KPA Belum Bisa Terapkan Wacana Mengkriminalkan Pembeli Seks
Tanggal: Tuesday, 11 December 2012
Topik: Narkoba


Suaramerdeka.com, 10 Desember 2012

UNGARAN - Rendahnya kesadaran pria hidung belang menggunakan kondom sebagai upaya pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Semarang dikhawatirkan bisa manjadi bom waktu bagi lingkungan sekitar.

Guna mengantisipasinya, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Semarang, setiap tiga bulan sekali telah mendistribusikan lebih 20-30 ribu kondom ke sejumlah titik rawan penyebaran HIV/AIDS.

Dikatakan pengelola program KPA Kabupaten Semarang, Taufikurohman, kesadaran pemakaian kondom di tingkat Wanita Pekerja Seks (WPS) sudah baik. Terlepas dari itu, pihaknya belum bisa merealisasikan wacana KPA pusat tentang mengkriminalkan pembeli seks atau pria hidung belang di Kabupaten Semarang.

"Kami belum mengarah ke sana karena perlu pemikiran dan aturan, saat ini sosialisasi penggunaan kondom masih dilakukan agar bisa diterima di titik rawan penyebaran HIV/AIDS. Distribusi 20-30 ribu kondom per tiga bulan pun menurut kami belum cukup, pasalnya jumlah WPS di Kabupaten Semarang ada sekitar 750 orang," katanya kepada wartawan, Senin (10/12).

Dijelaskan, estimasi kebutuhan kondom untuk 750 WPS bila semalam melayani tiga pembeli seks berarti membutuhkan 2.250 kondom per hari atau 135 ribu per tiga bulan. Padahal, KPA Kabupaten Semarang baru bisa memberikan maksimal 20-30 ribu per tiga bulan, artinya diperkirakan ada 105 ribu transaksi seks tanpa kondom.

"Kondom kami didistribusikan gratis ke 160 outlet di empat titik rawan penyebaran HIV/AIDS, diantaranya Bandungan, Kopeng, Gembol, dan Tegal Panas," jelasnya.

Dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang diketahui, per Oktober 2012 di Kabupaten Semarang ada 283 penderita HIV/AIDS. Jumlah tersebut meliputi penderita HIV 232 orang dan AIDS 51 orang. Prosentase penularan tertinggi berasal dari pekerja seks yakni 33,49 %, disusul wiraswasta 18,70 %, ibu rumah tangga 8,69 %, petani 2,60 %, dan di luar yang disebutkan mencapai 11,74 %.

"Penderita HIV/AIDS dari kalangan ibu rumah tangga memang cukup banyak. Hanya saja, kami belum melakukan kajian apakah yang bersangkutan merupakan ibu rumah tangga yang tertular atau memang eks-pekerja seks," pungkas Taufikurohman.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7247