Kota Amoy Punya 72 Hotspot HIV/AIDS KPA: Paling Banyak di Barat dan Selatan
Tanggal: Monday, 21 January 2013
Topik: HIV/AIDS


Harian Equator, 17 Januari 2013

Singkawang – Kota Singkawang atau dikenal dengan Kota Amoy mempunyai 72 hotspot. Eits, tunggu dulu, bukan titik panas kebakaran hutan dan lahan, tetapi tempat paling berisiko tinggi akan penyebaran Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome (HIV/AIDS).

“Hotspot itu bukan bertumpuk pada satu wilayah, tetapi tersebar di lima kecamatan di Kota Singkawang, baik di pusat kota maupun pinggiran kota,” ungkap Roby Sanjaya, Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Singkawang ditemui di Kantor Walikota Singkawang, Selasa (15/1).

Dari sejumlah tempat yang berisiko tinggi sebagai tempat penyebaran penyakit pemunah imunitas tubuh itu, Kecamatan Singkawang Barat dan Selatan menempati posisi tertinggi dibandingkan tiga kecamatan lainnya. “Di Kecamatan Singkawang Selatan itu seperti di kafe-kafe (Saliong, red) yang merupakan tempat hiburan malam,” kata Roby tanpa memerinci.

Dia menjelaskan, penentuan hotspot penyebaran HIV/AIDS di Kota Singkawang itu berdasarkan beberapa pertimbangan. Yang memungkinkan suatu lokasi menjadi sangat potensial—atau berisiko tinggi sebagai tempat penyebaran atau penularan HIV/AIDS—misalnya, pada tempat yang banyak berkumpul banci atau wanita pria (waria), kaum homoseksual, dan Penjaja Seks Komersial (PSK), secara langsung maupun sembunyi-sembunyi. Termasuk lokasi yang biasa dijadikan tempat menggunakan narkoba dengan jarum suntik. “Hotel juga, tetapi tidak semua hotel. Bahkan indekos juga ada yang masuk sebagai hotspot itu,” ungkap Roby.

Penentuan hotspot penyebaran dan penularan HIV/AIDS itu, kata Roby, sebagai salah satu upaya untuk memutus mata rantai penyebaran virus mematikan tersebut. “KPA melakukan pendampingan terhadap orang-orang di hotspot-hotspot itu, sosialisasi atau penyuluhan, termasuk tentang penggunaan kondom,” katanya.

Apalagi, tambah dia, setiap tahun tingkat pengungkapan kasus HIV/AIDS semakin tinggi. Tidak hanya pada orang-orang yang dinilai berisiko tinggi tertular, tetapi juga sudah masuk ke rumah tangga. “Ada ibu rumah tangga yang tertular, begitu pula anak-anaknya, diduga karena suaminya sering ‘jajan’ di luar dan membawa virus itu ke rumah,” papar Roby.

Di tempat yang sama, Pengelola Administrasi KPA Kota Singkawang Indra Gunawan menilai semakin banyak ditemukannya kasus HIV/AIDS, berarti semakin baik dan semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri menggunakan VCT.

Penyebaran HIV/AIDS ini seperti fenomena gunung es, hanya bagian permukaannya yang terlihat sedikit, tetapi yang tidak kelihatan jauh lebih banyak. “Selama ini masih banyak warga yang merasa malu atau tidak tahu tentang pentingnya pemeriksaan diri apakah tertular AIDS atau tidak. Padahal VCT itu gratis,” kata Indra.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian, Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kota Singkawang Achmad Kismed menegaskan, penyebaran HIV/AIDS memang semakin mengkhawatirkan. “Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan, secara kumulatif ada 700 orang yang terinfeksi. Sedangkan data dari Klinik Mawar menyebutkan 1.082 orang,” ungkapnya.

Bila dilihat dari segi usia orang yang terinfeksi HIV/AIDS, usia kurang dari 1 tahun tercatat 8 orang, 1-4 tahun 10 orang, 5-9 tahun 5 orang, 10-14 tahun 1 orang, 15-19 tahun 14 orang, 20-29 tahun 312 orang, 30-39 tahun 248 orang, dan di atas 40 tahun 102 orang. (dik)

Sumber: http://www.equator-news.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7310