Kasus HIV/Aids di Boyolali Meningkat, Satu Meninggal
Tanggal: Wednesday, 20 March 2013
Topik: HIV/AIDS


SoloPos, 19 Maret 2013

BOYOLALI - Kasus HIV/Aids di Kabupaten Boyolali terus meningkat. Tiga bulan pertama 2013 ini, ditemukan tiga kasus baru penderita penyakit tersebut. Satu penderita di antaranya, meninggal dunia.

Data yang dihimpun solopos.com dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali, tercatat ada 25 kasus penderita HIV/Aids yang ditemukan di beberapa kecamatan. Sementara 2012, jumlahnya meningkat 100 persen, yaitu 50 kasus dengan jumlah pasien yang meninggal dunia 11 orang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali, Yulianto Prabowo, saat dimintai konfirmasi Espos, Selasa, membenarkan kejadian tersebut.

“Hingga Maret ini, tercatat ada tiga penderita HIV/Aids yang ditemukan di Teras, Nogosari dan Mojosongo. Satu di antaranya meninggal dunia Minggu (10/3) lalu,” ujar Yulianto, didampingi Kasi Pemberantasan Penyakit Dinkes Boyolali, Edi Siswanto, Selasa.

Edi mengungkapkan penderita HIV/Aids yang meninggal dunia tersebut merupakan warga Mojosongo. Warga tersebut diketahui mengidap penyakit HIVAids saat kembali setelah sebelumnya sempat merantau di Papua.

“Pasien Aids ini merupakan warga asli Kecamatan Mojosongo. Dia diketahui sering merantau ke luar Jawa. Bahkan sebelum diketahui positif Aids, dia baru saja datang sepekan dari Papua,” kata Edi.

Menyikapi peningkatan jumlah kasus HIV/Aids yang terungkap di Boyolali, Edi mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) semakin memberikan perhatian serius. Sejumlah program pun dilaksanakan untuk menangani kasus penyakit tersebut. Selain merestrukturisasi kepengurusan Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Boyolali, Dinkes juga mengerahkan puskesmas-puskesmas yang ada dalam penanganan penderita HIV/Aids, termasuk memonitor setiap wilayah yang diketahui ada orang dengan HIV/Aids (ODHA).

“Dalam penanganan HIV/Aids ini, kami juga melibatkan LSM [lembaga swadaya masyarakat] peduli HIV/Aids dalam pendampingannya. Untuk penanganan orang dengan HIV, dimonitor puskesmas, sedangkan untuk penderita Aids-nya, selain pengobatan, ada pendampingan juga untuk psikologinya,” paparnya.

Edi menambahkan saat ini Dinkes pun gencar melakukan sosialisasi, khususnya untuk mengubah stigma tentang penularan penyakit HIV/Aids di masyarakat. “Sebab masih ada stigma di masyarakat, sehingga jika ada penderita HIV/Aids, mayoritas justru dikucilkan,” terangnya.

Tahun ini, lanjut Edi, Dinkes juga merencanakan pembentukan warga peduli Aids (WPA) di setiap desa di Boyolali. Tahap awal, wpa akan dibentuk di 100 desa terlebih dulu, khususnya di wilayah yang ditemukan kasus HIV/Aids.

“WPA ini nantinya yang menjadi motivator bagi warga lainnya agar mengenal dan peduli dalam penanganan dan penanggulangan kasus penyakit HIV/Aids,” tandasnya.

Sumber: http://www.solopos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7438