Potensi HIV/AIDS di Nusakambangan Sangat Besar
Tanggal: Friday, 12 April 2013
Topik: HIV/AIDS


Berita Satu, 10 April 2013

Jakarta - Seksolog Baby Jim Aditya menilai semakin banyak narapidana (napi) kasus narkoba yang ditempatkan di Pulau Nusakambangan akan mengakibatkan potensi penularan HIV/AIDS menjadi sangat besar.

"Ini tentu menjadi beban bagi kami, apalagi kalau napi yang dirujuk ke sini (Nusakambangan, red.) sudah terinfeksi karena kami mengalami keterbatasan SDM (sumber daya manusia), anggaran, dan lokasi," kata dia yang juga anggota Badan Pertimbangan Pemasyarakatan (BPP), di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Rabu (10/4).

Baby mengatakan hal itu kepada wartawan di sela-sela kunjungan bersama sejumlah anggota BPP lainnya ke tujuh lembaga pemasyarakatan (lapas) di Pulau Nusakambangan, yakni Lapas Batu, Lapas Besi, Lapas Narkotika, Lapas Kembangkuning, Lapas Permisan, Lapas Pasir Putih, dan Lapas Terbuka.

Kalau terjadi infeksi yang berat, kata dia, pihak lapas mungkin juga tidak mampu merawat napi tersebut.

"Kita lihat, di hampir semua lapas punya napi narkoba yang pastinya itu sangat berat, karena mereka itu seharusnya direhabilitasi, bukan dipenjara, dan perilakunya membuat tidak nyaman, keinginan untuk menyalahgunakan kembali narkoba menjadi sangat besar. Dia juga pasti menularkan perilaku-perilaku yang tidak adaptif kepada orang lain, belum lagi potensi HIV/AIDS-nya," kata dia menambahkan.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa napi Lapas Nusakambangan yang terinfeksi HIV/AIDS idealnya dirawat di lapasnya atau poliklinik di pulau ini, bukan di Ruang Dahlia Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilacap.

Akan tetapi, kata dia, jumlah tenaga medis yang melayani tujuh lapas di Nusakambangan dan satu lapas di Cilacap sangat terbatas.

"Kita hanya punya dua dokter umum, satu dokter gigi, dan empat perawat yang melayani delapan lapas. Padahal di Nusakambangan, ada sekitar 2.000 warga binaan (napi, red.)," katanya.

Dengan demikian, kata dia, jika napi tersebut tidak bisa tertangani oleh dokter lapas, akan dirujuk ke RSUD Cilacap.

Saat ditanya jumlah napi Nusakambangan yang terinfeksi HIV/AIDS, dia mengaku tidak mengetahui secara pasti.

Sementara itu, Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Tengah Suwarso mengharapkan kehadiran anggota BPP ke Nusakambangan dapat memberi masukkan kepada Pemerintah Pusat untuk menghidupkan kembali rumah sakit di pulau ini.

"Kalau melihat sejarah, dulu di Nusakambangan ada rumah sakit, sekarang malah tidak ada rumah sakitnya. Kita harapkan, kedatangan anggota BPP ini bisa memberi masukkan kepada pemerintah agar rumah sakit itu ada kembali," katanya.

Sumber: http://www.beritasatu.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7510