Pencegahan HIV/AIDS Masuk Kurikulum Sekolah
Tanggal: Tuesday, 22 January 2013
Topik: HIV/AIDS


LENSAINDONESIA.COM, 21 Januari 2013

Perkembangan penyakit HIV/AIDS di Kota Surabaya dewasa ini memang cukup memprihatinkan. Bahkan, dari data termutahir, Kota Surabaya mendapat peringkat pertama jumlah penderita penyakit ini. Untuk itu, segala upaya pencegahan penyebaran HIV/Aids gencar dilakukan termasuk masuk ke sekolah-sekolah.

Wakil Ketua Komisi C DPDR Kota Surabaya, Simon Lekantompessy mengatakan, saat ini masalah tersebut telah dibahas dalam Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pencegahan HIV/Aids.

“Kita sedang menggodok raperda pencegahan HIV/Aids melalui pansus. Tentunya kita bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Bappeko,” ujar politisi Partai Damai Sejahtera ini, Senin (21/01/2013).

Inisiasi Raperda tersebut mengingat kondisi HIV/Aids di Surabaya menempati rangking pertama penderita HIV/Aids tertinggi Jatim. Sebanyak 5.556 penderita mulai balita, remaja, dewasa, sampai ibu-ibu terkena HIV/Aids. Estimasinya malah sebanyak 6.147 kasus.

Sementara itu, Kepala Dinkes Surabaya, Esti Martiana Rahmie menyebut ada delapan balita kini kena HIV-Aids. Kemudian usia 15 – 19 tahun sudah ada yang terjangkit. Kemudian disusul usia 19 tahun – 30 tahun yang paling banyak.

“Kami menyambut gembira jika HIV/Aids masuk kurikulum. Ini pencegahan awal. Minimal SMP, kalau SMA sudah telat. Di sisi lain, anggaran untuk HIV ini bisa lebih dari Rp 1 miliar seperti saat ini,” kata Esti.@iwan_christiono

Sumber: http://www.lensaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7319