196 Anak Balita Idap HIV/AIDS, 8 Juta Gizi Buruk
Tanggal: Friday, 21 December 2012
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 21 Desember 2012

JAKARTA — Laporan akhir tahun 2012 Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menorehkan tinta kelabu kondisi anak di Indonesia. Dari aspek kesehatan dan kesejahteraan dasar, Komnas PA mendapat data sebanyak 196 anak mengidap HIV/AIDS dan 8 juta anak mengalami gizi buruk.

Sekretaris Jenderal Komnas PA Samsul Ridwan menjabarkan, 196 anak itu terdiri dari usia bawah tiga tahun atau batita dan bawah lima tahun atau balita. Jumlah keduanya pun bertambah secara signifikan dan menimbulkan kekhawatiran jumlah itu akan bertambah lagi pada tahun selanjutnya.

"Batita sebanyak 132 orang, 79 bayi mengidap HIV dan sisanya, 53, mengidap AIDS. Sementara balita berjumlah 64 orang, 26 bayi mengidap HIV dan 38 bayi mengidap AIDS," papar Samsul saat membacakan laporan akhir tahun di kantor Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (21/12/2012).

Samsul menjelaskan, pada umumnya, bayi-bayi malang tersebut merupakan korban. Pasalnya, virus mematikan tersebut terpapar oleh sang ibu, baik pada proses menyusui, maupun pada saat kehamilan. Bahkan, ada beberapa kasus yang tertular melalui jarum suntik narkotika ibunya.

Untuk kondisi gizi buruk, angkanya pun tak kunjung membaik secara signifikan dari tahun sebelumnya. Dari data 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap gizi buruk kategori stunting.

"Artinya (anak) balita memiliki badan lebih rendah dari standar tinggi (anak) balita pada umumnya," Samsul menjelaskan.

Adapun untuk gizi buruk dengan ciri umum berjumlah 900.000 bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia. Di wilayah Jabodetabek tercatat empat bayi meninggal selama 2012. Namun, angka tersebut dipastikan bertambah mengingat belum komprehensifnya sistem pendataan.

Angka kematian ibu di Indonesia juga tercatat menyedihkan. Terdapat 10.000 ibu meninggal setelah melahirkan akibat kurang penanganan. Angka gangguan kelahiran bayi pun juga demikian. Sekitar 5.000 hingga 10.000 bayi yang lahir mengalami gangguan pendengaran akibat rendahnya pengetahuan akan gizi.

Kode etik penanganan anak pengidap HIV/AIDS Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengungkapkan, tahun 2012 ini kondisi paling memprihatinkan terjadi pada angka anak pengidap HIV/AIDS. Menurut Arist, sang anak perlu penanganan khusus, baik di lingkungan masyarakat maupun di pelayanan kesehatan.

"Ada kode etiknya, misalnya identitas di rumah sakit tidak boleh dipublikasi, harus dirahasiakan. Namun, itu bukan berarti diskriminasi. Kondisi anak tidak boleh ganggu pelayanan," ujar Arist.

Arist menyayangkan kondisi anak yang mengidap HIV/AIDS di Indonesia yang notabene telantar di lingkungan permukiman. Pasalnya, tidak ada pengetahuan bagi masyarakat tentang bagaimana menangani anak pengidap penyakit yang hingga kini belum ada obatnya tersebut.

"Kan ada Komisi Perlindungan HIV/AIDS. Mereka lemah sekali soal sosialisasi ke masyarakat. Inilah yang menyebabkan anak-anak pengidap HIV/AIDS telantar dan akhirnya mati," ungkapnya.

Melihat kondisi demikian, Arist mengatakan kepada pemerintah untuk bertanggung jawab atas anak Indonesia. Sesuai dengan amanah undang-undang, negara wajib menjamin anak-anak agar mendapatkan pelayanan kesehatan.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7271