Catatan dari Peringatan Hari AIDS se-Dunia Melawan Ancaman Epidemi HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 11 December 2012
Topik: HIV/AIDS


Suara Karya, 11 Desember 2012

Puncak acara peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) Tahun 2012 di Indonesia akan diselenggarakan hari ini tanggal 11 Desember 2012. Tema peringatan adalah "Lindungi Perempuan dan Anak Dari HIV dan AIDS". Tema itu adalah upaya untuk mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam meningkatkan perlindungan bagi perempuan.

Harus diakui kaum perempuan rentan terinfeksi HIV dan potensial berdampak terhadap anak. Melalui tema HAS diharapkan terhapus stigma dan diskriminasi serta meningkatkan partisipasi laki-laki atau suami dalam pemenuhan hak reproduksi perempuan.

Menurut Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi data yang dihimpun menunjukkan, terjadi peningkatan level status dalam kasus HIV/AIDS. Saat ini Indonesia telah masuk pada status epidemi HIV dan AIDS di Indonesia pada tingkat concentrated epidemic level oleh karena angka prevalensi kasus HIV dan AIDS di kalangan sub populasi tertentu di atas 5%. Hasil Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) tahun 2009 menunjukkan angka estimasi Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di kalangan wanita penjaja seks (WPS) langsung 6%, WPS tidak langsung 2%, waria 6%, pelanggan WPS 22%, pasangan pelanggan 7%, lelaki seks lelaki (LSL) 10%, warga binaan 5%, pengguna napza suntik (penasun) 37%, dan pasangan seks penasun 5%.

Bahkan di Provinsi Papua dan Papua Barat, status epidemi sudah memasuki tingkatan generalized epidemic level oleh karena prevalensi HIV pada masyarakat umum khususnya populasi 15-49 tahun sudah mencapai 2,4%. Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia terkonsentrasi pada populasi kunci, yang berasal dari dua cara penularan utama yaitu transmisi seksual dan penggunaan napza suntik. Jumlah kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan di Indonesia meningkat tajam dari 7.195 di tahun 2006 menjadi 76.879 di tahun 2011 (berdasarkan data Kemenkes, Laporan Situasi HIV dan AIDS di Indonesia, tahun 2006 dan 2011). Menurut estimasi nasional infeksi HIV tahun 2009, diperkirakan terdapat 186.257 orang terinfeksi HIV dan 6,4 juta orang berisiko tinggi terinfeksi HIV di Indonesia (data Kemenkes, Estimasi Penduduk Dewasa yang Berisiko Terinfeksi HIV, 2009).

Epidemi HIV/AIDS

Dari data yang dilaporkan Kemenkes menunjukkan sejak pertama kali kasus HIV ditemukan yaitu pada tahun 1987 sampai dengan Maret 2012, terdapat 30.430 kasus AIDS dan 82.870 terinfeksi HIV di 33 provinsi di Indonesia. Jumlah kasus HIV tertinggi adalah di DKI Jakarta sebanyak 20.126 kasus. Prosentase kumulatif AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (46,0%,). Prioritas upaya penanggulangan secara nasional tetap fokus bekerja untuk dan dengan populasi kunci, dilaporkan juga mengenai jumlah perempuan yang positif HIV yang perlahan-lahan meningkat.

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar menegaskan bahwa peningkatan jumlah kasus HIV dan AIDS pada perempuan, yang tidak berperilaku seksual berisiko tinggi namun tertular HIV dari pasangan tetapnya yang berperilaku seksual beresiko tinggi amat memprihatinkan. Situasi ini menempatkan anak pada posisi rentan terhadap HIV dan AIDS dari orang tuanya yang mengidap HIV dan AIDS dalam proses persalinan, menyusui, dan melalui media lain seperti transfusi darah. Oleh karena itu, saat ini program-program ditujukan khususnya untuk menyasar pada penguatan hak-hak reproduksi dan penguatan posisi tawar perempuan. Perempuan berhak mendapatkan informasi dan pelayanan yang cukup mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan dan organ reproduksinya, dan perempuan diharapkan sadar serta mengerti benar akan hak-hak reproduksinya.

Stigma dan Diskriminasi

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri memprihatinkan kondisi ODHA khususnya bergender perempuan. Menurut Mensos, stigma masyarakat terhadap HIV dan AIDS juga menambah berat masalah sosial yang dialami ODHA terutama ODHA perempuan. Masyarakat cenderung menganggap HIV dan AIDS hanya dialami oleh perempuan penjaja seks, padahal saat ini telah banyak perempuan yang tidak melakukan perilaku berisiko, namun terinfeksi dari pasangan tetapnya (suami), dan hal ini dapat berdampak langsung terhadap anak. Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan sosial masyarakat. Pengidap HIV dan AIDS dapat kehilangan pergaulan dan interaksi sosial. Sebagian akan kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan kerawanan sosial. Sebagian mengalami keretakan rumah tangga hingga mengalami perceraian. Bahkan yang mengenaskan lagi adalah terjadinya pengucilan dan pengusiran dari lingkungan masyarakatnya ( baca : testimoni penderita HIV/AIDS di Pulau Dewata).

Meningkatnya jumlah anak yatim dan piatu akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu perlu ada perhatian khusus terhadap persoalan stigma dan diskriminasi untuk mendukung program-program penanggulangan AIDS dimasa mendatang. Resiko penularan HIV tidak hanya terbatas pada populasi berisiko tinggi, tetapi juga dapat menular pada pasangan atau istrinya, bahkan anaknya. Hasil proyeksi 2010-2014 menunjukkan adanya peningkatan jumlah ODHA pada kelompok perempuan dari sebesar 19% tahun 2008 menjadi 26% pada tahun 2014. Oleh karena itu kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak merupakan upaya penting untuk mengurangi ancaman, kerentanan serta melindungi dan mencegah perempuan dan anak-anak terhadap penularan HIV. Di banyak tempat di dunia, ditemukan bahwa infeksi HIV pada perempuan atau remaja putri tidak semata-mata disebabkan oleh ketidaktahuan atau ketidakpahaman akan cara-cara pencegahan. Seringkali infeksi HIV terjadi tidak hanya karena perempuan dan remaja putri tidak memiliki kekuatan sosial dan ekonomi, sehingga mereka tidak mempunyai posisi tawar untuk melindungi diri mereka tetapi juga disebabkan oleh lingkungan adat istiadat dan budaya yang menyebabkan mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengambil keputusan. Kunci pencegahan penularan HIV dan AIDS yang peduli perempuan adalah pencegahan penularan HIV dan AIDS yang mengikutsertakan segala upaya untuk turut menanggulangi ketidaksetaraan gender. Ketidaksetaraan gender jelas-jelas memiliki potensi besar untuk memicu meluasnya penyebaran infeksi HIV.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Drs Samsudi, MM berpendapat pemberian pengetahuan secara luas kepada masyarakat melalui Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) sedapat mungkin dilakukan dengan menggunakan jalur yang telah ada karena terbatasnya sumber daya yang dimiliki. "Pemberian pengetahuan dengan mengintegrasikan materi secara sistematis dapat dilakukan melalui jalur kementerian/lembaga, lintas sektor, lembaga swadaya masyarakat (LSM), sektor swasta, organisasi profesi, organisasi perempuan, organisasi keagamaan, dan lainnya," ujar Dirjen Rehsos Samsudi.

Dukungan Kemensos

Tak hanya sosialisasi terhadap bahaya HIV/AIDS saja yang dilakukan, pemerintahan SBY- Boediono juga memberikan atensi khusus bagi orang yang telah terjangkit HIV/AIDS (ODHA). Perhatian terhadap persoalan HIV/AIDS ditunjukkan oleh Kementerian Sosial dengan beragam program diantaranya melalui kegiatan pelayanan sosial dalam Rumah Perlindungan Sosial ODHA di Sukabumi, dimana ODHA dapat menerima bimbingan fisik, mental, sosial, dan vokasional serta bantuan stimulan usaha. Tujuannya adalah bagaimana ODHA dapat kembali berfungsi secara sosial setelah kembali dalam kehidupan bermasyarakat. Perhatian lain ditunjukkan dengan pemberian asistensi sosial yang ditujukan untuk bantuan tambahan nutrisi dan akses layanan kesehatan. Kemensos juga memiliki program pelayanan sosial ODHA dan pemberdayaan keluarga yang meliputi pemberian bimbingan sosial keterampilan, pemberian modal usaha dan pendampingan kepada ODHA juga kepada keluarga yang memiliki anak positif HIV (ADHA) dan melengkapinya dengan pemberian jaminan hidup bagi Anak dengan HIV AIDS (ADHA) berupa dukungan nutrisi, akses kesehatan dan pendidikan disertai pendampingan sosial.

Realisasi

Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial Kemensos Dr. Sonny W Manalu MM, menjelaskan realisasi kegiatan Kemensos tahun 2012 diwujudkan dalam program pemberian bantuan pengembangan usaha mandiri ODHA yang diberikan kepada 40 kepala keluarga di 5 (lima) kota yakni Yogyakarta, Bandung, Medan, Makasar dan Sorong. Selain itu, juga dukungan dana dekonsentrasi pemerintah pusat yang diberikan kepada 33 provinsi untuk kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi. Kemensos menyadari dukungan anggaran yang diberikan dalam penanganan HIV/AIDS masih minim. Oleh karenanya Kemensos mengharapkan agar daerah memiliki partisipasi aktif mendukung kegiatan tersebut. "Dana dari Kemensos sifatnya stimulan. Kita menyadari tentu itu jauh dari memadai untuk memberikan perhatian kepada semua penderita HIV/ AIDS di Indonesia. Solusinya, daerah baik itu maupun kabupaten harus proaktif memberi dukungan dalam bentuk policy anggaran APBD, karena bagaimanapun mereka juga memiliki tanggung jawab itu," ujarnya.

Perang terhadap HIV/ AIDS memang membutuhkan kerjasama lintas sektoral. Berbagai upaya penanggulangan dan pencegahan penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia telah dilakukan, baik oleh kementerian/lembaga, swasta, lembaga masyarakat, lembaga donor maupun oleh kelompok masyarakat peduli AIDS, sesuai dengan tugas pokok masing-masing. Namun, tentu upaya-upaya yang telah dilakukan masih perlu ditingkatkan baik kualitas, kuantitas, keterpaduan, maupun kebersamaannya. Momentum peringatan Hari AIDS Sedunai (HAS) Tahun 2012 diharapkan mampu merekatkan semangat semua pihak untuk bekerja secara komprehensif terpadu dan berkesinambungan dalam perang melawan HIV/AIDS. (Sofyan)

Sumber
: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7248