Kenal Narkoba Sejak SD, Alvons Idap HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 04 March 2013
Topik: HIV/AIDS


GATRAnews, 01 Maret 2013

Jakarta - Alvonso Supit Tego divonis mengidap HIV/AIDS stadium IV dan sejumlah penyakit berbahaya lainnya, akibat dari kelas 5 SD sudah mengenal dan mengonsumsi berbagai jenis narkoba.

"Tahun 2004, di RSPAD saya dicek darah. Hasilnya dinyatakan reaktif positif HIV stadium 4, dengan antibodi hanya 5. Padahal normalnya adalah 600-900, saya hanya 5, itu akibat jarum suntik yang dipakai bersamaan dan seks bebas," ungkap Alvons, begitu ia disapa, saat berbagi cerita tentang kehidupannya kepada ratusan siswa SMA, dalam acara penyuluhan bahya Narkoa pada "Wold Education on Indonesia di Hotel Sahid Jakarta Pusat, Kamis (28/2).

Dituturkan Alvon, perkenalannya dengan barang haram itu saat ia dan keluarganya pindah ke Jakarta, setelah ayahnya pensiun dari pekerjaannya di Dumai, Riau.

"Saya anak yang polos, nggak tahu apa-apa yang dihadapkan dengan lingkungan yang notabene banyak pecandu. Akhirnya, pada kelas 5 SD, saya sudah mengenal rokok, pil koplo, dan ganja," kenangnya.

Saat masuk SMP, setelah ayahnya meninggal dunia, kehidupan Alvons semakin tak karuan. Tidak hanya menjadi pemakai, Alvon yang mulai menginjak usia remaja itu menjadi bandar narkoba.

"Saya menjadi pengedar dan saya beralih konsumsi ke ekstasi, sabu, heroin, kokain, putaw dan lainnya. Menjadi multidrugs use (pemakai berbagai jenis narkoba, Red.) melalui jarum suntik," ungkapnya.

Menurutnya, pemberi putaw adalah seorang anak yang baik-baik, yakni di SMP dan SMA dia menjabat sebagai ketua OSIS. Tetapi setelah dia kuliah di salah satu perguruang tinggi swasta ternama di Jakarta Barat, dia hancur karena putaw dan memberikan putau itu kepada dirinya.

"Yang memberikan jarum suntuk adalah anak tokoh agama yang punya pesantren dan dakwah di mana-mana," ungkapnya.

Karena mengonsumsi narkoba dalam rentang waktu yang cukup lama, ujar Alvon, ia terpaksa 5 kali harus pindah sekolah tingkat SMP dan gagal di fakultas teknik. Tak berhenti di situ, obsesinya sebagai pemain basket nasional juga turut kandas. Pasalnya, setelah dipanggil seleksi untuk memperkuat tim nasional bola basket, Alvons dinyatakan didiskualifikasi karena positif menggunakan narkoba.

Bukan hanya merusak masa depannya. narkoba juga merusak kesehatan Alvons akibat rusaknya berbagai organ. "Di saat saya sudah kembali ke jalan yang benar, tiba-tiba badan saya drop, waktu itu berat badan 30 kg, kondisi lumpuh, koma, terkapar 3 bulan di RS Semarang. Semua organ tubuh pakai selang, termasuk nafaspun dari tabung dan saya ngerasain sekali napas 5 ribu," urainya.

Kemudian, dokter pun mendiagnosis Alvon. Hasilnya sangat memukul, karena dokter menyatakan Alvon didiagnosis hepatisis, TBC paru-paru, ginjal, dan liver stadium 4. "Keluarga tidak percaya ini. Akhirnya, tahun 2004 di RSPAD, saya dicek darah dan dinyatakan reaktif positif HIV stadium 4 dengan antibodi hanya 5. Normalnya adalah 600-900 saya hanya 5. Itu akibat jarum suntik yang dipakai bersamaan dan seks bebas," pungkasnya. (IS)

Sumber: http://www.gatra.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7400