Dua Bocah Bireuen Positif HIV
Tanggal: Tuesday, 12 March 2013
Topik: HIV/AIDS


TRIBUNNEWS.COM, 08 Maret 2013

BIREUEN – Dua bocah, masing-masing berumur 5 dan 9 tahun serta empat orang dewasa di Bireuen, positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV). Semua mereka penderita baru yang terungkap berdasarkan hasil uji sampel darah di laboratorium yang dilakukan tim medis dari Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bireuen baru-baru ini.

Informasi itu diperoleh Serambi (Tribunnews Network) melalui Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Bireuen, dr Irawati MKes, Kamis (7/3/2013) kemarin. Diakuinya, penderita HIV/AIDS di Bireuen meningkat tajam pada 2013 ini dibandingkan tahun lalu.

"Tahun-tahun sebelumnya malah tidak ada anak-anak yang terinfeksi HIV. Tapi tahun ini ada dua orang," katanya.

Merujuk pada etika medis yang diatur UU Kesehatan, ia hanya menyebutkan bahwa kedua bocah terinfeksi HIV itu satu perempuan, satu lagi laki-laki. Sedangkan empat orang dewasa yang terinfeksi, terdiri atas dua perempuan, dua laki-laki. Namun Irawati tak merincikan di kecamatan mana mereka berdomisili.

Sebelumnya di Banda Aceh, Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi (KPAP) Aceh, dr Ormaia Nyak Umar menyebutkan, selama 2012 jumlah penderita HIV/AIDS di Aceh mencapai 161 orang. Paling tinggi di Aceh Utara 19 kasus, disusul Aceh Tamiang 17 kasus, Lhokseumawe dan Aceh Tenggara masing-masing 16 kasus.

Di Bireuen sendiri, penderita HIV/AIDS sejak 2001 hingga akhir 2012 berjumlah 6 kasus. Dua orang di antaranya sudah meninggal. Tapi dengan adanya penderita baru ini, jumlahnya bertambah dua kali lipat, menjadi 12 orang.

Direktur RSUD Bireuen, dr Mukhtar MARS juga risau luar biasa. "Sangat disayangkan, karena bocah pun terinfeksi HIV. Kalau sudah terkena HIV tak ada obat. Obat yang diminum hanya untuk menambah kekebalan tubuh saja, karena virus yang bersarang di tubuh tidak bisa dimatikan," ujarnya.

Menjawab Serambi apa penyebab dua bocah itu terkena HIV, dr Irawati mengatakan, tidak lepas dari adanya orang-orang terdekat yang sudah terkena sebelumnya.

Diakuinya para penderita HIV itu sekarang menjalani pengobatan. Mereka minum obat seumur hidup untuk meningkatkan kekebalan, tapi tak bisa menghilangkan virus mematikan itu dari dalam tubuhnya.

Cara mendeteksi penyakit itu, menurut dr Irawati, pada periode tertentu petugas medis memeriksa kesehatan dan darah orang-orang yang digolongkan rentan terkena HIV. Selain itu ada juga yang ditemukan saat pemeriksaan darah rutin di puskesmas atau rumah sakit serta balai pengobatan lainnya.

Pencegahan agar tidak terjangkit HIV, kata Irawati, dapat dilakukan dengan pendidikan/penyuluhan intensif yang ditujukan pada perubahan cara hidup dan perilaku seksual. Juga diperlukan sosialisasi bahaya HIV/AIDS kepada usia remaja sampai usia tua.

Selain itu, kata Irawati, yang lebih utama adalah memperdalam agama dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya dengan ikhlas dan benar.

Kemarin, tim dari WHO serta Dinkes Aceh melakukan sosialisasi penanganan penyakit mematikan itu di aula Dinkes Bireuen dengan petugas medis utusan dari seluruh puskesmas di Bireuen. (yus)

Sumber: http://www.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7416