HIV/AIDS, ancaman belum berakhir
Tanggal: Thursday, 03 January 2013
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 03 Januari 2013

JAKARTA - Penyakit mematikan HIV/AIDS terus berkembang dari waktu ke waktu. Ketiadaan obat yang bisa memberantas secara keseluruhan penyakit tersebut menjadi ancaman tak berujung.

Sejak ditemukan pertama kali pada 1981, HIV sudah menginfeksi lebih dari 50 juta orang di seluruh dunia. Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang dan menghancurkan sel CD4 limfosit T yang berperanan dalam sistem pertahanan tubuh manusia.

AIDS merupakan salah satu penyakit dengan harapan hidup rendah. Saat ini banyak kasus HIV/AIDS yang meningkat di beberapa negara dan sangat memprihatinkan. Diperkirakan kasus HIV masih akan berkembang, karena belum ditemukannya obat untuk mengatasi penyakit ini.

Banyak laporan mengenai kasus HIV yang dipublikasikan. Salah satunya datang dari Inggris. Dikabarkan, kasus HIV terbanyak di Inggris muncul dari pasangan pria sesama jenis dan biseksual. Hampir setengah dari 6.280 orang didiagnosis HIV tahun lalu sudah pernah berhubungan seks dengan sesama jenis, demikian yang dilansir BBC.

Di Inggris, jumlah orang yang hidup dengan HIV sendiri menjadi 96.000, naik dari 91.500 pada tahun sebelumnya. Data menunjukkan bahwa satu dari empat orang dengan HIV benar-benar tidak menyadari infeksi. Itu artinya, mereka tidak menerima pengobatan dan masih dapat menyebarkan virus.

Sementara itu, lebih dari setengah anak muda di Amerika Serikat terinfeksi HIV dan tidak menyadari hal tersebut. Para pejabat kesehatan setempat tengah berusaha menangani hal tersebut untuk mencegah penyebaran infeksi.

US Centers for Disease Control and Prevention memberikan laporan dari kasus infeksi HIV terbaru, sekira 26 persen di antaranya ada pada rentang usia 13 hingga 24 tahun. Setiap bulan, sebanyak 1.000 anak muda di Amerika terinfeksi HIV.

Sebagai bentuk penanganan HIV ini, salah satu negara dengan tingkat kasus yang juga cukup tinggi, yaitu Afrika Selatan telah mendapatkan kontrak sejumlah USD667 juta dalam rangka mendukung pengobatan bagi penderita HIV kepada 12 perusahaan internasional dan domestik untuk menangani masalah kesehatan terbesar dunia tersebut.

Sebanyak 12 perusahaan yang menandatangani kontrak tersebut di antaranya Aspen Pharmacare, Abbott Laboratories, dan Adcock Ingram.

Kontrak yang efektif pada April 2013 ini bertujuan agar adanya peningkatan kesadaran penderita HIV yang melakukan pengobatan. Di Afrika Selatan sendiri memiliki hampir enam juta orang yang terinfeksi HIV. Ini salah satu beban kasus terberat di dunia.

Bagi produsen obat-obatan, meraup keuntungan besar dari penghargaan pemerintah adalah hal tidak mungkin, mengingat persaingan yang ketat dalam penawaran.

Aspen Pharmacare, produsen obat generik terbesar dianugerahi 20 persen dari kontrak, Adcock Ingram diberi 14 persen, Chicago Abbott Laboratories dengan 8,1 persen, dan domestik perusahaan Cipla Medpro dengan 9 persen, demikian menurut data dari departemen kesehatan setempat.

Kepala eksekutif dari National Aids Trust, Deborah Jack mengatakan, betapa pentingnya mewaspadai tertularnya penyakit mematikan ini. Sangat penting bahwa setiap orang harus memeriksakan diri, setidaknya setahun sekali untuk memeriksa IMS (infeksi menular seksual) dan HIV, serta setiap tiga bulan jika mereka berhubungan seks tanpa kondom dengan pasangannya.

Para ahli mengungkapkan, untuk mengurangi kasus HIV yang tidak terdiagnosis dengan mendorong mereka yang berisiko tinggi untuk memeriksakan diri lebih teratur sebagai salah satu cara agar dapat mengerem penyebaran infeksi.

Sumber: http://www.waspada.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7290