PROGRAM ZERO HIV/AIDS 2015: PNS Solo Akan Jalani Tes Kesehatan
Tanggal: Tuesday, 04 December 2012
Topik: HIV/AIDS


SoloPos, 02 Desember 2012

SOLO — Seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo akan dites kesehatan terkait pencegahan penyakit HIV/AIDS. Langkah ini sekaligus sebagai upaya Pemkot menuju Zero HIV/AIDS 2015 mendatang.

Demikian disampaikan Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo ketika dijumpai wartawan seusai acara Stop HIV/AIDS melalui Kesetaraan Gender di Plasa Sriwedari, Minggu (2/12/2012). Rudy mengakui Solo kota kedua terbesar temuan angka kasus penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Jawa Tengah setelah Semarang. Namun demikian pihaknya akan terus menekan angka kasus HIV/AIDS, bahkan menargetkan zero HIV/AIDS pada 2015 mendatang. “Tahun depan akan dilakukan tes kesehatan dan urine bagi PNS. Tidak hanya untuk mengetahui HIV/AIDS saja, tapi juga Narkoba,” katanya.

Menurut Rudy, tes kesehatan tersebut berguna untuk mengetahui kondisi para PNS. Sedangkan untuk tes urine juga bakal berguna untuk mengetahui apakah PNS yang bersangkutan terbebas dari pemakaian narkoba dan zat adiktif lainnya. Namun, Rudy belum bisa memastikan kapan tes kesehatan dan tes urine akan dilaksanakan. Rudy mengaku prihatin dengan meningkatnya jumlah pengidap HIV/AIDS. Dia pun berharap agar warganya dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang bisa menyebabkan terjangkit virus mematikan tersebut.

Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Solo Tomi Prawoto menyebutkan angka kasus HIV/AIDS se-Soloraya selama Oktober 2005 sampai saat ini tercatat sebanyak 855 kasus. di Kota Solo periode 2005-2012 mencapai 855 orang. Jumlah tersebut diperoleh dari Rumah Sakit Dr Oen, RSUD Moewardi dan Puskesmas Manahan, Solo yang selama ini intens menangani kasus penderita HIV/AIDS.

Dikatakannya, sebanyak 222 kasus di antaranya ditemukan pada ibu rumah tangga, anak dan terpapar. Dia menuturkan tingginya penderita HIV/AIDS untuk Ibu rumah tangga karena ketimpangan gender, sehingga wanita tidak bisa mengontrol perilaku seksual suami. Penularan HIV/AIDS disumbangkan oleh laki-laki yang melakukan hubungan seks berisiko. Hal itu salah satu penyebab penderita HIV/AIDS untuk kalangan ibu-ibu rumah tangga terbilang tinggi. “Banyak suami yang jajan luar. Padahal dia tidak tahu membawa penyakit menular itu ke istrinya,” tuturnya.

Dia mengatakan angka kasus HIV/AIDS dari tahun ke tahun trennya naik. Tahun 2010 lalu hanya 175 kasus, sedangkan 2011 naik menjadi 200 kasus. Dia mengatakan terus melakukan pendampingan bagi penderita HIV/AID se-Soloraya. Dalam pendampingan ini, pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat.

Sumber: http://www.solopos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7195