17 Ibu Rumah Tangga Positif HIV AIDS
Tanggal: Monday, 04 March 2013
Topik: HIV/AIDS


JPNN.com, 01 Maret 2013

TASIK – Sampai tahun ini, sebanyak 17 ibu rumah tangga di Kota Tasikmalaya mengidap HIV/AIDS. Mereka menjadi bagian dari 220 orang yang terjangkit virus mematikan di Kota Resik ini.

Pengelola Program TB dan HIV Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Ari H Kusmara mengatakan penyebaran virus HIV kepada ibu rumah tangga berasal dari suami mereka. Seorang istri yang terjangkit virus HIV, kata dia, biasanya diketahui lima sampai sepuluh tahun sejak saat si istri sakit.

Selain ibu rumah tangga, di Kota Tasik juga ditemukan anak yang terjangkit HIV/AIDS. “Ada enam anak yang mengidap (HIV/AIDS) karena penularan saat (ibunya) melahirkan,” tuturnya di Kantor Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Kamis (28/1).

Anak-anak yang tertular, kata dia, juga bisa dari pria (ayah bayi) yang sejak awal menikah sudah positif terkena virus, lalu menularkannya kepada perempuan (ibu bayi). Seorang anak, kata Ari, baru bisa terdeteksi postif HIV/AIDS setelah dilakukan rapid test setelah usia bayi mencapai 18 bulan.

Sementara itu, dari 220 orang yang terjangkit HIV/AIDS, sampai saat ini 56 diantaranya telah meninggal dunia dan 84 orang menjalani perawatan. Mereka tersebar di semua wilayah Kota Tasikmalaya.

Adapun, tren penularan virus HIV, kata dia, saat ini dominan akibat perilaku seks beresiko, seperti perilaku seks di luar nikah, sering gonta-ganti pasangan dan kurangnya penggunaan kondom. ”Sebenernya model penyebaran hanya ada dua. Pengguna jarum suntik sama seksual. Di Tasik paling tingggi pengguna nafza (narkotika dan zat adiktif) suntik, tapi tren-tren terakhir berubah menjadi dari faktor hubungan seksual paling tinggi. Hampir sekitar enam puluh persenan lebih,” tuturnya.

Seorang yang terjangkit HIV/AIDS, papar Ari, antibody-nya melemah sehingga tubuh akan semakin rentan terhadap serangan virus lainnya. Orang yang terkena HIV AIDS --setelah diketahui sakit-- harapan hidupnya menurun hanya antara dua sampai tiga tahun. ”Jadi masa inkubasinya itu biasanya lima tahun sejak pertama kali dia terpapar. Biasanya baru diketahui ketika dia diperiksa ke rumah sakit,” paparnya.

Meminimalisir penyebaran virus ini, langkah terbaik, yaitu mengedukasi masyarakat tentang bahaya dan penularan virus yang hingga saat ini belum ada obat untuk penyembuhannya itu. Bagi penderita yang sudah positif, Pemerintah Kota Tasikmalaya memberikan obat anti retropiral virus (ATV) yang tersedia di rumah sakit secara gratis.

”Sekarang kalau orang menyadari bahaya HIV orang tahu bagaimana itu HIV. Dia mau tes itu bisa menjadi pencegahan,” jelasnya.

Koordinator sub-sub Recipient Harm Reduction Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (HR-PKBI) Kota Tasikmalaya Aang Munawar SPd mengatakan pencegahan yang tepat agar HIV tidak mudah menyebar adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat terutama mereka yang rentan hubungan seksual berisiko seperti remaja.

”Yang akan dilakukan PKBI bagaimana membuat jejaring-jejaring warga peduli AIDS. Baik tingkat kota maupun tingkat kecamatan sampai kelurahan dan RT RW. Itu terpadu kelayanan kesehatan melalui puskesmas dan Dinas Kesehatan sendiri,” paparnya.

Tugas HR PKBI, kata dia, membuat masyarakat mampu berbicara kepada masyarakat lainnya terkait HIV sehingga pembinaan dan penyuluhan mengenai penyakit mematikan itu bisa berjalan dengan lebih komprehensif dan lebih menjangkau kepada masyarakat luas. ”HIV itu jangan lagi identik seperti dinkes, pemerintah. Tapi masyarakat harus aktif,” tuturnya. (pee)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7399