Dekat Lokasi Prostitusi, Ingatkan Pelajar Bahaya HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 19 March 2013
Topik: HIV/AIDS


Radar Jogja, 18 Maret 2013

Bagi Ignatia Dian Tripitasari, bekerja sebagai pengabdi kesehatan di masyarakat membutuhkan kesabaran. Dia setiap saat menangani pasien dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. Dia kerap blusukan ke kampung-kampung. "Kita harus komit dulu kalau memang ingin membantu warga tentang kesehatan. Soal handphone yang aktif 24 jam, selama ini nyaman saja. Saya siap membantu warga," tutur Dian.Perempuan kelahiran Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, itu aktif terlibat dalam menyosialisasikan kesehatan. Bersama timnya, dia tidak henti-hentinya memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan bahaya HIV/AIDS. Penyakit yang kini kini belum ditemukan obatnya tersebut menjadi salah satu program untuk digarap. Ini mengingat wilayah kerjanya yang berdekatan dengan kawasan pantai selatan Bantul dinilai rawan terhadap penyebaran HIV/AIDS. Di kawasan pantai terdapat tempat prostitusi.”HIV/AIDS menjadi salah satu perhatian kita,” jelasnya.Sasaran yang menjadi target untuk diberi bekal mengenai bahaya penyakit HIV/AIDS adalah kalangan pelajar. Menurut Dian, kemajuan teknologi yang begitu pesan seyogianya disikapi dengan baik oleh pelajar. Sebab, teknologi yang ada memungkinkan segala informasi dapat diakses melalui internet. ”Tentunya konten yang dilarang dilihat (pornografi) dengan mudah dapat diakses pelajar,” jelasnya.

Dian mengaku sejauh ini kendala yang dialami petugas yakni para pelajar sudah memiliki pengetahuan cukup luas mengenai seks. Mereka memperoleh pengatahuan itu dari internet. Namun, lanjutnya, pengetahuan yang didapat itu dinilai justru berbahaya. ”Mereka hanya mendapatkan informasi setengah-setengah,” ujarnya.Menurut dia, pelajar memang memiliki keingintahuan yang tinggi mengenai seks. Untuk itu, mereka perlu pendampingan. "Pengetahuan (tentang seks) yang diterima pelajar dari internet sangat membahayakan. Setengah-setengah. Dengan adanya pendampingan bisa memberikan arahan," jelasnya.

Perempuan kelahiran 14 September 1985 itu sudah mengabdikan diri sebagai petugas sosialisasi promosi kesehatan sejak 2010. Selama lebih dua tahun, dia giat melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Dia berusaha meningkatkan pemahamam masyarakat tentang kesehatan.Dalam usahanya membangun masyarakat sadar kesehatan, Dian memiliki cara khusus. Selain aktif bersosialisasi ke masyarakat, Dian bersedia menagktifkan handphone selama 24 jam. ”Saya siap menerima keluhan dan konsultasi dari masyarakat. Saya kan tidak hanya melakukan sosialisasi kesehatan reproduksi dan bahaya HIV, juga kesehatan secara umum,” jelasnya.

Istri dari Antonius Tri Santoso itu mengaku biasanya warga yang menghubunginya untuk berkonsultasi melalui handphone adalah para pemuda karang taruna. ”Sebagian besar masyarakat meminta pertolongan darurat untuk langkah awal menangani pasien,” jelasnya.Selain itu, ujar Dian, tak sedikit remaja yang berlatar belakang pelajar mengirimkan SMS (short message service/pesan singkat melalui telepon genggam). Mereka rata-rata menanyakan seputar kesehatan reproduksi.

"Biasa setelah saya melakukan sosialisasi ada beberapa pelajar belum puas. Mereka SMS saya, bertanya tentang kesehatan alat kewanitaan, bahaya seks bebas, dan penyakit HIV. Semua saya berikan arahan dari SMS," paparnya.Selain menerima curahan hari (curhat) tentang kesehatan, Dian juga sering menerima curhat mengenai persoalan keluarga. Menyikapi hal itu, dia berusaha menjadi pendengar yang baik selama warga menyampaikan persoalan keluarga yang dialami.Dia baru memberi arahan setelah warga selesai melontarkan persoalannya. ”Kita memberikan arahan yang baik. Yakni, memberikan jalan tengah, baik untuk pasien maupun keluarganya,” ucapnya.

Dian juga menerima pasien dari kalangan pekerja seks komersial. Mereka lebih antusias untuk mengetahui seputar kesehatan alat kelamin. Apalagi, mereka menyadari rentan terjangkit HIV/ADIS. "Ada mbak-mbak kita (petigas) menyebut mereka (pekerja seks komersial) lebih sadar dan antusias saat ada penyuluhan dari petugas kesehatan di dusun mereka. Ada juga yang curhat masalah keluarga. Saya menerimanya," paparnya. (*/amd)

Sumber: http://www.radarjogja.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7434