HIV/AIDS Hantui Probolinggo
Tanggal: Tuesday, 12 February 2013
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 12 Februari 2013

Termasuk kejadian luar biasa, selama sebulan terdapat 25 kasus penderita HIV/AIDS

PROBOLINGGO - Perkembangan warga yang terpapar Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immnune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kabupaten Probolinggo semakin mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menyatakan, kasus HIV/AIDS termasuk kejadian luar biasa (KLB) karena selama Januari saja terdapat 25 warga yang terpapar HIV/AIDS.

“Melihat jumlah 25 penderita HIV/AIDS selama Januari saja ini termasuk KLB. Lha kalau sebulan saja sebanyak itu, setahun jadi berapa?” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) pada Dinkes Kabupaten Probolinggo, dr. Dyah Kuncarawati, Selasa (12/2) pagi tadi.

Jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun di Kabupaten Probolinggo terus meningkat. Sebagai perbandingan pada 2009 lalu terdapat 39 kasus HIV/AIDS. Pada 2010 menjadi 41 kasus HIV/AIDS.

“Mulai 2011 kasus HIV/AIDS naik signifikan, naik dua kali lipat dibandikan tahun sebelumnya yakni, 103 kasus,” ujar Dyah. Pada 2012 jumlah kasus HIV/AIDS kembali naik menjadi 161 kasus.

Dinkes mencatat, sejak kasus HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Probolinggo pada 2000 silam, jumlah pengidap HIV/AIDS sudah mencapai total 433 kasus. Jumlah penderita paling banyak didominasi Kecamatan Kraksaan, 57 kasus.

Disusul Kecamatan Paiton 50 kasus, Dringu 39 kasus, Besuk 36 kasus, dan Kecamatan Leces 20 kasus. “Kalau dilihat dari jenis kelamin, terbanyak diderita pria yakni, 243 orang. Sementara perempuan mencapai 190 orang,” ujar Dyah.

Dilihat dari status pekerjaan, penderita HIV/AIDS justru didominasi ibu rumah tangga yakni, 93 kasus. “Sementara penjaja seks komersial sebanyak 42 kasus,” ujarnya.

Disinggung mengapa ibu rumah tangga banyak mengidap penyakit yang menggerogoti kekebalan tubuh, Dyah menduga karena mereka tertular dari suaminya. “Diduga suaminya njajan (bermain seks, Red.) di luar kemudian menulari istrinya di rumah,” ujarnya.

Banyaknya ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS, kata Dyah, berpotensi menulari bayinya baik melalui tali plasenta (pada janin) maupun via air susu ibu (ASI). “Karena itu ibu rumah tangga yang mengidap HIV/AIDS disarankan sebaiknya tidak memiliki anak,” ujarnya.

Memang ada solusi bagi ibu rumah tangga agar anaknya tidak terpapar HIV/AIDS, yakni dengan melahirkan secara caesar. “Selain itu bayi yang dilahirkan disusui orang lain atau diberi susu formula,” ujar Dyah.

Guna menekan pertumbuhan kasus HIV/AIDS, Dyah menyarankan agar warga hanya berhubungan hanya dengan pasangannya (suami-istri). Dikatakan nilai-nilai agama dan moralitas bakal membentengi warga dari perbuatan yang berpotensi meningkatkan kasus HIV/AIDS.

Dinkes juga gencar melakukan sosialisiasi soal bahaya HIV/AIDS di berbagai kalangan. Termasuk kepada anak-anak pelajar agar mereka sedari dini terhindar dari penularan HIV/AIDS.

”Selain sosialisasi, kami juga melalukan pemeriksaan rutin di simpul-simpul yang rentan terjadinya penularan HIV/AIDS,” ujar Dyah. Di antara simpul-simpul itu adalah komunitas gay, lokalisasi (ilegal) PSK, hingga lembaga pemasyarakatan (Lapas).

Guna melakukan pendampingan terhadap pengidap HIV/AIDS, Dinkes membuka layanan Voluntary Conseling and Testing (VCT). ”VCT kami buka di Puskesmas Maron dan Puskesmas Paiton,” ujarnya.

Sementara itu di RSUD Waluyo Jati milik Pemkab Probolinggo juga dilengkapi Care Support Treatment (CST). CST itu dilengkapi fasilitas untuk perawatan dan pengobatan bagi Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) –sebutan lain bagi pengidap HIV/AIDS. ”Sehingga pengidap HIV/AIDS tidak perlu jauh-jauh berobat ke rumah sakit di Malang atau Surabaya,” ujar Dyah. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7355