11 Meninggal Kota Probolinggo Juga KLB AIDS
Tanggal: Thursday, 14 February 2013
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 14 Februari 2013

PROBOLINGGO - Setelah Kabupaten Probolinggo menyatakan kasus HIV/AIDS masuk kejadian luar biasa (KLB), pernyataan serupa diungkapkan “tetangga dekat”-nya, Kota Probolinggo. Dari sebanyak 36 pengidap HIV/AIDS sepanjang 2012-2013 ini 11 di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Hal itu terungkap dalam rapat dengar-pendapat (hearing) di ruang Komisi C DPRD dengan Dinkes, RSUD, dan Dinsos, Rabu (13/2). Hadir pula dua lembaga pendampingan HIV/AIDS yakni, Bedug Institute dan Yayasan Sosial Karya Mandiri (YSKM) Kota Probolinggo.

Data 36 pengidap HIV/AIDS dan 11 di antaranya meninggal dunia itu dirilis Dinkes setempat. Sementara itu Bedug Institute merilis jumlah pengidap HIV/AIDS selama Desember 2012 dan Januari 2013 sebanyak 14 orang. “Ini kasus HIV/AIDS yang kami tangani, di luar itu tentu masih banyak,” ujar Koordinator Bedug Institute, Badrut Tamam.

Hal senada diungkapkan Ketua YSKM, Septiana Avonsina. “Selama 2012-2013 kami menangani 9 kasus HIV/AIDS,” ujarnya.

Menyimak data Dinkes dan dua lembaga pendampingan HIV/AIDS itu, Ketua Komisi C DPRD, Nasution kemudian menimpali. ”Melihat data pengidap HV/AIDS sebanyak itu apa bisa dikatakan Kota Probolinggo sudah KLB HIV/AIDS?” Serentak mereka yang hadir mengatakan, ”Ya”.

Kalau memang dinyatakan KLB, penanganan HIV/AIDS tidak bisa sembarangan lagi. ”Namanya sudah KLB ya harus ditangani lebih serius oleh semua pihak, baik Dinkes, RSUD, dan Dinsos harus bekerjasama dengan dua lembaga pendampingan ini,” ujar politisi PDIP itu.

Sisi lain, Badrut dan Septiana menilai, selama ini Pemkot Probolinggo kurang serius menangani HIV/AIDS. ”Buktinya Kota Probolinggo belum membentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan manajer kasus (MK) HIV/AIDS,” ujar Badrut.

Indikator lain, kurang seriusnya penanganan HIV/AIDS, kata Badrut, di Kota Probolinggo belum ada tes CD4 untuk mengidentifikasi seseorang terkena virus yang menggerogoti kekebalan tubuh itu. ”Selain belum ada bantuan nutrisi bagi pengidap, juga belum ada obat ARV (anti retroviral virus, Red.),” ujarnya.

Sebenarnya dari segi payung hukum, Kota Probolinggo sudah memiliki Perda 9/2005 tentang Penanggulangan HIV/AIDS. ”Biar lebih punya greget, Perda itu harus dijabarkan dalam Perwali,” ujar Badrut.

”Sepengetahuan kami, hanya sebagian kecil pengidap HIV/AIDS yang tertangani,” ujar Septiana. Kategori tertangani berarti Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mendapatkan pendampingan, pengobatan, dan diberdayakan kemampuannya.

Sementara itu Sekretaris Dinkes, dr Rubiyati berjanji, bakal memaksimalkan penanganan HIV/AIDS. ”Saat ini kami sudah memiliki Voluntary Consulting and Testing (VCT) di Puskesmas Wonoasih,” ujarnya.

Memang keberadaan VCT itu belum didukung anggaran (APBD) 2013. Sehingga seperti disoroti Ketua FKB DPRD, Abdul Aziz, VCT itu terbatas ruangan dan meja kursi tanpa disertai peralatan medis memadai.

”Februari ini, VCT di Puskesmas Wonoasih itu bakal beroperasi,” ujar dr Rubi, panggilan akrab dr Rubiyati.

Diakui karena belum memiliki anggaran sendiri, VCT itu anggaran termasuk dalam Jamkesmas dan Jamkesda.

Direktur RSUD, dr Bambang Agus Suwignjo MMKes mengakui, di RSUD memang belum ada unit khusus yang menangani dan mengobati pasien HIV/AIDS. ”Untuk obat HIV/AIDS tergolong mahal dan tidak ada di apotek. Nanti soal obat akan kami usulkan ke Dinkes Propinsi Jatim, juga laboratorium HIV/AIDS di RSUD,” ujarnya. isa

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7365