Lokalisasi Ditutup, HIV/AIDS Makin Tak Terkontrol
Tanggal: Thursday, 04 April 2013
Topik: HIV/AIDS


Berita Satu, 02 April 2013

Surabaya - Penutupan sejumlah lokalisasi di wilayah utara Surabaya turut menyebabkan kasus HIV/AIDS di daerah ini tidak terkontrol.

Pekerja seks dan penjaja seks sebagai dua kelompok berisiko sulit diintervensi oleh petugas kesehatan.

Kepala Puskesmas Dupak, Surabaya, dr Nurul Laila mengatakan, ada dua dari empat lokalisasi di Surabaya yang ditutup tahun lalu. Akibatnya, pekerja dan pembeli seks sebagai dua kelompok berisiko tertular maupun menularkan sulit mendapatkan intervensi layanan kesehatan, seperti edukasi, konseling, test dan terapi. Akibat lainnya, diperkirakan mereka bisa menularkan kepada masyarakat luas tanpa disadari.

"Rencananya empat lokalisasi akan ditutup semua tahun ini, yang katanya karena politik. Tetapi apa pun itu ternyata efeknya sangat luas," kata Nurul, di sela-sela kunjungan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi bersama pejabat Kementerian Kesehatan (Kemkes) dan pemerintah daerah (Pemda) setempat, Selasa (2/4).

Kunjungan Menkes ini dalam rangkaian kegiatan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) wilayah tengah di Surabaya selama 1 sampai 3 April.

Menurutnya, keberadaan lokalisasi sebetulnya sangat membantu penanganan HIV/AIDS, karena memudahkan petugas kesehatan untuk menjangkau kelompok berisiko ini dengan berbagai upaya pencegahan maupun pengobatan. Namun, karena ditutup mereka menyebar, dan sulit untuk dijangkau.

Sementara di sisi lain kesadaran orang dengan HIV/AIDS (odha) untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk melanjutkan terapinya masih sangat rendah. Hanya dua atau tiga orang yang datang kembali ke puskesmas, sebab umumnya mereka berpikir pragmatis bahwa HIV/AIDS sulit disembuhkan, dan lambat laun penderitanya meninggal.

Akibatnya, kasus baru HIV/AIDS pun meningkat. Tahun 2012 ditemukan 19 kasus positif HIV dan AIDS, dan di bulan ketiga 2013 sudah ditemukan lima kasus. Empat di antara kasus 2012 adalah ibu hamil, untungnya segera diintervensi sehingga tidak sampai menularkan kepada bayinya.

"Kalau tempat tinggalnya jelas, kami juga mudah untuk memantau prevalensi HIV/AIDS, misalnya pemberian kondom, pemeriksaan rutin, dan terapi kalau positif. Tetapi dengan keadaan begini kita hilang koneksi," katanya.

Untuk menjangkau kelompok berisiko karena heteroseksual ini, Puskesmas Dupak membentuk kader. Tugas kader ini untuk menyosialisasikan tentang bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat, sekaligus mencari dan menemukan kasus baru maupun odha yang putus terapi.

Ketika ditemukan terindikasi ke HIV/AIDS, kader langsung mengantar mereka ke puskesmas. Begitu ketahuan positif melalui test laboratorium, mereka bisa diintervensi langsung di Puskesmas Dupak, sedangkan yang membutuhkan penanganan lanjutan juga langsung direkomendasikan ke rumah sakit terdekat.

Bahkan pasien di luar wilayah pelayanan Puskesmas Dupak yang hanya terdiri dari satu kelurahan dengan 35.000 penduduk ini, pun diterima untuk penanganan HIV/AIDS di puskesmas ini. Terang saja, hampir 60 persen pasien Puskesmas Dupak datang dari luar wilayah pelayanan.

Puskesmas yang berdiri 2010 ini memiliki keunggulan dibanding puskemas lainnya di Surabaya ini, di antaranya layanan jarum suntik, menjadi satelit Antiretroviral (ARV) yakni obat untuk HIV/AIDS di Surabaya, dan pusat pemulihan gizi buruk.

"Gizi buruk dari seluruh puskesmas di surabaya dirujuk ke sini. Pemulihan gizi buruk adalah mmberikan pengertian kepada ibunya bagaimana si anak tidak jatuh lagi ke kondisi awal," ucapnya.

Pusat pemulihan gizi buruk ini juga dilengkapi tes, laboratorium, dan penentuan stadium gizi buruk, serta rapid test. Dengan fasilitas dan layanan seperti ini, anak-anak yang gizi buruk juga ditemukan positif HIV. Setelah diagnosa positif terkena infeksi langsung dirujuk ke rumah sakit.

Nafsiah mengatakan, dari sisi prevalensi rata-rata di Indonesia rendah. Prevelensi kecil dikarenakan penduduknya berjumlah besar.

Namun, indikator yang paling penting dihitung sebagai capaian Millenium Development Goals (MDGs) 2015 adalah infeksi baru. Untuk indikator ini, Indonesia masih sulit mencapai target, dan digolongkan sebagai salah satu indikator pembangunan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah.

"Di semua daerah infeksi baru meningkat, dan tidak ada satu pun kabupaten/kota yang tidak memiliki infeksi baru. Inilah yang buat target kita sulit dicapai," katanya.

Selain infeksi baru, Nafsiah mengungkapkan, pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS tahun 2012 baru mencapai sebesar 21,25 persen. Padahal targetnya adalah 85 persen. Penggunaan kondom pada seks berisiko juga masih rendah sebesar 35,65 persen pada 2012, dibandingkan target pemerintah sebesar 45 persen di tahun yang sama. [D-13]

Sumber: http://www.beritasatu.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7473