KPA Gandeng Dunia Bisnis Tekan HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 04 March 2013
Topik: HIV/AIDS


Metrotvnews.com, 28 Februari 2013

Jakarta: Penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia selama lima tahun terakhir cukup tinggi.

United Nation AIDS (UNAIDS) bahkan menjuluki Indonesia sebagai negara di Asia dengan tingkat penyebaran HIV/AIDS paling cepat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2012 mengeluarkan data penderita HIV/AIDS di Indonesia mencapai 31.685 orang dengan pembagian 92.251 pengidap HIV dan 39.434 pengidap AIDS.

Mulanya Kemenkes mencatat penyebaran HIV/AIDS di Indonesia didominasi para pemakai narkoba suntik (penasun). Tapi seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran potensi penularan HIV/AIDS, yakni melalui heteroseksual dalam hubungan seks berisiko.

"Pada tahun 2012 penyebaran HIV/AIDS melalui hubungan seks beresiko menurut catatan Kemenkes mendominasi hingga 77.4% penyebab HIV/AIDS," ujar Deputi Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Fonny J Silfanus kepada para wartawan dalam media briefing di Jakarta, Kamis (28/2).

Menyadari kenyataan ini, menurut Fonny, KPA bersama-sama Kemenkes kerap menyuarakan pencegahan penularan terutama melalui seks berisiko.

"Pelaku seks berisiko yang paling utama yakni kaum pria. Berdasarkan estimasi Kemenkes ditemukan 3.3 juta pria di Indonesia membeli seks di mana 80% di antaranya enggan menggunakan pengaman saat melakukan hubungan seks berisiko. Sedangkan 2.2 juta perempuan tercatat menikahi laki-laki yang membeli seks," jelas Fonny.

Data tersebut, menurut Fonny, semestinya bisa menggugah kesadaran masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS betapa rentannya posisi perempuan/ibu dan anak-anak terutama yang terkena dampak tidak langsung seks berisiko. Salah satu kelompok yang berisiko tersebut yakni dunia kerja.

"Pekerja dengan penghasilan tinggi atau bekerja di remote area seperti pelaut, pekerja tambang, pekerja di bidang angkutan transportasi paling berpotensi melakukan seks berisiko," jelas Fonny.

Karena itu, lanjut Fonny, salah satu kampanye yang kerap digencarkan pihaknya saat ini yakni penanggulangan seks berisiko di tempat kerja atau Indonesia Business Coalition on AIDS (IBCA).

"Perusahaan yang sudah menjalin kerja sama dengan kami dalam koalisi ini di antaranya yakni PT Freeport Indonesia, Chevron, Trakindo, Sinar Mas, Unilever dan berbagai perusahaan lain di bidang pertambangan, perkebunan, media, serta jasa transportasi," ujar penggiat IBCA Yuliana Simarmata dalam kesempatan yang sama.

Salah satu bentuk kerja sama yang dilakukan yakni edukasi tentang bahaya seks berisiko, juga pentingnya pemakaian pengaman/kondom.

"Dengan upaya bisnis bersatu melawan HIV/AIDS dalam IBCA ini kami optimistis HIV/AIDS dari seks berisiko bisa ditekan. Bila perlu sama sekali tidak ada penularan baru," ujar Yuliana menadaskan. (Soraya Bunga Larasati/Adf)

Sumber: http://www.metrotvnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7397