Peralatan Kurang Lengkap, Poli VCT RSUD Pacitan Belum Maksimal
Tanggal: Tuesday, 12 March 2013
Topik: Narkoba


LENSAINDONESIA.COM: 09 Maret 2013

Fasilitas poli VCT (Voluntary Counseling and Testing) yang ada di RSUD Pacitan tidak berfungsi maksimal.

Selama ini, ruangan khusus untuk konseling dan tes bagi pengidap maupun yang rawan terjangkit penyakit HIV/Aids tidak selalu dibuka. “Karena kelengkapan alatnya masih kurang,” kata Kasi Informasi dan Pengaduan RSUD setempat, Suyatmi.

Baca juga: RSUD Pacitan Dibobol Maling dan Dinkes Pacitan Tarik Ribuan Kartu Jamkesmas

Perlengkapan yang belum tersedia, menurut dia, seperti lemari obat dan tempat tidur pemeriksaan. Namun, dalam waktu dekat fasilitas di sana sudah lengkap dan poli bisa segera difungsikan maksimal. Sebab, perabot yang masih kurang itu sedang dalam pengadaan. “Tahun ini (poli VCT) sudah beroperasi normal,” imbuhnya.

Disinggung tentang kesiapan sumber daya manusia, Suyatmi menegaskan sudah komplit. Dokter spesialis, dokter umum,konselor, dan petugas laboratorium sudah ditugaskan di klinik VCT. Hanya saja, karena fasilitas itu belum dibuka maka para petugas itu masih bersiaga di ruangan kerja masing-masing. Sedangkan, pelayanan voluntary counseling and testing dijalankan secara insidental.

“Kalau ada pasien yang terindikasi HIV/Aids baru dilayani di sana dengan peralatan seadanya,” jelasnya.

Sejak Januari lalu, fasilitas di poli VCT mengalami peningkatan. Sebab, peralatan tes untuk menentukan positif atau negatifnya seseorang mengidap penyakit HIV/AIDS sudah tersedia. Selain itu, ARV (antiretoriral), obat yang dapat menghentikan reproduksi virus Aids di dalam tubuh penderita sudah dipasok dari Dinas Kesehatan Provinsi Jatim.

Dengan begitu, pihak penderita HIV/Aids maupun keluarganya tak perlu repot mengambil ARV ke Madiun, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, pelayanan di poli VCT, ungkap dia, tidak dilakukan secara vulgar. Bahkan, ruangan khusus itu ditempatkan di lokasi yang tersembunyi. Tujuannya, melindungi privasi pasien saat memeriksakan diri. Sebab, HIV/Aids masih dinilai sebagai penyakit yang memalukan sekaligus membahayakan di Pacitan.

“Maka, pelayanannya dikonsep tidak mudah diketahui orang. Pintu masuk dan keluarnya tidak sama,” terangnya.

Sementara, Bambang Widjanarko, Kabid P2PL (pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan) Dinas Kesehatan Pacitan mengungkapan, selama ini penderita HIV/AIDS dinilai negatif oleh warga lainnya. Bahkan, beberapa waktu lalu warga wilayah Kecamatan Tegalombo, tidak bersedia memulasarakan jenazah salah seorang warga setempat yang diketahui mengidap penyakit ini.

“Akhirnya, kami terjun langsung dan warga masih takut tertular setelah memandikan jenazah penderita HIV/AIDS,” pungkasnya.@rachma

Sumber: http://www.lensaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7420