Sulitnya Deteksi PSK Terselubung
Tanggal: Monday, 10 December 2012
Topik: Narkoba


Bali Post, 06 Desember 2012

DATA mengejutkan disampaikan Ketua Komisi Penanggulangan HIV/AIDS sekaligus Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra, belum lama ini. Ia menyebut angka kematian ibu hamil akibat terinfeksi virus HIV/AIDS di Buleleng ternyata cukup mengkhawatirkan. Bahkan, Buleleng menduduki peringkat nomor dua di Bali setelah Denpasar dengan jumlah kematian ibu hamil sebanyak 224 orang.

Yang lebih memprihatinkan adalah penyebab dari banyaknya ibu hamil yang positif tertular HIV/AIDS itu disebabkan oleh hubungan seks dengan suami yang sudah positif tertular virus HIV/AIDS. Selain itu, banyak ibu hamil tertular virus mematikan itu karena sebelumnya sempat berselingkuh dengan pria yang juga sudah positif tertular HIV. Jika dirunut lagi, pria yang positif tertular HIV/AIDS itu lebih banyak terjadi akibat berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) atau waitress kafe remang-remang yang juga banyak merangkap sebagai PSK.

Informasi yang diperoleh dari Yayasan Citra Usada Indonesia (YCUI) Buleleng menyebutkan bahwa di Buleleng terdapat setidaknya dua lokalisasi yang menampung puluhan PSK. Di wilayah Bungkulan terdapat sekitar 40 PSK dan di wilayah Celukan Bawang terdapat sekitar 20 PSK. Di dua tempat itu, YCUI sudah menempatkan posko untuk memberi sosialisasi secara rutin, termasuk memeriksa kesehatan para PSK tersebut. Hal itu dilakukan bukan hanya untuk menghindarkan PSK dari penyebaran virus HIV/AIDS, tetapi juga menyelamatkan para lelaki hidung belang dari penularan virus mematikan tersebut.

Selain PSK di dua lokalisasi di Buleleng, terdapat banyak PSK terselubung yang berprofesi sebagai waitress kafe atau pedagang di warung patokan (semacam warung remang-remang). Diperkirakan ada ratusan kafe remang-remang di seluruh kecamatan di Buleleng. Setiap kafe memperkerjakan sebanyak 12 hingga 15 waitress. Jika terdapat seratus kafe di Buleleng, bisa diperkirakan jumlah cewek kafe di Buleleng lebih dari angka seribu orang.

Pentolan YCUI Buleleng Made Ricko Wibawa mengatakan, sebelumnya penyebaran virus melalui hubungan seks dengan waitress kafe sulit terdeteksi. Namun belakangan ada ide untuk membentuk pokja kafe di masing-masing kecamatan. Untuk sementara ini baru terdapat dua pokja kafe yakni di Kecamatan Seririt dan Kecamatan Gerokgak. Pokja kafe ini anggotanya antara lain para pemilik kafe di masing-masing kecamatan. Dengan masuknya pemilik kafe sebagai anggota pokja, maka pemilik kafe juga ikut mensosialisasikan kepada anak buahnya tentang pentingnya memeriksakan kesehatan agar terhindar dari virus HIV/AIDS. ''Dalam hal ini yang penting adalah kesadaran pemilik kafe. Jika pemilik kafe tak sadar, maka sulit membentuk pokja,'' katanya. (ole)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7224