Jika Tak Diobati, Pengidap AIDS Bisa Buta
Tanggal: Monday, 10 December 2012
Topik: Narkoba


detikHealth, 10 Desember 2012

Jakarta, Karena tak mudah terdeteksi, pasien AIDS seringkali tak tahu jika ia mengidap penyakit tersebut. Bisa juga karena pengobatannya yang menelan banyak bisa membuat pasien enggan berobat. Padahal jika penyakit yang merusak sistem kekebalan ini tak terdiagnosis dan tak terobati dalam waktu lama dapat memicu munculnya virus yang disebut cytomegalovirus (CMV) dan menyebabkan kebutaan.

Hal ini dikemukakan oleh Dr. Linda Visser dari Department of Ophthalmology, University of KwaZulu-Natal, Afrika Selatan yang telah menangani gangguan mata pada pengidap HIV sejak tahun 1999.

Dr. Visser mengungkapkan bahwa cytomegalovirus ini seringkali menyerang retina atau jaringan saraf mata. Masalahnya, jika rusak jaringan itu takkan dapat diregenerasi lagi. Tapi jika salah satu bagian dari retina yang bertanggung jawab terhadap proses penglihatan tidak terpengaruh virus, gangguan ini masih bisa diobati.

"Virus ini menyebabkan retina, terutama di bagian makularnya mengalami nekrosis. Padahal sekali makular mengalami nekrosis maka Anda takkan bisa melihat lagi dan tak ada yang bisa dilakukan untuk mengembalikan penglihatan Anda. Beruntung tidak semua pasien yang makularnya terkena, tapi di periferi atau pinggirannya sehingga kami masih bisa mengatasinya," ujar Visser seperti dilansir dari indiavision, Senin (10/12/2012).

Dari keterangan Dr. Visser juga terungkap bahwa 75 persen orang yang terinfeksi HIV akan mengalami sejumlah gangguan mata, sedangkan 10 persen lainnya benar-benar buta seluruhnya, baik pada satu mata ataupun keduanya.

"Namun sebenarnya kasus semacam ini hanya ditemukan pada pasien immunocompromised (kekebalannya lemah) seperti halnya pasien HIV, sebaliknya kami tak pernah menemukan kasus serupa pada pasien imunokompeten. Lagipula sejauh ini HIV dilaporkan sebagai penyebab tekanan kekebalan yang paling banyak ditemukan maka kami bisa melihat kemungkinan gangguan mata ini pada 95 persen pasien HIV positif. Tapi saya juga pernah melihatnya pada pasien transplantasi, leukemia dan kanker lainnya," paparnya.

Pada pasien yang terinfeksi HIV-pun, gangguan ini hanya terjadi ketika pasien membiarkan kondisinya terlalu lama tanpa diobati sama sekali dan jumlah sel CD 4-nya menurun hingga mencapai jumlah yang berbahaya.

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7243