HIV dan AIDS Masalah Kita Semua
Tanggal: Sunday, 14 April 2013
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 13 April 2013

Siapakah sesungguhnya yang paling bertanggung jawab terhadap upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit HIV dan AIDS? Pertanyaan ini umumnya sering dilontarkan oleh beberapa kalangan yang belum sepenuhnya memahami apa itu HIV dan AIDS. Sampai ada pihak yang bertanya: ''Lho siapa disuruh serius menanggulangi, ini kan tugasnya dia sendiri''.

Sebenarnya informasi tentang penyakit HIV dan AIDS telah cukup banyak disebarluaskan, namun pemahaman masalah HIV dan AIDS oleh kebanyakan masyarakat kita masih jauh dari harapan. Tidak peduli masyarakat biasa, para tokoh pun ada yang memiliki pemahaman yang tidak lengkap dan keliru.

Sering disertai sikap tak acuh, menganggap enteng atau penyangkalan. Banyak yang masih berpikir masalah ini hanya berkaitan dengan aspek kesehatan belaka. Padahal dampaknya sangat luas, meliputi bidang medis, psikologis, sosial, ekonomi, politik dan spiritual.

Sampai saat ini tidak ada jenis penyakit yang demikian luas pengaruhnya, kecuali HIV dan AIDS. Keterbatasan wawasan akan menyebabkan upaya penanggulangan dan pencegahan yang dilakukan banyak yang mengalami hambatan.

Orang dengan HIV dan AIDS atau ODHA menanggung beban berat dan berlipat-lipat. Tidak saja karena masalah biologis penyakit yaitu adanya intervensi virus ke dalam tubuh, tetapi juga beban psikologis akibat stigma dan diskriminasi. Di masyarakat kita masih dijumpai adanya kecenderungan menolak keberadan ODHA.

Bahkan sesudah meninggal pun masih dijadikan masalah. Segera sesudah satu anggota keluarga terkena, semua orang di dalamnya menjadi menderita, malu, atau kehilangan muka. Hubungan dalam rumah tangga rusak dan relasi antarkeluarga pun jadi kacau karena perasaan takut, cemas, ragu-ragu bahkan marah, benci dan caci maki.

Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan. Generasi anak yatim memiliki risiko lebih tinggi lagi terhadap pelecehan, penyingkiran dan cap buruk. Kerja paksa, diskriminasi dalam mencari nafkah atau kekerasan dan akhirnya jatuh ke gizi buruk. Puluhan juta di seluruh dunia telah menjadi yatim akibat HIV dan AIDS dan sebagian besar mengalami derita fisik dan batin yang berat.

Stigma atau cap buruk itu kemudian diperparah lagi oleh anggapan bahwa HIV dan AIDS mengancam kehidupan, HIV dan AIDS selalu dikaitkan dengan perilaku, seperti homoseks, narkoba suntik atau PSK yang sudah terstigma di banyak kalangan.

Sekarang ini terjadi kecenderungan meningkatnya kasus lewat hubungan seks berisiko dan infeksi menular seksual yang muncul selalu memiliki stigma yang tinggi. Tidak semua orang mengetahui dengan akurat bagaimana HIV menular dan bagaimana dia tidak bisa menular. Sementara itu, infeksi HIV masih dipikirkan sebagai buah dari kepribadian yang tidak bertanggung jawab. Keyakinan moral dan religius percaya terinfeksi HIV adalah akibat kesalahan moral seperti perselingkuhan atau seks menyimpang yang memang pantas dihukum.

Akibat stigma dan diskriminasi inilah ODHA tidak punya peluang untuk bekerja, kehilangan pendapatan, sulit menikah atau memelihara anak, kerap ditolak dalam pelayanan kesehatan atau perawatan di rumah, punahnya harapan, harga diri dan reputasi.

Mereka yang mengetahui dirinya mengidap HIV, menjadi semakin sulit terbuka. Ketertutupan ini membuat penyebaran HIV tidak mudah dideteksi dan ditanggulangi. Jadi tidak mengherankan jika penyakit infeksi HIV dan AIDS tetap saja terjadi, bahkan jumlahnya cenderung semakin meningkat.

Peningkatan jumlah kasus tidak lagi hanya masalah virus dan tubuh manusia yang menyangkut kesehatan saja, tetapi akibat kurangnya wawasan dan kekeliruan cara pandang terhadap kejadian penyakit HIV dan AIDS.

Pendekatan

Kurangnya wawasan dan kekeliruan cara pandang berdampak pada cara pendekatan yang salah dan akhirnya bermuara pada penyimpangan program dan kegiatan pencegahan penanggulangan. Akibatnya adalah hasil yang diharapkan juga menjadi melenceng dan sulit dicapai.

Energi yang terbuang sia-sia dapat dicegah dengan memberikan prioritas pada pemberian pemahaman yang baik dan benar tentang HIV dan AIDS kepada para pihak. Untuk itu diperlukan program dari hulu sampai hilir seperti promotif, preventif, kuratif sampai rehabilitatif. Program mesti bersifat komprehensif atau menyeluruh, terintegrasi dan simultan serius dan berkesinambungan.

Pendekatannya tidak lagi hanya medis-psiklogis atau medis psikiatris tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial antropologis, disesuaikan dengan lingkungan masyarakat termasuk norma, hukum, agama dan sosio budaya setempat. Pendekatan ini mengisyaratkan keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak termasuk para tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, tokoh politik dan pemerintahan. Dengan demikian diharapkan tidak akan ada lagi stigma dan diskriminasi terhadap ODHA.

Penulis, Koordinator Kelompok Kerja Promosi Pencegahan dan Hubungan Masyarakat KPA Provinsi Bali dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Sumber
: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7523