Kasus HIV/AIDS di NTT naik 90 persen
Tanggal: Monday, 21 January 2013
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 16 Januari 2013

KUPANG - Kasus HIV/Aids di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga periode Januari 2013 mengalami peningkatan hingga mencapai 90 persen, atau 1.900 kasus.

"Dari data yang dihimpun periode Januri 2012 hingga Desember 2012 jumlah kasus mencapai 1.100 kasus dan meningkat hingga kuartal pertama Januari 2013 menjadi 1.900 kasus," kata Pelaksana Program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Provinsi NTT, Gusti Brewon di Kupang, Selasa.

Gusti menyampaikan, tingginya angka kasus HIV/Aids ini menunjukkan adanya kesadaran masyarakat untuk secara sukarela memeriksakan dirinya di klinik voluntery conseling test (VCT).

Kondisi inilah, lanjut dia yang dibutuhkan untuk meminimalisir penyebaran penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia itu, di wilayah kepulauan ini.

"Perlu respon dan tanggung jawab bersama terhadap generasi penerus, kalau tidak maka bakal terjadi kehilangan generasi di NTT. HIV/Aids adalah sebuah ancaman terhadap pembangunan," kata Gusti.

Tentang permasalahan yang dihadapi dalam menangani kasus HIV/Aids, Gusti menyampaikan, orang yang terinveksi HIV tidak tahu adanya terapi ARV. Karena yang bersangkutan tinggal jauh atau ketiadaa akses untuk memeriksakan keadaan kekebalan tubuh (CD4) di klinik VCT. Karena itu pelatihan kepada sesama yang terinveksi HIV/Aids dinilai lebih optimal.

"Mereka akan lebih kompak dan saling menjaga sehingga lebih optimal memberikan pelayanan ARV," kata Gusti.

Gusti menyatakan, dari jumlah kasus yang ada, hanya sekitar 50 persen pengidap HIV di setiap kabupaten dan kota yang mengkonsumsi ARV. Padahal obat ini sangat penting untuk dikonsumsi, jika tidak bisa berkembang menjadi Aids yang bakal ditularkan ke orang lain. Strategi yang dilakukan adalah mengoptimalkan para pengidap untuk memberi sosialisasi.

Para pengidap itu direkrut dan ditugaskan untuk memberikan pendampingan dan menentukan seseorang memulai pengobatan atau tidak, karena telah dibekali pengetahuan yang memadai tentang HIV/Aids.

Dia meminta jajaran dinas kesehatan seluruh NTT yang selama ini mengakses ARV secara gratis. Diharapkan mereka selalu memberi perhatian terhadap laporan penggunaan ARV.

"Kendala yang dihadapi selama ini, terlambatnya laporan penggunaan ARV dari kabupaten dan kota," kata dia.

Pengelola monitoring dan evaluasi KPA NTT, Diah Fernandez terpisah menyampaikan, di tahun 2013 ini KPA NTT akan terus meningkatkan upaya pencegahan inveksi baru HIV, perawatan dan pengobatan orang yang sudah terinveksi HIV.

Selain itu lanjut dia, mitigasi dampak sosial akibat HIV dan Aids serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi upaya penanggulangan Aids, terus dilakukan.

"Kami juga melakukan peningkatan kapasitas bagi KPA kabupaten/kota yang mulai mandiri," kata Diah.

Sumber: http://www.waspada.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7307