Tak Ada Survei, HIV/AIDS di Labuan Bajo Sulit Terdeteksi
Tanggal: Monday, 18 February 2013
Topik: HIV/AIDS


KOMPAS.com, 15 Februari 2013

LABUAN BAJO -- Kota Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat sebagai pintu masuk kawasan Taman Nasional Komodo, pada 14 September 2013 akan menjadi tempa puncak kegiatan Sail Komodo.

Namun ada permasalahan sosial yang mengkhawatirkan di daerah tempat Komodo itu berada, yaitu penyebaran virus HIV/AIDS. Virus HIV/AIDS menjadi ancaman nyata di Provinsi Nusa Tenggara Timur, termasuk di Kabupaten Manggarai Barat yang bertumbuh pesat seriring booming bisnis pariwisata.

Demikian dijelaskan Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Sunspirit for Justice and Peace dan Rumah Baku Peduli Kabupaten Manggarai Barat, Cipri Jehan Paju Dale saat dihubungi Kompas.com, Jumat (15/2/2013).

Cipri menjelaskan, berbagai elemen yang peduli keselamatan manusia dari ancaman virus HIV/AIDS di Manggarai Barat mulai menggelar berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan penyebaran HIV/AIDS. Di antaranya roadshow diskusi ancaman virus HIV/AIDS di sekolah-sekolah, asrama dan tempat-tempat hiburan di Kota Labuan Bajo.

"Hari kemarin puncak dari seminar bagi seluruh masyarakat dan hari ini dilaksanakan seminar dari Focus Group Discussion yang dilaksanakan di Rumah Baku Peduli, Labuan Bajo," jelas Cipri. Menurutnya, rangkaian acara tersebut sudah dimulai dari tanggal 8 hingga 15 Februari 2013.

Cipri menerangkan, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) sempat mencuat beberapa persoalan terkait penanganan dan pencegahan virus mematikan itu, yakni tidak adanya data akurat tentang penderita HIV/AIDS karena belum ada survei menyeluruh. Hal itu bisa membuat penyakit yang belum ada obatnya itu terus mengancaman kehidupan warga di Manggarai Barat.

Selain itu, lanjut Cipri, di daerah ini belum ada pelayanan kesehatan khusus bagi pasien HIV/AIDS akibat tidak adanya rumah sakit umum. "Selama ini pasien yang terkena virus HIV dan penyakit AIDS tidak pernah ditangani medis karena rumah sakit umum belum ada di Manggarai Barat. Ini yang sangat memprihatinkan," keluhnya.

Hari ini, kata dia, kegiatan yang dilaksanakan FGD dihadiri 25 orang peserta, termasuk Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Manggarai Barat dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr Husein Pancratius.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Nusa Tenggara Timur, dr. Husein Pancratius dalam diskusi dengan FGD menegaskan, persoalan penyakit AIDS di Manggarai Barat tidak sederhana. Rendahnya angka korban itu karena tidak ada pelayanan volunteer councelling test (VCT) sebagai akibat tidak adanya rumah sakit umum daerah.

"Saya takut ada ribuan orang yang divonis meninggal dunia di Manggarai Barat karena infeksi oportunistik seperti penyakit Tubercolosis (TBC), infeksi usus, kanker dan lain-lainnya yang dibelakangnya ada virus HIV dan penyakit AIDS," katanya saat dihubungi Kompas.com, Jumat (15/2/2013).

Husein mengatakan, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Nusa Tenggara Timur siap memberikan satu unit instalasi prevention of mother to child transmission (PMCT) ke Kabupaten Manggarai Barat untuk digunakan di Kota Labuan Bajo.

Sumber: http://regional.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7367