2012, 23 Warga Bengkalis Tewas Akibat HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 31 December 2012
Topik: HIV/AIDS


Jumlah penderita HIV dan AIDS di Kabupaten Bengkalis telah mencapai 203 kasus. Dari kasus tersebut setidaknya 23 warga meninggal akibat penyakit tersebut.

Riauterkini, 27 Desember 2012

BENGKALIS - Tercatat hingga November 2012, jumlah penderita HIV dan AIDS di Kabupaten Bengkalis telah mencapai 203 kasus. Dari kasus tersebut setidaknya 23 warga dipastikan oleh penyakit yang belum diketahui obatnya itu. Dilihat dari jenis kelamin, penderita HIV dan AIDS ini, perempuan tertinggi mencapai 115 kasus, sedangkan laki-laki sebanyak 88 kasus.

Sementara itu, dari para penderita sebagian besar adalah usia produktif dan reproduktif, sedangkan faktor resiko adalah pekerja seks, pelanggan, waria dan lebih miris adalah kaum ibu rumah tangga.

Secara umum penyebaran HIV dan AIDS paling dominan melalui hubungan seks yang tidak aman sebesar 90,4 persen, disusul penggunaan jarum suntik dan penularan dari ibu ke anak.

Penyebaran HIV dan AIDS tersebut juga dilaporkan sudah merata di 8 (delapan) kecamatan yang ada di kabupaten bengkalis.

“Sejauh ini kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Bengkalis terus mengalami peningkatan yang siginifikan. Sejak tahun 2009 lalu, adanya fasilitas pelayanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) atau test HIV di rumah sakit terus bertambah,” ungkap Wakil Bupati Bengkalis Suayatno, saat memberikan pengarahan sekaligus membuka secara resmi kegiatan Seminar Penanggulangan Pekerja Seks Komersial (PSK) dan Pencegahan Penyebaran HIV / AIDS di Aula Kantor Satpol PP Bengkalis, Kamis (27/12/12).

Suayatno berharap, upaya pemerintah menanggulangi dan mencegah penularan HIV dan AIDS membentuk 2 (dua) unit klinik VCT di kecamatan Mandau dan Pinggir, sejumlah rumah sakit di Duri dan Bengkalis.

“Namun kendala yang dihadapi, keberadaan klinik tersebut belum berjalan secara optimal, hal ini disebabkan karena kurangnya kerjasama dari pengelola lokalisasi, tempat resiko tinggi terjadinya penularan HIV dan AIDS,” katanya lagi.

Ditambahkan Suayatno, pada dasarnya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS tidak bisa dilakukan secara sporadis (membabi buta) melainkan butuh kebersamaan, partisipasi dan kesadaran bersama akan bahaya HIV dan AIDS.

“Saya mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bahu membahu melakukan upaya penanggulangan penyakit ini. Upaya ini tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja. Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tanggung jawab semua pihak, karena penyakit ini berdampak pada semua orang,” himbaunya.

Seminar dijadwalkan berlangsung selama sehari ini, diikuti sebanyak 35 orang, terdiri dari anggota Satpol PP,Tokoh Adat, Forum Kemitraan, MUI, para mahasiswa dan sejumlah kepala sekolah serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinsos Kecamatan.***(dik)

Sumber: http://www.riauterkini.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7282