Tren Penyebaran HIV/AIDS 50 Tukang Becak Jalani Pemeriksaan Darah
Tanggal: Saturday, 23 March 2013
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 22 Maret 2013

Kediri – Penekanan terhadap penyebaran virus HIV/AIDS sudah dilakukan dengan berbagai cara, termasuk mendeteksi lewat pengambilan darah dari berbagai kalangan. Kali ini pendeteksian lewat pengambilan sampel darah tukang becak, pegawai Stasiun Kereta Api (KA) dan warga. Tren penyebaran virus mematikan di Kota Kediri kali ini pada kaum laki-laki. Dua tahun sebelumnya, di Kabupaten Kediri, kecenderungannya pada ibu-ibu rumah tangga.

Sekretaris Komisi Perlindungan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kediri, Heri Nurdianto, membenarkan jika pihaknya melakukan pengambilan sampel darah pada sekitar lima orang laki-laki, terutama para tukang becak. Selain itu juga para pegawai stasiun KA dan warga sekitar. “Saat ini, tren penyebaran HIV/AIDS pada laki-laki resiko tinggi,” kata Heri, Kamis (21/3).

Tes voluntary counseling and testing (VCT) ini, kata dia, dilakukan KPAD yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri. Setelah terhimpun sekitar 50 tukang becak, ditambah juga pegawai stasiun KA serta warga, kemudian satu persatu ini diambil darahnya untuk dicek di laboratorium. Apakah mereka terjangkiti virus HIV/AIDS maupun penyakit kelamin atau tidak.

Selain menjalani tes urin, para tukang becak juga diberi pembelajaran tentang penyebaran HIV/AIDS dan beberapa resiko atau rawan tertular. Karena itu, Heri meminta mereka untuk berhati-hati agar tidak tertular HIV/AIDS dan selalu setia pada istri. “Karena salah satu resiko tinggi tertular HIV/AIDS itu karena berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan. Kalau hanya buang air kecil di toilet umum, kecil kemungkinan tertular HIV/AIDS,” ujarnya.

Bila hasil test VCT nantinya ditemukan ada yang positif terjangkiti virus HIV/AIDS, tambah dia, maka pihak KPAD akan memberikan konseling, pendampingan serta akan dijaga kerahasian penderitanya. Data di KPAD Kota Kediri, untuk diketahui, jumlah komulatif penderita HIV/AIDS hingga akhir 2013 ini mencapai 241 orang, sebanyak 29 di antaranya meninggal dunia.

Kalau tren peredaran virus HIV/AIDS di Kota Kediri kali ini pada laki-laki, berbeda dengan di Kabupaten Kediri yang terdata pada 2010-2011. Selain dari pekerja seks komersial (PSK), saat itu juga sudah menjarah ibu rumah tangga. Pada pada 2010, ibu rumah tangga yang terjangkiti virus mencapai 16 orang dan pada pada 2009 sebanyak 6 orang. Sementara PSK terungkap dalam kurun yang sama, masing-masing 19 orang.

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten, penderita HIV/AIDS pada ibu rumah tangga ini tergolong cukup tinggi, karena hanya terpaut tiga kasus jika dibandingkan dengan penderita PSK. Kasus yang menimpa ibu rumah tangga ini rata-rata terungkapnya sudah pada terlambat. Kata Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung (P2ML), Nur Munawaroh, selain HIV, ada juga ibu rumah tangga yang sudah ke AIDS. Karena penderita sudah mengindap terlalu lama dan kurang dapat terdeteksi.

“Ya, kalau ibu rumah tangga kan tidak mungkin diperiksa langsung seperti PSK. Karena itu terungkapnya juga lama dan mengindapnya juga sudah lama. Kadang virus itu diketahui dari anaknya yang sakit atau kurang gizi. Setelah diperiksa lebih mendalam dan ternyata ada indikasi, baru orang tuanya diperiksa,” jelas Munawaroh.

Kemudian Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular dan Masalah Kesehatan (P2MMK) Dinkes Kota Kediri, Dwi Sunaryanti, pada 2011 pernah menuturkan jika jumlah penderita HIV/AIDS akan bertambah.

Berdasarkan laporan klinik VCT, Januari 2011 ada satu kasus, Februari dua kasus dan Maret empat kasus. Sasarannya lebih banyak ibu rumah tangga. Banyaknya ibu rumah tangga yang terjangkit HIV/AIDS, diduga karena tertular suaminya yang mungkin sering jajan dan berhubungan seks dengan PSK,” jelas Dwi. gim

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7449