Jinten Hitam Potensial Jadi Obat Antiretroviral HIV-AIDS
Tanggal: Tuesday, 12 February 2013
Topik: HIV/AIDS


Suara Merdeka, 10 Februari 2013

BIJI jinten hitam (nigella sativa lor) secara empirik sudah dipakai sebagai herbal bahan jamu untuk mengobati berbagai kelainan, antara lain sebagai imunomodulator, antivirus, antidiabetes mellitus, antikanker, antiasma dan antiepilepsi.

Kandungan timokuinon, nigelon dan asam lemak tak jenuh dalam biji jinten hitam merupakan kandungan yang diduga bersifat antioksidatif, kemopreventif dan imunomodulator.

Berdasarkan hasil penelitian baru-baru ini, ekstrak heksan biji jinten hitam (EHBJH) potensial untuk dikembangkan sebagai agen kemopreventif antikarsinogenesis melalui mekanisme antioksidan sitoprotektif dan imunomodulator.

Pasalnya efek ekstrak heksan biji jinten hitam dapat meningkatkan limfosit CD4, CD8, kadar IFNgamma dan hematoprotektor.

Sehingga jinten hitam potensial dikembangkan sebagai imunomodulator pada penderita imunodefisiensi, misalnya pada pasien terinfeksi HIV-AIDS yang mengalami penurunan jumlah sel CD4.

"Keberhasilan biji jinten meningkatkan jumlah sel CD4 dan CD8 serta berdampak pada populasi sel CD4CD25Treg memberikan harapan pada pasien-pasien HIV-AIDS yang menjalani terapi antiretroviral sebagai terapi ajuvan," kata dosen farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dr Akrom Mkes dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Kedokteran UGM.

Bertindak selaku promotor Prof dr Marsetywan HNSE MSc PhD, ko-promotor Prof dr Sofia Mubarika MMedSc PhD dan Prof Dr Mustofa Apt MKes.

Meski baru skala penelitian laboratorium dengan tikus sebagai hewan uji, namun dapat diketahui manfaat pemberian ekstrak heksan biji jinten hitam. Zat timokuinon berefek kemopreventif antikarsinogenesis pada tikus, hingga mampu menurunkan 81- 97% tingkat kematian, menghambat kerusakan hepar dan ginjal serta meningkatkan jumlah lekosit dan hemoglobin.

"Ekstrak heksan biji jinten juga mampu menurunkan 45-50% insidensi pembentukan nodul dan menurunkan 70-90% pembentukan adenokarsinoma mamae tikus yang diinduksi," katanya.

Sumber: http://www.suaramerdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7352