Penderita HIV/AIDS di Sumut Terus Meningkat
Tanggal: Wednesday, 10 April 2013
Topik: HIV/AIDS


Sumut Pos, 09 April 2013

MEDAN – Kasus HIV/AIDS di Sumatera Utara (Sumut) terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan melalui data yang diperoleh Dinas Kesehatan Sumatera Utara sejak tahun 1994 hingga Maret 2013, jumlah AIDS men capai 2580 orang dan jumlah penderita HIV (+) mencapai 1417 orang, hingga totalnya ada sebanyak 3997.

Hal ini disampaikan oleh Project Global Fund Dinkes Sumut, Andi Ilham Lubis, Senin (8/4). Dikatakannya sampai saat ini kasus HIV/AIDS di Sumut masih cenderung mengalami peningkatan, bahkan sampai tahun maret 2013, pihaknya menemukan sebanyak 6000 kasus di Sumut. Namun, peningkatan tersebut dikatakan bukan karena tidak adanya penanganan dari pihak dinkes Sumut.

“Meningkatnya kasus ini bukan karena tidak ada penanganan dari kami. Bahkan sampai saat ini, kami terus berupaya untuk menemukan kasusnya, karena penyakit ini perjalanannya lama sehingga orang-orang HIV itu harus segera ditemukan untuk menjalani konseling,” ujarnya.

Sementara itu, orang dengan HIV dan AIDS saat ini didominasi oleh usia produktif 19 sampai 40 tahun dan didominasi oleh laki -laki. “Jumlah kumulatif HIV/AIDS menurut jenis kelaminnya didominasi oleh pria, yakni laki-laki sebanyak 2987 dan perempuan sebanyak 1010 orang,” katanya. Untuk faktor risiko penularan HIV/AIDS, lanjutnya didominasi oleh hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik secara bergantian di kalangan pengguna narkotika. “Kalau faktornya yah karena hubungan seksual, narkoba dan penularan ke janin,” katanya.

Menanggapi hal ini, Indah Kumala Sari, Kepala Tata Usaha Konselor di klinik VCT RS Dr Pirngadi Medan mengatakan bahwa khusus di RS Pirngadi untuk Januari hingga Maret 2013 ada sebanyak 300 orang yang datang untuk memeriksakan diri dan dari jumlah tersebut yang positif HIV ada sebanyak 31 orang.

“Kalau di tahun 2013 aja jumlah yang positif sudah ada 31 orang. Dari tahun ke tahun memang masih mengalami peningkatan. Hal ini terjadi karena ku rangnya pendidikan tentang HIV dan AIDS khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan,” katanya.

Lanjutnya, ketika ia melakukan sosialisasi ke daerah bersama beberapa anggota DPRD, ternyata pengetahuan tentang penyakit tersebut sangat minim, hal tersebut terbukti dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat yang dilontarkan kepadanya.

“Saya heran, padahal sosialisasi sudah banyak dilakukan, tapi buktinya ketika saya ikut reses bersama anggota dewan ke pedesaan banyak juga yang belum tahu. Jadi sayapun kaget, bahkan masyarakat yang disitu sudah bisa dibilang kelas menengah,” katanya. Lanjutnya, hal ini juga disebabkan karena adanya ketakutan-ketakutan dari masyarakat. “Kita pernah buat program sistem mobile, kami datang ke lokasi-lokasi, tapi pemilik cafe ketakutan. Padahal kita hanya mau sosialisasi saja. Nah ini karena stigma tadi,” katanya. (mag-13)

Sumber: http://www.hariansumutpos.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7498