Lima Kementerian Kampanyekan Aku Bangga Aku Tahu
Tanggal: Thursday, 04 April 2013
Topik: Narkoba


Metrotvnews.com, 03 April 2013

Jakarta: Lima Kementerian yaitu Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Sosial (Kemensos), dan Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama untuk mengkampanyekan Aku Bangga Aku Tahu.

Kampanye ini merupakan sosialisasi beserta pemahamannya mengenai HIV/AIDS di kalangan anak muda khususnya usia 15 tahun sampai 24 tahun.

Kampanye Aku Bangga Aku Tahu sudah dimulai sejak lama danakan disebarkan ke 33 provinsi. Kelima Kementerian akan berkomitmen menjalankan kampanye ini untuk menghentikan penularan HIV/AIDS. Kampanye ini baru disosialisasikan di lima provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Infeksi tertinggi saat ini di Jawa Timur.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan infeksi baru HIV/AIDS banyak terjadi di kalangan remaja dan anak muda. Penularan HIV/AIDS terbanyak pada usia ini adalah melalui hubungan seks berisiko dan penularan melalui jarum suntik. Hubungan seks berisiko adalah hubungan seks yang berisiko kepada kehamilan dan tertularnya penyakit menular seksual.

"Salah satu indikator MDGs adalah bagaimana menhentikan penularan di kalangan remaja atau usia muda. Pengetahuan komprehensif memegang peranan penting dalam hal ini," terang Menkes dalam diskusi Aku Bangga Aku Tahu di Surabaya pada Rabu (3/4).

Pencegahan di hulu dapat dilakukan melalui pendidikan seperti pendidikan agama, pendidikan moral, pendidikan akademis, pendidikan soal narkotika, pendidikan soal kesehatan.

Kampanye Aku Bangga Aku Tahu diharapkan bisa memberikan bekal bagi remaja dan anak muda dalam bersikap dalam pergaulan sehari-hari. Kampanye ini juga dimaksudkan untuk membangun ketahanan sosial di kalangan generasi muda.

Pengetahuan dan pemahaman yang baik akan menjadi dasar bagi generasi muda dalam menjalankan kehidupannya. Kampanye ini juga memberikan pemahaman jika sudah terkena maka harus sukarela dan berkesadaran untuk menjalani pengobatan dan tidak menularkan kepada orang lain.

Para tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan dan membuka akses informasi seluas-luasnya kepada semua lapisan masyarakat termasuk remaja dan anak muda agar mereka bisa mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Sosialisasi dapat dilakukan melalui media sosial agar lebih cepat menyentuh kalangan tersebut.

"Instansi-instansi di daerah antara Dinas Kesehatan, BKKBN, Pemerintah Daerah, Dinas Keagamaan dan Dinas Pendidikan untuk menjalankan program ini. Sediakan pelayanan dan fasilitas bagi remaja," terang Nafsiah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh mengatakan guru harus memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri dalam menyampaikan pendidikan reproduksi kepada siswa agar siswa memahami dan tidak takut bertanya.

Mantan Rektor ITS ini mengatakan kalau kesehatan dan pendidikan maju maka 70% urusan bangsa Indonesia selesai. "Tidak perlu menggunakan pendekatan dan bahasa yang rumit, pendidikan adalah software dan kesehatan adalah hardware. Keduanya saling berkaitan," tegas M Nuh yang hadir dalam diskusi serupa.

Percuma berbadan sehat tapi tidak diikuti dengan memiliki pendidikan dan pengetahuan yang baik. Sebaliknya percuma saja jika berpendidikan tinggi tapi tidak berbadan sehat. (Vera Erwaty Ismainy)

Sumber: http://www.metrotvnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7481