Ekonomi meningkat, jumlah pelacur di Bekasi bertambah
Tanggal: Monday, 15 April 2013
Topik: Narkoba


Merdeka, 15 April 2013

Meningkatnya perekonomian di Kota Bekasi setiap tahunnya mengakibatkan jumlah pekerja seks komersial (PSK) terus mengalami peningkatan. Akibatnya, jumlah penderita penderita HIV/AIDS ikut bertambah.

LSM Mitra Sehati mencatat jumlah PSK di Kota Bekasi mencapai 2.500 orang. Jumlah ini diketahui dari hasil survei yang dilakukan LSM Mitra Sehati, International Labour Organization (ILO) dan Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal tahun 2013 lalu.

Direktur LSM Mitra Sehati, Hazami mengatakan, jumlah tersebut meningkat tajam jika dibanding dengan hasil survei lima tahun yakni 1.500 orang. Ironisnya, dari jumlah PSK saat ini, 30 persen di antaranya masih di bawah usia 19 tahun.

"Di bawah umur antara usia 14-19 tahun," katanya, Minggu (14/4).

Menurutnya, PSK di Kota Bekasi terbagi menjadi dua kelompok. Mereka ada yang langsung menjajakan diri di jalan atau di tempat prostitusi, ada juga yang secara tidak langsung tersebar di tempat karaoke, kafe, diskotek, maupun di tempat panti pijat yang sengaja menyediakan jasa seks.

"70 Persen para PSK di Kota Bekasi bukan warga pribumi, mereka adalah pendatang dari luar daerah," katanya.

"Meningkatnya jumlah PSK ini karena faktor perekonomian di Kota Bekasi yang meningkat dan juga karena kebutuhan ekonomi pelaku sendiri yang meningkat, sehingga mereka terpaksa melakukannya demi mencukupi kebutuhan," katanya.

Pihaknya mencatat sedikitnya ada 7 hingga 12 titik penyebaran praktik pelacuran di Kota Bekasi. Di antaranya; di sepanjang Jalan AH Yani Bekasi Selatan, sekitar Jalan Ir Djuanda mulai dari Stasiun Bekasi sampai ke lapangan Multiguna Bekasi Timur.

Lokasi lainnya ada di daerah Lapangan Multiguna, Terminal Bekasi atau dikenal dengan gang 'sempak', hingga ke daerah Ruko Ampera. Tempat lainnya ada di sekitar Rawapanjang-Pekayon.

Di sepanjang Jalan Bantargebang-Mustikasari dan Jl KH Noer Ali. Serta di Jatikarya, Jatisampurna yang banyak dipenuhi kafe dan warung remang-remang.

"Memang mengakunya hanya menemani minum saja, namun tidak menutup kemungkinan juga dijadikan praktik prostitusi terselubung," jelasnya.

Dia mengatakan, untuk PSK di bawah umur diduga merupakan korban trafficking atau memang sengaja menjadi PKS karena terpengaruh gaya hidup mewah.

"Ada juga yang sengaja karena tidak ada lapangan pekerjaan, sebab mereka ini masih berusia produktif," jelasnya.

Menurutnya, untuk PSK yang diduga terpengaruh gaya hidup mewah rata-rata masih berstatus pelajar. Mereka termotivasi untuk memperoleh sesuatu yang berharga dengan cara instan.

"Mereka ini masih pelajar SMP-mahasiswi," tambahnya.

Akibat dari bertambahnya jumlah PSK, pihaknya mencatat 468 warga Kota Bekasi terjangkit virus HIV/AIDS. Ironisnya, 14 orang di antaranya masih balita.

"Sedikitnya 2.000 kondom terdistribusikan untuk mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Pasalnya, penderita HIV/AIDS di Kota Bekasi dalam setiap tahunnya mengalami peningkatan," tandasnya.

Sumber: http://www.merdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=7528