Terancam Susah Dapat Obat, Korban Narkoba dan HIV-AIDS Menjerit
Tanggal: Friday, 12 April 2013
Topik: HIV/AIDS


Detik, 10 April 2013

Jakarta, Perundingan perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) antara India dan Uni Eropa yang telah berlangsung sejak tahun 2009 rencananya akan segera ditandatangani pada bulan ini.

Perjanjian ini akan memuat beberapa ketentuan terkait hak paten terhadap obat-obatan esensial seperti obat untuk kanker, diabetes, penyakit jantung, serta AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome).

Hal ini akan berimplikasi kepada pembatasan akses untuk produk generik dan juga membatasi pemasaran obat generik. Pembatasan ini termasuk melakukan penyitaan obat generik dari pelabuhan atau bandara serta memusnahkannya dengan dasar melanggar hak paten yang telah dimiliki oleh perusahaan.

Akibatnya, obat generik yang selama ini di pasaran mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat karena memiliki harga yang murah, dipastikan akan menghilang dan digantikan dengan obat serupa buatan perusahaan farmasi multinasional. Namun obat penggantinya memiliki harga yang jauh lebih mahal dan kemungkinan akan sulit dijangkau.

"Tidak hanya Indonesia yang merasa ini merugikan, tetapi juga negara-negara lain seperti Thailand dan India itu sendiri," ujar Nazarudin Latief, Koordinator Forum Komunikasi Korban Napza (FK2N) kepada detikHealth saat melakukan aksi demo damai di depan kantor perwakilan Uni Eropa, Jakarta, (Rabu 10/4/2013).

Seperti telah diketahui, industri farmasi India telah berkembang selama beberapa tahun ini, salah satu faktornya adalah karena pasar yang sedang bertumbuh seperti Indonesia memainkan peranan yang besar dengan mengimpor bahan baku obat dari India. Peresmian perjanjian ini tentu akan membuat perekonomian India dan Indonesia kian mengalami perubahan cukup drastis.

Aksi demo damai yang dilakukan oleh Forum Komunikasi Korban Napza (FK2N) merupakan salah satu bentuk ketidaksetujuan atas perundingan perjanjian perdagangan bebas ini. Aksi yang dilakukan pada Rabu (10/4/2013) di depan kantor perwakilan Uni Eropa ini mendapat respon positif dari petinggi di Uni Eropa.

"Apa yang diminta oleh masyarakat Indonesia sudah kami respon dengan cara berdiskusi dengan pemerintah Indonesia. Pihak pemerintah Indonesia berencana akan mengupayakan untuk membuat obat sendiri sebagai pengganti obat generik yang selama ini bahan bakunya masih impor," ujar Walter van Hattum, Sekretaris Pertama Bagian Ekonomi dan Perdagangan Uni Eropa kepada detikHealth.

Walaupun sudah ada rencana dari pemerintah Indonesia, namun diharapkan dengan adanya respon positif dari Uni Eropa ini, selanjutnya akan dapat diupayakan agar obat generik tetap ada. Karena selain dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, namun juga memiliki kualitas yang efisien.

Sumber: http://health.detik.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7509