Yuk, Cegah Dini Penyebaran HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 08 January 2013
Topik: HIV/AIDS


TRIBUNNEWS.COM, 06 Januari 2013

Dalam salah satu episode tayangan talkshow Kick Andy, Timotius Hadi Wijoyo, seorang tamu yang diundang tampil di acara ini mengaku, dirinya dinyatakan positif penderita HIV/AIDS pada 2003 setelah ia mengalami ketergantungan narkoba akut dan menjalani pemeriksaan intensif oleh dokter.

Hadi, sapaan akrabnya, semasa kecilnya tumbuh layaknya anak sebayanya. Namun, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia sudah doyan merokok, belajar minum minuman keras, dan mencicipi pil tidur.

Teman mainnya sehari-hari kemudian menawarinya buat mencoba ganja. Ingin menjajal yang lebih menggigit lagi, dia kemudian mulai mengonsumsi narkoba, baik lewat asupan mulut, maupun kulit melalui jarum suntik.

Dia pun jadi sakaw dan bisa mengonsumsi 25 pil tidur sekaligus dan memaksa orangtuanya membawanya ke rumah sakit. Ketergantungannya pada narkoba dan jarum suntik membuat Hadi tertular virus mematikan HIV/AIDS. Hadi kini menjadi relawan yang membantu penyembuhan para pecandu narkoba.

Hadi adalah contoh bagaimana HIV/AIDS begitu mudah menyebar dan menular. Data di Departemen Kesehatan RI menunjukkan, angka penderitanya dari tahun ke tahun makin tinggi, dengan sebaran yang makin meluas dan mengkhawatirkan, bahkan hampir merata di Indonesia.

Menteri Kesehatan RI Dr Nafsiah Mboi Sp.A MPH dalam paparan Pekan Kondom Nasional, 5 Desember di Jakarta, menyebutkan, jumlah kasus HIV nasional pada 2006 mencapai 7.195 kasus, dan kasus AIDS mencapai 4.434 kasus.

Di tahun 2010, melonjak menjadi 21.591 kasus HIV dan 6.476 kasus AIDS. Tahun 2012, temuan kasus HIV menurut catatan Menkes, mencapai 15.372 kasus dan temuan kasus AIDS mencapai 3.541 kasus.

Bertukar penggunaan jarum suntik, dan hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman merupakan pintu yang membuat virus HIV/AIDS mudah menyebar.

Yang perlu diingat, penyakit ini bisa mengenai siapa saja, tanpa memandang status sosial dan latar belakang. Ibu yang positif terkena penyakit ini, berpotensi menurunkan penyakitnya kepada anak yang dilahirkan.

Karena itu, berbagai upaya pencegahan dan penanganan terhadap penyebaran HIV/AIDS mesti terus digiatkan. Upaya ini bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menuntut peran masyarakat luas juga lembaga swadaya masyarakat hingga swasta.

Ketika ada lembaga dan perusahaan yang peduli mengkampanyekan pencegahan penyebaran HIV/AIDS masyarakat pun sudah seharusnya mendukung.

Awal Desember 2012 lalu misalnya, digelar Pekan Kondom Nasional 2012. Ini merupakan kampanye sadar menggunakan kondom buat kelompok masyarakat berisiko terkena HIV/AIDS yang digalang oleh DKT Indonesia bersama Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Tahun ini, kampanye ini memasuki yang keenam kalinya. Kampanye ini mendorong kepedulian dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan HIV/AIDS dan diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang jatuh pada 1 Desember.

Tahun ini, kampanye ini berlangsung selama seminggu penuh dengan berbagai kegiatan yang mendidik seluruh lapisan masyarakat tentang pencegahan dan hubungan seks yang aman.

Salah satu tugas penting KPAN dan DKT dalam kampanye ini adalah program pencegahan infeksi HIV baru, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti para pekerja seks berikut pelanggannya, para kaum gay dan waria, juga kepada pengguna narkoba jarum suntik.

Harapannya, agar masyarakat dapat mengambil manfaat positif dari rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dan bertanggung jawab atas 'keselamatan kesehatan' masing-masing dengan melakukan hubungan seks yang aman.

Dengan meningkatkan usaha pencegahan, kita dapat menghentikan laju epidemi HIV di kehidupan masyarakat dan keluarga.

Program edukasi yang digelar selama PKN 2012 cukup membumi. Misalnya, penyelenggaraan konser musik bertajuk Konser Goyang Sutra di Lapangan Kopasus, Cijantung, Jakarta yang menghadirkan sejumlah artis dan selebriti seperti Julia Perez, Zaskia, Ikke Nurjanah, dan Fitri Carlina.

Dalam kegiatan yang bersifat menghibur ini, DKT dan KPAI menyelipkan pesan edukatif tentang seks aman. Konser ini dihadiri tak kurang oleh sekitar 10.000 orang dan ditayangkan langsung sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Aktivitas edukasi lainnya selama PKN 2012 dilakukan di 12 kota besar di seluruh Indonesia, terutama pada daerah yang memiliki warga dengan risiko tinggi terkena HIV/AIDS, seperti pangkalan truk, pelabuhan, dan lokalisasi. Relawan membagi-bagikan materi tentang HIV/AIDS dan seks aman.

Edukasi dalam format elegan digelar di sejumlah kampus dan tempat-tempat nongkrong di Jakarta. Di Bali, kampanye PKN 2012 dilakukan melalui penyediaan kondom dan lubrikan kepada sebuah klinik yang melayani kaum gay dan waria.

DKT International yang berkantor pusat di Washington D.C dikenal konsisten menjalankan program pencegahan HIV/AIDS di banyak negara. Perusahaan ini terlibat langsung dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS dan program keluarga berencana di lebih dari 20 negara berkembang di seluruh dunia.

Di Indonesia, DKT berdiri tahun 1996 dan berfokus utama pada upaya meningkatkan penggunaan kondom di masyarakat guna memperlambat penyebaran virus HIV di Indonesia.

Sementara, KPAN merupakan lembaga non-kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Lembaga yang didirikan pada 1994 ini beroperasi hingga tingkat provinsi dan diketuai langsung oleh gubernur serta tingkat kabupaten/kota yang diketuai bupati dan walikota.

Sehari-hari, KPAN diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri sebagai wakilnya.

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7294