.

Retno mengungkapkan, langkah antisipasi sudah dilakukan Pemkot Cirebon. Bersama DPRD Kota Cirebon, pemkot membuat Perda Nomor 1 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS. Sebagai perbandingan, kabupaten/kota lain belum ada yang memiliki aturan hukum terkait persoalan tersebut. Bahkan Provinsi Jabar pun tidak memiliki perda semacam itu. “Kita selangkah lebih maju,” tegasnya.

Perempuan berkacamata itu menjelaskan, aturan daerah dalam bentuk perda diharapkan mampu meningkatkan pencegahan dan penularan penyakit berbahaya yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Keampuhan perda tersebut terlihat dari indeks grafik data resmi jumlah penderita HIV AIDS di Kota Cirebon. “Mengalami penurunan yang signifikan. Karena di dalam perda itu mengatur dengan jelas dan ketat,” ucapnya.

Isi perda antara lain, bagi penderita yang sengaja menularkan, akan dikenakan sanksi denda dan penjara. Begitu pula tempat hiburan. Mereka diharuskan menjaga kesehatan pemandu lagu (PL) agar tidak terjangkit penyakit AIDS. Jika ada PL terkena HIV AIDS atau sengaja menularkan, pemerintah akan menindak tegas tempat hiburan tersebut.

Dukungan pemkot ditunjukkan pula lewat besaran anggaran untuk KPA yang naik setiap tahunnya. Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai aktifitas. Seperti sosialisasi dan penyuluhan hingga ke tingkat RW, sekolah-sekolah, serta tempat strategis lainnya. Meski data jumlah penderita AIDS di Kota Cirebon hanya melalui satu pintu, Retno tidak menjamin angka itu real di lapangan secara utuh dan penuh. “Gunung es pasti masih banyak. Itu yang hanya dipermukaan saja,” terangnya.

Menurut WHO, lanjut dia, satu kasus HIV AIDS yang terungkap, berarti masih ada 200 kasus sama yang belum terungkap. Masyarakat harus mewaspadai penularan penyakit HIV AIDS. Menghindari hubungan seks berisiko yang tidak menggunakan kondom dan berganti pasangan. Penularan HIV AIDS bisa dari cairan sperma, cairan vagina, darah, jarum suntik dan alat cukur yang tidak steril, ibu penderita HIV AIDS yang menyusui, luka penderita bertemu luka orang lain.

Sementara ini belum ada obat untuk HIV AIDS. Namun ada obat untuk menekan angka perkembangan virus HIV AIDS, yaitu Anti Retro Viral (ARV). Obat tersebut hanya ada di tempat tertentu. Di antaranya RSUD Gunung Jati, Puskesmas Larangan, dan tempat yang ditunjuk. Untuk mendapatkan obat ARV, penderita harus diperiksa dahulu. “Kalau kekebalannya bagus, tidak usah minum. ARV memiliki efek di kulit hitam dan sering mimpi buruk,” tandasnya. (ysf)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7187