Penanganan HIV/AIDS Tak Bisa Andalkan Bantuan LN
Tanggal: Wednesday, 12 December 2012
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 11 Desember 2012

JAKARTA - Para kepala daerah diimbau untuk menyisihkan anggaran yang lebih besar dalam menangani HIV/AIDS di wilayah masing-masing. Penanganan penyakit menular ini juga sudah saatnya dilakukan secara mandiri dan tidak terlalu banyak tergantung kepada bantuan luar negeri.

Wakil Presiden Boediono mengungkapkan pentingnya para kepala daerah untuk lebih memerhatikan penanganan HIV/AIDS pada acara Puncak Peringatan Hari AIDS Sedunia tahun 2012 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (11/12/2012).

"Kita tidak boleh terus-menerus mengandalkan pada bantuan luar negeri," kata Wapres dalam acara yang juga dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar.

Wapres menjelaskan, sebanyak 12 provinsi di Tanah Air memiliki jumlah kasus HIV/AIDS terbesar sehingga membutuhkan perhatian khusus dari para kepala daerah. Duabelas provinsi tersebut adalah DKI Jakarta, Papua, Papua Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Riau dan DI Yogyakarta

Wapres juga mengajak dunia usaha di semua daerah untuk memasukkan program pencegahan dan pemberantasan HIV/AIDS ke dalam daftar CSR mereka. "Peran kelompok masyarakat, termasuk mahasiswa, pemuda juga sangat krusial sebagai ujung tombak di lapangan," katanya.

HIV/AIDS, kata Wapres Boediono, adalah penyakit yang bisa mengenai siapa saja termasuk bahkan anggota keluarga sehingga perlu langkah yang konsisten dan sistematis.

Sementara itu, pada acara tersebut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ditunjuk sebagai koordinator pelaksana kampanye AIDS sedunia tingkat nasional 2012.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar menjelaskan, tema kampanye tahun ini adalah "Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS". Perempuan dan anak, sebagai fokus kampanye HIV/AIDS tahun 2012, kata Linda, harus terus didukung dan diperhatikan karena secara biologis sangat rentan.

"Kurangnya pengetahuan perempuan tentang HIV/AIDS berdampak terhadap anak terutama bayi yang dikandungnya," katanya.

Karena itu, di masa mendatang diharapkan ada upaya bersama antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan hak perempuan dalam mengakses layanan kesehatan termasuk pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS dan lain sebagainya.

Sejak kasus pertama terdeteksi di Tanah Air pada tahun 1987, kasus HIV/AIDS meningkat sangat cepat. Pada akhir Juni 2012 terdapat 118.865 kasus, yang terdiri dari 86.762 kasus HIV dan 32.103 kasus AIDS, dengan rasio penderita laki-laki dan perempuan 2,41 berbanding satu.

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7252